Langsung ke konten utama

Postingan

IBU KANTORAN VS IBU RUMAH TANGGA?

Entah kenapa isu ini kembali menyeruak dalam kehidupan saya. Padahal saya sudah lama berhenti jadi ibu kantoran. Ibu kantoran? Yup, saya lebih suka mengguankan terminologi "ibu kantoran" dibanding "ibu bekerja", karena bagi saya, ibu yang di rumah pun seyogyanya juga bekerja, hanya beda ranah saja.
Kembali lagi ke topik ibu kantoran vs ibu rumah tangga, belakangan banyak yang bertanya pada saya enakan mana sih, jadi ibu rumah tangga atau ibu kantoran. Kalau bagi saya, dua-duanya sama-sama enak,hehe. Kalau begitu, kenapa enggak jadi ibu kantoran saja, kan merasakan dua-duanya? Sebelum dijawab, saya coba paparkan, ya, apa yang saya rasakan ketika jadi ibu kantoran dan ibu rumah tangga.
Ibu Kantoran: Ibu Gemilang, Namun Penuh Kegalauan Saya pertama kali bekerja sekitar tahun 2010 dan resign di tahun 2017. Kalau dihitung-hitung masa kantoran saya sangat singkat, hanya tujuh tahun. Dari tujuh tahun tersebut, hanya satu setengah tahun saya jalani peran sebagai ibu kanto…
Postingan terbaru

MEMBUAT KONFLIK ANANDA MENJADI KONSTRUKTIF

Pusing enggak sih melihat anak berantem melulu? Rebutan mainan, perang mulut buat nentuin siapa yang berperan jadi apa bahkan berantem cuma karena rebutan pingin duduk dimana? Pertengkaran diantara buah hati memang kerap terjadi. Untuk Moms yang punya anak lebih dari satu, pasti paham banget deh gimana hal-hal kecil bisa memicu pertengkaran antar mereka.
Kalau melihat anak-anak bertengkar rasanya kita ingin langsung turun tangan, iya enggak? Selain pusing karena mendengar keributan, dalam hati kecil Anda mungkin terbersit ketakutan bahwa konflik antara anak-anak Moms akan bertahan hingga mereka dewasa. 
Sudah deh... main sendiri-sendiri saja. Dari pada main sama-sama ujungnya berantem.
Kalimat tersebut sering jadi kalimat pamungkas bagi saya untuk membuat anak-anak berhenti berantem.
Baca juga:CARA BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK YANG KRITIS Enggak Semua Konflik Itu Buruk
Meski ada batasnya, berantem di antara saudara itu enggak selalu negatif. Terkadang, anak perlu belajar untuk keluar da…

MELAKUKAN RITUAL PENGANTAR TIDUR YANG ASYIK BERSAMA LETS READ, BANTU MEMANTIK MINAT BACA ANAK

"Ummi... malam ini aku mau baca yang ini," ujar si sulung sambil setengah mengantuk. "Jiah mau nyang inyi, Ami," dengan sedikit cadel, giliran si tengah yang request buku kesukaannya.
Membaca buku memang sudah jadi kebiasaan kami menjelang tidur. Kakak dan adik selalu minta dibacakan buku cerita. Diawali dengan berdoa lalu dilanjutkan dengan masing-masing memilih buku yang ingin dibacakan. Nyaris tiada waktu menjelang tidur yang terlewat tanpa membaca buku. Sejak awal, saya memang berusaha menumbuhkan minat baca anak saya, karena saya ingin mereka mencintai buku dan kegiatan membaca seperti saya.
Awalnya, saya hanya membacakan satu buku untuk berdua. Lama kelamaan, keduanya punya buku favorit masing-masing. Jadilah, paling tidak, saya akan membacakan minimal dua buah buku sebelum mereka tidur. Saya cukup lega, karena sejauh ini minat baca anak saya sangat baik. Walau keduanya belum bisa membaca, terkadang disela waktu bermain, mereka terlihat "membaca" buk…

