Langsung ke konten utama

MENGHADAPI SI "TERRIBLE TWO"


Moms yang punya anak usia 2-3 tahun, ayo tunjuk tangan! Pernah tidak moms merasa susah banget rasanya menyuruh anak untuk mandi, untuk makan bahkan untuk sekedar diam sebentar saja. Apalagi sekarang si kecil sudah punya keinginan sendiri, susah dilarang tapi masih sering minta bantuan ini dan itu. Selamat datang di fase "terrible two", fase dimana si kecil mulai menghadapi peralihan perasaan antara menjadi dewasa dan ketergantungan terhadap orang dewasa.
Fase ini merupaka fase yang wajar terjadi pada anak usia 2-3 tahun. Karena memasuki usia 2 tahun, si kecil mulai mengalami perubahan dalam dirinya. Perubahan tersebut misalnya meningkatnya rasa kesadaran diri, perkembangan motorik yang semakin mapan dan pemahaman bahasa yang semakin meningkat. Saya pribadi sering dibuat terkejut dengan perkembangan anak saya terutama dari segi bahasa. Tiba-tiba bisa bercerita apa yang dia alami sebelumnya atau melontarkan kalimat diluar dugaan saya. 
Diusia 2 tahun,  si kecil juga mulai mengembangkan perasaan sebagai "aku". Si kecil mulai memiliki pilihan-pilihan sendiri, ini yang sering kali salah ditangkap orang tua sebagai perilaku sulit diatur. Pada usia ini juga muncul keinginan untuk mandiri pada si kecil, namun karena kapasitas yang masih terbatas, si kecil sering kali merasa tidak aman dan membutuhkan bantuan orang dewasa. Dari situlah biasanya muncul konflik. Karena si kecil merasa orang dewasa tidak memahami kondisi mereka, si kecil cenderung menunjukan perilaku-perilaku yang kurang baik, misalnya berteriak, tantrum atau bahkan memukul. 

Lalu bagaimana menanamkan disiplin pada anak yang sedang memasuki fase "terrible two"? 

Hal yang paling mendasar adalah orang tua perlu memahami kondisi anak terlebih dahulu. Ketika si kecil berteriak tidak ingin didekati moms, bisa jadi si kecil menyimpan pesan kalau dirinya justru butuh perhatian moms. Tanyakan perasaan-perasaannya, itu akan membantu moms untuk mengembangkan rasa empatik terhadap anak dan membantu moms untuk lebih memahami kondisi si kecil yang sebenarnya. Ketika anak saya menangis,  hal pertama yang saya tanyakan kepada anak saya adalah "kenapa kakak menangis? " atau "apa yang membuat kakak sedih?", biasanya anak saya akan menceritakan alasan dia menangis. Dari situ saya baru memutuskan respon apa yang akan saya sampaikan kepada anak saya. Hal ini pun berlaku ketika anak saya menujukan perilaku yang tidak seharusnya, misalnya melempar barang atau mencorat-coret tembok. Saya berusaha untuk tidak bersikap reaktif terhadap perilaku seperti ini. Minta penjelasannya kenapa si kecil berbuat demikian. Karena saya yakin tidak ada anak usia tersebut yang memiliki niat jahat, mereka hanya belum dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Akan tetapi, sebagai orang tua kita tetap harus bersikap konsisten, ketika anak menunjukan perilaku yang tidak seharusnya, maka kita harus meluruskannya. Jelaskan kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan dan bagaimana seharusnya. Sebelumnya minta si kecil untuk minta maaf atas perilakunya, tentunya dengan cara yang halus ya moms. Jangan lupa juga untuk memberikan pujian saat si kecil menunjukan perilaku yang positif, hal ini untuk menguatkan pemahamannya bahwa perilaku yang baik akan diapresiasi sedangkan yang buruk tidak boleh dilakukan. 
Memasuki usia 2 tahun,  energi si kecil juga semakin besar. Wajar saja kalau si kecil tampak tidak bisa diam dan sulit untuk diminta tenang. Dengan demikian, si kecil butuh pengalihan energi. Ajak si kecil untuk melakukan aktifitas atau permainan yang ia sukai. Misalnya anak saya yang lebih suka melakukan aktifitas fisik seperti bermain kejar-kejaran, naik sepeda atau melompat-lompat, saya biasanya memberi waktu khusus untuk anak saya bermain permainan seperti itu. Sehingga ketika waktunya ia untuk lebih tenang, misalnya saat malam hari atau mendekati waktu tidur, energinya sudah tersalurkan karena ia sudah puas bermain. 
Diusia ini, si kecil juga mulai mengembangkan kemandirian. Hargai dengan memberikan ruang bagi si kecil untuk mencoba mengeksplorasi lingkungannya. Beri kesempatan si kecil untuk membuat pilihan-pilihannya sendiri, misalnya memilih baju sendiri setelah mandi atau memilih mau makan apa hari ini. Ajak si kecil untuk ambil bagian dalam kegiatan moms, misalnya membantu di dapur untuk mengerjakan tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuannya. 
Hal terpenting dari menanamkan disiplin pada si kecil adalah dengan memberikan tauladan yang baik. Bagaimana pun si kecil masih anak-anak, realistislah dalam meletakan espektasi kepada si kecil. Beri kesempatan si kecil untuk memahami nilai-nilai yang dicontohkan oleh orang tuanya. Meskipun bukan tugas yang mudah, namun berusahalah menjadi pribadi yang kita harapkan pada diri anak kita. Karena anak meniru apa yang orang tua lakukan, bukan yang orang tua katakan. 

Sumber:
Dyce, carol, dkk. 2013.The Pregnancy and Baby Book. Dorling Kindersley Limited. UK

www.mayoclinic.org

Sumber Gambar:
Etsy
Huffpost.com

Komentar

  1. pas banget mak, anak ku beberapa bulan lagi memasuki usia 2tahun, thanks info nyaa membantu sekali artikel ini ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tos mom! Selamat memasuki gerbang yg lbh seru. Tp percaya deh.. Bakal banyak kejutan perkembangan si kecil yg bs bikin mom tersenyum jg. :)

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

MENGENAL CHILD'S COMFORTER

Moms, adakah yang anaknya susah tidur kalau tidak memeluk selimut kesayangannya? Benda-benda seperti boneka, guling atau bantal, yang meski sudah kumal dan kotor tetap merajai tempat tidur buah hati. Beberapa anak bahkan sulit tidur jika tidak memegang bagian tubuh tertentu, seperti obrolan saya dengan tetangga sore ini yang menceritakan kalau anaknya tidak bisa tidur tanpa memegang leher Sang Bunda. Salah satu adik saya pun ketika kecil punya guling kesayangan, guling dengan kepala berbentuk beruang yang setiap tidur harus digesekan hidungnya ke hidung adik saya. Aneh ya? Tapi itulah kenyataannya. 
Beberapa anak menggunakan mekanisme ekternal untuk memberikan kenyamanan pada dirinya. Biasanya dengan menghisap jempol, memegang bagian tubuh tertentu atau memiliki benda kesayangan. Bahkan ada yang membawa benda kesayangannya kemanapun dia pergi.
Kenapa anak memiliki kebiasaan atau benda kesayangan yang tidak bisa lepas dari dirinya? 
Menurut Dr. Olwen Wilson, psikolog anak dari Royal Su…