FAJAR DI GUNUNG BROMO

Pagi itu saya bangun dengan amat bersemangat. Padahal mentari belum juga nampak batang hidungnya. Jam di handphone saya masih menunjukan pukul 03.00 pagi. Berat rasanya untuk mandi, udara dingin menusuk tulang. Saya pun memutuskan untuk sekedar cuci muka dan gosok gigi. Setidaknya orang tidak akan terganggu saat berdiri di dekat saya. 
Persiapan pagi itu rasanya tidak terlalu lama, sebuah mobil daihatsu keluaran lama sudah menunggu kami di luar. Pintunya sudah reot, saya sedikit skeptis dengan kemampuan mobil itu untuk membawa kami ke tujuan. Saya dan beberapa rekan saya masuk ke dalam mobil. Saya pilih duduk di sebelah supir. Susah payah saya menutup pintu reot itu, ternyata pintunya memang rusak. Saya harus menyelotnya dengan selot pintu dari dalam.
Perjalanan cukup memakan waktu, sekitar 1 jam sepertinya. Saya tidak terlalu memperhatikan karena jam biologis saya tidak bisa berkompromi sepertinya. Saya tertidur selama perjalanan. Saya terbangun karena suara mobil yang menderu kencang. Rupanya si daihatsu tua ini sedang mencoba menanjak disebuah jalan yang terjal. Saya perhatikan jalan di samping mobil yang saya tumpangi, hanya nampak pepohonan jarang dan sayup lampu-lampu kendaraan yang mengikuti di belakang kami. Saat itu memang masih terlalu gelap untuk melihat dengan jelas. 
Tak berapa lama, mobil tua itu pun berhenti, sudah tidak sanggup lagi rupanya ia menanjak. Supir meminta kami untuk turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Cukup berat langkah ini, karena bercampur antara udara dingin menusuk tulang, jalan terjal yang menghadang dan rasa kantuk yang tak tertahankan. Di kanan kiri sepanjang jalan kami  pedagang-pedagang menjajakan berbagai panganan, pisang rebus, kopi hitam dan tentu saja pop mie panas sebagai andalan. Ada juga yang menjajakan kupluk dan sarung tangan, barangkali ada yang lupa untuk membawanya. Lumayan untuk menahan dingin, meskipun perlu dipakai sampai 2 lapisan. 
Sampai di puncak, ternyata berbeda sekali kondisinya dengan di bawah. Ramai luar biasa, macam di pasar pagi. Handphone sudah siap di tangan, kalau yang lebih bermodal akan membawa kamera DSLR berharga jutaan. Saya dan rekan saya langsung mencari tempat. Agar momen yang saya tunggu dan karenanya saya rela bangun sangat pagi untuk melihatnya tidak terlewatkan. Tak lama semburat berwarna jingga pun mulai tampak. Semua orang melihat ke satu arah yang sama, wajah mereka rata-rata tampak kagum bercampur gembira. Sebagian mengabadikan momen tersebut dengan kamera-kameranya. Saya pun berdecak kagum. Subhanallah.. Pemandangan yang biasanya hanya saya lihat di kalender, sekarang tersaji langsung di depan mata saya. Perlahan pun saya mulai dapat melihat pemandangan di depan saya. Hamparan pasir berwarna abu-abu kehitaman dan gunung kecil berkawah yang mengeluarkan kepulan asap. Akhirnya saya sampai juga di sini, gunung Bromo, yang keindahannya memanjakan mata. Perjuangan sejak pagi-pagi buta benar-benar terbayar. Karena pemandangan semacam ini mungkin bukan hal yang dapat dinikmati tiap hari. 
Saya pun melanjutkan perjalanan, tetap dengan si daihatsu tua. Menyusuri hamparan pasir bak lautan. Sampai tiba di kaki gunung Bromo, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Bau anyir bercampur busuk dari kotoran kuda mulai mengganggu hidung saya. Saya pun menyusuri jalan menanjak gunung bromo sambil sesekali menahan napas. Sampai di puncak,  nampak sebuah tangga yang menuju ke arah kawah. Ingin sekali pingsan rasanya tubuh ini karena jalan menanjak terengah-engah ditambah menahan napas karena bau kotoran kuda. Tapi rasanya sayang sekali kalau saya tidak menyelesaikan perjalanan. Dengan sisa tenaga yang ada, saya pun naik menuju kawah. Sampai di atas nampak lengkungan raksasa dengan asap tebal keluar dari celah-celah bebatuannya. Gunung ini gunung aktif, tak terbayang kalau sampai meletus ketika kami ramai-ramai ada di atas sini. Di dalam kawah nampak bunga-bungan dan buah-buahan, yang sengaja dilemparkan untuk sesaji. Saya tak paham efeknya apa, paling-paling hanya akan menambah sampah dan kotoran. 
Puas melihat dari atas,  kami pun melanjutkan perjalan. Kali ini kami dibawa si daihatsu tua ke bukit teletubies. Lucu sekali namanya, pikir saya. Seperti nama sebuah acara anak-anak keluaran rumah produksi Inggris dengan 4 tokoh boneka berwarna warni, Tinky winky, Dipsy, Lala dan Po. Sepintas bukit ini memang tampak seperti latar rumah milik keempat boneka warna warni tersebut. Berbentuk undakan-undakan yang diselimuti oleh rerumputan. 
Kami puaskan mata kami sampai matahari meninggi. Kini tampak jelas keindahan panorama gunung Bromo di kejauhan. Hamparan pasir hitam dan padang rumput savana melengkapi keindahannya bak perhiasan di atas pakaian yang mewah. Bangun pagi-pagi buta sungguh bukan harga yang seberapa. Mungkin saya akan kembali lagi nanti, untuk mencicipi kedua, ketiga atau kesekian lainnya. Karena tempat ini tak akan pernah membosankan untuk dinikmati. 

Sumber foto:
Dokumentasi pribadi

Komentar

  1. Cakep banget mbaaakkk. Kapan ya aku bisa ke sini. Doain yak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Ayo ke Bromo bun! Dimanja banget sama pemandangan di sana. :)

      Hapus
  2. Sama Mbak..saat di mobil menuju puncak Bromo saya khawatir banget, naik jeep tua. Tapi, syukurnya dia kuat sampai tujuan ..saya berdoa sepanjang jalan tuh kwkwkw
    Tapi, asli keren Bromo! Pengin ke sana lagi, karena kemarin saya enggak sampai kawah, setengah jalan saja, karena sulung saya punya asma..Nanti pengin ke sana lagi, semoga:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak.. Saya ngeri takut miring terus jatuh ke bawah, hehehe.. Tapi kengeriannya terbayar sih ketika sunrise. Waktu naik juga lumayan ngos-ngosan sih mbak.. Apalagi banyak kuda kan, mau ambil napas bau kuda, hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Social Network