DRAMA ART: DILEMA ANTARA PEGAL BADAN DAN PEGAL HATI

Dulu, ketika saya memutuskan untuk resign, bayangan tentang menjadi ibu rumah tangga ideal sudah terasa di depan mata. Membayangkan waktu-waktu produktif yang saya habiskan bersama buah hati dengan bermain dan belajar sepanjang hari, juga rumah kinclong yang rapi jali.
Di otak saya sudah berseliweran semacam kurikulum bermain yang akan saya persiapkan untuk si kakak. Yakin kehidupan saya dan kakak akan sangat berbeda dari sebelumnya. Kami akan menghabiskan banyak waktu berdua sambil menunggu abinya pulang. Sesulit apa sih? Dengan pengalaman meng-handle anak usia dini dan latar belakang pendidikan saya, tentu itu hal yang mudah (sambil hidung kembang kempis karena jumawa). 
Lalu, anak demi anak pun hadir. Semua yang awalnya terhandle sendiri tanpa asisten mulai keteteran. Boro-boro menyiapkan alat permainan untuk anak-anak. Cucian piring dan setrikaan tidak menggunung sudah syukur. Apa saya tergoda untuk pakai asisten? Tentu tidak! Masa begitu saja saya sudah menyerah. Saya yakin masi…

10 CARA MENEBAR KEBAIKAN RAMADHAN SAAT PANDEMI COVID-19

Ramadhan kali ini memang jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, saat bulan puasa, waktu sore kami gunakan untuk bermain di luar rumah sambil menunggu berbuka. Kini, anak-anak harus cukup puas hanya dengan bermain di teras. Waktu ngabuburit yang digunakan untuk bercengkrama dengan tetangga, sekadar menanyakan kabar atau bertukar hidangan buka puasa sekarang tidak lagi ada. Kondisi kali ini memaksa kita semua untuk menjaga jarak. Rasanya terkadang saya ingin memberikan sedikit kelonggaran pada anak-anak untuk bermain di luar rumah bersama teman-temannya. Saya pun rindu suasana ramainya jalan komplek di sore hari. Namun, membayangkan risiko yang mungkin terjadi, saya sungguh tak berani.
Apalagi ketika Ramadhan tiba. Saya harus cari cara menghidupkan suasana bulan suci ini di tengah anak-anak. Sejujurnya, saya merasa kesulitan. Bagaimana tidak? Ramadhan kali ini tak ada shalat tarawih di masjid dan tak ada kemeriahan lomba Ramadhan serta tidak ada aktivitas kajian di masjid…

PUASA SAAT MENYUSUI, WHY NOT?

Ramadhan sudah setengah perjalanan. Bagaimana nih ibadah Moms di bulan suci ini?
Suasana di bulan Ramadhan itu memang kondusif banget untuk melakukan ritual agama. Apalagi dalam hal berpuasa, beda banget kan rasanya saat puasa bersama-sama dengan puasa sendirian saja (meski pahalanya tetap dihitung sendiri-sendiri yah....🤭). Namun, untuk para ibu hamil dan menyusui, puasa bisa saja ditangguhkan dan digantin di hari lain. Jika memang dirasa bisa mengganggu kesehatan ibu dan bayi jika tetap berpuasa. Saya sendiri sejak hamil anak pertama enggak puasa di bulan Ramadhan. Beberapa kali mencoba, rupanya fisik saya dan dedek bayi kurang mendukung. Akan tetapi, tahun ini saya ingin deh mencoba puasa saat menyusui.
Awalnya, saya hanya ingin belajar puasa lagi setelah sekian lama enggak terbiasa puasa sebulan penuh. Karena praktis hampir lima tahun saya enggak menikmati puasa di bulan Ramadhan. Saat hari pertama, saya coba mulai berpuasa tapi enggak ingin memaksakan diri karena memang sedang …

TIPS TETAP HAPPY DI TENGAH PANDEMI

Semua orang tentu setuju bahwa kondisi pandemi corona saat ini mengubah hidup banyak orang. Dampaknya bukan cuma kebosanan karena enggak bisa keluar rumah, banyak orang bahkan sampai kehilangan pekerjaan. Semua orang berusaha bertahan di tengah kondisi yang enggak pasti ini. Enggak usah jauh-jauh, tetangga saya yang pedagang di salah satu mall, curhat kini sudah enggak lagi berpenghasilan. Alhamdulillah kondisi saya masih jauh lebih baik.
Kondisi seperti ini rentan membuat orang stres, tanpa terkecuali saya. Kalau dipikir-pikir, stres yang saya alami enggak seberapa dibanding orang-orang yang harus kehilangan pekerjaan. Meski praktis dalam hampir 2 bulan ini saya enggak pernah menjejakan kaki di luar pagar rumah. Mau jalan-jalan keliling komplek pun harus mikir berkali-kali, karena kalau bepergian, saya harus sepaket sama bayi dan 2 balita yang rentan tertular virus.
PENTINGNYA TETAP "WARAS" DI TENGAH PANDEMI
Seperti yang telah kita tahu covid-19 alias corona menyebar denga…