Langsung ke konten utama

AGAR ANAK MANDIRI DAN BERDAYA

Kadang saya membayangkan, apa yang akan dihadapi oleh anak-anak saya kelak di masa depan. Melihat era sekarang saja sudah penuh dengan persaingan, dimana dibutuhkan pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah dan memiliki kemampuan. Mungkin kelak apa yang akan dihadapi oleh anak-anak saya akan lebih ketat lagi. 
Sebagai orang tua, hal yang dapat saya lakukan adalah membekali anak-anak saya untuk menghadapi dunianya kelak. Selama ini, saya dan suami berusaha untuk menjadi orang tua yang "berada di tengah", maksudnya memberikan ruang kebebasan untuk anak kami bereksplorasi namun tetap memberikan pengarahan dan pendampingan sesuai dengan usianya. Tujuannya agar anak kami bisa belajar dari lingkungannya dan mengembangkan kemandirian serta menjadi manusia yang berdaya di masa depan. 
Namun perlu diingat bahwa ketika kita memberikan kebebasan bereksplorasi, kita juga perlu mengembangkan aspek lainnya, yaitu nilai-nilai kehidupan. Hal ini sebagai bekal mereka di masa depan agar mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk. Dengan demikian, kelak mereka dapat menjadi pribadi berakhlak mulia yang mewarnai, bukan diwarnai oleh lingkungannya. Cara terbaik untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan adalah melalui teladan orang tua. Itulah kenapa, saya pikir ini adalah bagian tersulit bagi kami. Karena untuk mengajarkan anak hal baik, kita tentu perlu menjadi baik dulu kan moms. 

"Anak meniru apa yang orang tua lakukan, bukan apa yang orang tua katakan"(anonim) 

Untuk membangun kepribadian anak yang mandiri dan berdaya, tentu kita perlu membangun pondasinya terlebih dahulu. Pondasi tersebut adalah harga diri. Anak harus merasa bahwa dirinya berharga, sebelum ia mengharapkan penghargaan dari orang lain. Sehingga kelak ia tidak akan mudah berkecil hati dan putus asa hanya karena orang lain tidak memberikan penghargaan sesuai dengan harapannya. Cara yang dapat dilakukan untuk membangun harga diri anak adalah dengan memberikan ruang untuk belajar kepada anak. Hal tersebut sering kami lakukan kepada anak kami, misalnya dengan membiarkan anak untuk makan atau pakai baju sendiri, meskipun hasilnya mungkin tidak sempurna yang terpenting anak merasakan proses belajar tersebut atau dengan memberikan tugas sesuai dengan usianya. Misalnya saya minta bantuan anak saya untuk mencabuti daun bayam saat masak atau meminta tolong diambilkan air untuk minum. Jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada anak. Agar ia merasa bahwa bantuannya dihargai. Dengan memberi ruang kemandirian dan sesekali meminta bantuan kepada anak akan menumbuhkan perasaan berdaya dalam dirinya karena ia mampu untuk mengerjakan sesuatu sendiri bahkan membantu orang lain. Memberikan pujian juga menjadi hal yang dapat dilakukan untuk membangun harga diri anak. Namun perlu diingat bahwa memberikan pujian haruslah sesuai dengan porsi dan berimbang. Terlalu sering memberikan pujian menjadikan pujian tersebut terasa tidak bermakna dan tidak spesial, namun apabila pujian jarang diberikan, hal tersebut juga dapat menjadikan anak merasa kecil dan tidak berharga. Pujilah anak untuk hal-hal yang mendorong kemampuannya. Misalnya ketika anak berhasil memakai sepatu sendiri, pujilah anak karena keberhasilannya. Jangan terlalu sering memberikan pujian untuk hal-hal yang sifatnya sudah bawaan, seperti memuji anak cantik atau ganteng.

"Kita ingin anak menjadi manusia yang berdaya suatu saat nanti. Dia akan dapat menjadi manusia berdaya, jika dia memiliki definisi yang benar akan harga dirinya. Definisi yang benar akan kompetensinya. Definisi yang benar akan dimana kelebihannya,  dimana letak kelemahannya dan bagaimana dia dapat mengembangkan dirinya lebih jauh.  Semua itu datang dari bagaimana kita,  sebagai orang tua, mendidik, memuji dan mengkritisi mereka" (Adhitya Mulia-Penulis) 

Untuk membentuk anak yang mandiri dan berdaya, selain membangun harga dirinya,  anak juga perlu dibekali dengan keterampilan-keterampilan kehidupan. Mulai dari yang sifatnya teknis,  seperti makan, pakai baju, memakai sepatu sendiri sampai dengan yang sifatnya softskill seperti memecahkan masalah dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan dan tindakannya. Untuk kemampuan yang sifatnya teknis, bantulah anak belajar dengan mengkondisikan lingkungan anak. Misalnya dengan menyediakan tangga khusus agar anak bisa mencuci tangan sendiri di wastafel, menyediakan alat makan dari plastik agar anak dapat mengambil makanan dan makan sendiri atau sediakan kotak khusus agar anak bisa merapikan mainannya sendiri. 
Berikut ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang dapat ditugaskan kepada anak,  sesuai dengan usianya:


Sedangkan untuk membentuk kemandirian anak dari segi softskill, kita dapat melatih anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri sesuai dengan usianya. Jangan langsung turun tangan apabila anak menemui kesulitan. Misalnya untuk anak saya yang berusia 2 tahun, ia terkadang kesulitan untuk membuka toples biskuit, saya biasanya tidak langsung membantu anak dengan membukakan toples tersebut, tapi saya minta anak untuk mencoba dengan cara lain seperti dipegang dengan 2 tangan atau saya bantu memegang toplesnya tapi tetap anak saya yang mencoba membuka tutupnya. Selain kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, memiliki tanggung jawab juga merupakan skill yang penting diajarkan kepada anak. Misalnya dengan mengajarkan anak merapikan bekas makan atau bekas mainnya sendiri. Meskipun kita ikut membantu merapikan, namun pastikan bahwa anak ikut serta. Cara lain yang biasanya saya lakukan adalah dengan memberikan ruang bagi anak untuk memilih Misalnya ketika selesai mandi, anak dipersilahkan untuk memilih baju yang ia pakai atau anak ditanya mau makan apa hari ini. Dengan demikian anak terlatih dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap keputusannya tersebut. 

Kemandirian anak akan sulit terbentuk,  apabila orang tua tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mengembangkan kemampuannya. Terkadang karena kekhawatiran, kita mudah melarang ini dan itu. Padahal setiap anak memiliki potensi untuk mandiri dan berkembang. Kita sebagai orang tua bertugas untuk memberi ruang dan arahan. Agar anak-anak kita menjadi pribadi mandiri yang berdaya sehingga mereka kelak mampu menjalani kehidupannya meskipun kita sudah tidak bisa mendampinginya. 

Sumber:
Mulya, Adhitya.2016. Parenting's Stories: Membesarkan anak yang berdaya. Panda Media

The Bub Hub:  Chores for Kids by Age

Sumber Gambar:
Heysigmund.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?