ANTARA "MANUSIA KUAT" DAN PR PENGASUHAN

Ingatanku kembali ke beberapa tahun lalu ketika kami bertiga, aku, ibuk dan bapak, sedang duduk santai menonton salah satu acara bincang-bincang di televisi.
Kala itu seorang filantropis menjadi bintang tamu acara tersebut. Betapa aku sangat mengagumi orang-orang yang bekerja tulus untuk orang lain. Tidak mengharapkan imbalan atau ketenaran, pekerjaan yang sungguh mulia. 
Menjadi seorang yang bisa mengabdi memang menjadi salah satu impianku kala itu. Saat masih muda, penuh energi dan penuh mimpi. Dengan polos ku lontarkan keinginan tersebut, "Novi pengen deh suatu hari kayak orang itu, bisa ngabdi di daerah untuk masyarakat". Aku tidak kaget dengan reaksi ibuk dan bapak selanjutnya, dengan memasang ekspresi menyepelekan, "Halah,  mana bisa kamu. Orang biasa hidup enak". Meski tidak kaget, ternyata hati ini tetap sakit juga. Apalagi kata-kata itu terucap dari 2 orang terdekatku. Kejadian itu ternyata membekas nyata dibenakku. Setelah itu kututup rapat mimpiku menjadi seorang filantropis, karena aku tidak akan pernah bisa. 
Beberapa tahun setelahnya, tepatnya ketika aku baru saja melahirkan anak pertama. Nahas benar, anak yang kunantikan satu tahun lamanya, lahir dalam keadaan keracunan air ketuban. Tidak seperti orang tua pada umumnya yang langsung menikmati sentuhan kulit dengan buah hatinya, aku harus menyaksikan buah hatiku diberi tindakan darurat oleh beberapa dokter yang mencoba mengeluarkan cairan dari dalam paru-paru anakku. Mimpi untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini)  langsung menguap dari otakku. Nahas benar, karena aku harus menyaksikan itu sambil terbaring lemah setelah melahirkan, tanpa mampu berbuat apa-apa. Bahkan menangis pun aku tak bisa. Aku hanya terus mengulang, "anakku kenapa? ". Saat itu ibuk dan bapak berada di sampingku. Tapi bukan dorongan semangat yang kuterima, melainkan ucapan tanpa empati, "Biasalah.. Euforia karena anak pertama". Tak paham juga aku maksud dari kata-kata itu, yang kutahu kata-kata itu menusuk otakku, tertanam hingga sekarang. Kumaafkan, tapi tidak bisa kulupakan. Entah apa ada rasa bersalah setelah kata-kata itu terucap, karena setelahnya anakku harus menerima perawatan intensif di NICU selama sebulan sebelum akhirnya aku diperbolehkan membawanya pulang. 
Mundur dua puluhan tahun sebelumnya, ketika usiaku masih kecil, kuingat ibuk sering menghardikku di tempat umum atau mencubitku tanpa ada kesalahan yang kumengerti. Kuingat bapak yang sering mengumbar janji, berkata begitu begini tanpa ditepati. Terkadang aku berpikir andai orang tuaku berbeda. Melihat orang tua teman-temanku yang hangat pada anak-anak mereka, sungguh membuatku iri. Andai aku bisa memahami ibuk dan bapak dan juga sebaliknya. 
Sampai aku menjadi orang tua, baru kusadari kalau sebagai orang tua kita tidak selalu dalam kondisi prima. Adakala amarah tak tertahan dan tanpa sadar kita menyakiti anak-anak kita. Setelah aku paham, kini aku memaafkan mereka. Meskipun tidak mudah untuk melupakan apa yang mereka lakukan. Aku tetap mencintai ibuk dan bapak, apa pun kondisinya. Fokusku sekarang adalah memutus mata rantai ini. Aku tidak ingin anak-anakku mengalami hal yang serupa. Maka aku tak bosan untuk belajar setiap harinya. Karena pada hakikatnya mendidik anak adalah mendidik diri sendiri. 
Banyak mimpi yang terkubur karena kata-kata mereka, banyak penyesalan karena aku menjadi pribadi yang takut mencoba. Tapi kini aku tidak akan membiarkan mereka mematahkan asa ku dan aku tidak akan membiarkan hal yang sama terulang pada kedua anakku. Mereka harus menjadi anak-anak yang sejahtera baik raga maupun jiwanya. Aku pun berubah menjadi manusia yang kuat, yang tidak mudah patah karena kritik. Aku tetap mencintai ibuk, aku tetap mencintai bapak apa pun kondisinya. 

Dalam perjalanan menuju kehidupan baru yang mandiri. Keluar dari rumah ibuk dan bapak. Di dalam mobil yang melaju menuju rumah baruku di Bogor. Ku dengar sayup lagu "Manusia Kuat" dalam kondisi setengah tidurku. Sambil terngiang kembali tahun-tahun kebersamaanku bersama mereka. 

Kau bisa lumpuhkan tanganku
Tapi tidak mimpi-mimpiku
Kau bisa merebut senyumku
Tapi sungguh tak akan lama
Kau bisa merobek hatiku
Tapi aku tahu obatnya
Manusia-manusia kuat, itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat, itu kita
(Manusia kuat-Tulus) 

Komentar

Postingan Populer

Social Network