Langsung ke konten utama

BANYAK ATAU SEDIKIT ANAK?


Suatu hari disebuah perhelatan keluarga.. 

"Anakmu berapa? ", tanya seorang kerabat senior
"1 tante, Insya Allah mau 2"
"Anakmu yang mana to? ", saya pun menunjuk kakak yang waktu itu usianya belum genap 2 tahun. 
"Oalah.. Abis ini udah aja ya.. Repot ngurusnya. Anak sedikit atau anak banyak, nanti jg kalo udah gede pada pergi semua. Mending 2 aja biar enggak repot". Saya pun cuma bisa nyengir. Ditengah ketidaksetujuan saya,  saya toh tetap perlu menjaga sopan santun. 

Mengurus dua anak tentu lebih repot dari mengurus 1 anak, apalagi mengurus 3,4 dan seterusnya anak. Bagi seorang ibu, mengurus dan mendidik anak butuh kewarasan. Tentu saja, semakin banyak anak, semakin butuh lebih banyak stok kewarasan. Hal ini sangat penting, karena ketika moms merasa bahagia tentu moms bisa menjalankan peran sebagai ibu dengan lebih optimal. Mengurus anak pun jadi lebih sabar dan anak-anak pun lebih bahagia. 

Saya pribadi termasuk ibu yang memiliki keinginan untuk punya anak banyak. Motivasinya, tentu saja karena tuntunan Islam yang mengatakan bahwa Rasulullah akan membanggakan ummatnya yang banyak. Selain itu juga karena saya terbiasa berada dalam keluarga besar. Rasanya menyenangkan sekali bisa berkumpul ramai-ramai ketika acara keluarga. Namun memiliki anak banyak tentu bukan perkara yang sepele. Bukan hanya dibutuhkan keinginan dan keberanian, tapi tentu kita sebagai orang tua perlu menakar diri pula. Sejak kelahiran anak pertama, saya dan suami sepakat tidak menggunakan alat kontrasepsi, tapi kami berdua saat itu sama-sama menjaga,  sebagai bentuk ikhtiar agar saya tidak hamil dulu. Saat itu kami merasa secara mental kami belum siap memiliki 2 anak. Setelah anak kami menginjak usia 1 tahun 8 bulan, kami baru mulai berikhtiar untuk memiliki anak kedua dan alhamdulillah hanya berselang 1 bulan saya pun kembali hamil. 

Saya berkeyakinan bahwa setiap anak yang diamanahkan oleh Allah pada orang tua, pasti sudah dibekali oleh Allah rezekinya. Maka orang tua tidak perlu was-was ketika dikarunia anak lagi. Tentang banyak sedikit anak yang nantinya juga akan meninggalkan rumah, menurut saya cukuplah kita berikhtiar mendidik mereka sebaik-baiknya dengan ikhlas. Saya yakin setiap anak memiliki nilai kelak di akhirat. Tak perlu menuntut mereka kelak untuk berbakti, karena jika kita mendidik mereka dengan akhlak yang baik dan menerapkan birulwalidain,  Insya Allah mereka akan berbakti tanpa diminta. Tak perlu menuntut cinta dan perhatian  dari mereka kelak, karena dengan cinta dan kasih sayang tak terbatas yang kita berikan sepanjang hidup anak-anak kita, akan menuntun mereka untuk kembali pulang, sejauh apa pun perantauan mereka. Jika tak fisik, minimal terselip rasa rindu dan doa untuk orang tuanya disetiap sholat mereka. Karena bukan mereka,  anak-anak kita,  yang akan membalas setiap peluh, waktu, tenaga, perhatian dan entah apa lagi yang dikorbankan untuk anak-anak kita. Tapi Ia,  Sang Pemberi Amanah, yg cinta dan kasihNya tak terbatas untuk kita, para orang tua. Memang ini bukan tentang kuantitas,  tapi bagaimana menumbuhkan generasi yang memiliki kualitas tak hanya duniawi tapi untuk bekal kehidupan nanti. Tapi tentu banyak dan berkualitas lebih baik daripada sedikit dan 
berkualitas, hehe. 

Selain kesiapan mental, sebagai orang tua kita pun perlu senantiasa mempertajam ilmu baik itu ilmu agama, parenting maupun ilmu lainnya. Bagi saya yang mobilitasnya sangat terbatas, membaca buku dan mengikuti training dan seminar online betul-betul sangat membantu menambah ilmu saya. Menjalin komunikasi dan bertanya pada orang yang memiliki ilmu yang lebih mumpuni juga menjadi andalan saya untuk menambah informasi. Paling tidak itu jadi upaya kita untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi hari demi hari. 

Jadi, lebih baik anak banyak atau anak sedikit? Itu kembali lagi pada pilihan hidup moms dan suami. Hal yang terpenting adalah kalau memang amanah itu sudah datang, misalnya moms hamil padahal belum merencanakan punya anak lagi, terimalah dengan penuh kebahagiaan. Tidak perlu was-was akan rezeki. Apalagi menyesali kehadiran janin di dalam kandungan moms. Syukuri dan serahkan semua pada Allah. Seorang mantan kolega saya di kantor pernah mengatakan pada saya, "Jika kita saja yang menitipkan anak ke orang tua atau ART memberikan bekal atau "sangu" ke mereka, apalagi kalau Allah Yang Maha Kaya, yang menitipkan anak-anak itu kepada kita"

Stop worrying and do happy parenting.. 😊

Photo resource: Pinterest

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?