Langsung ke konten utama

HARUSKAH SAYA MERASA KHAWATIR DENGAN SIBLING RIVALRY?

Ketika saya pertama kali tahu kalau saya hamil anak kedua,  yang menjadi perhatian utama saya adalah tentang bagaimana memperluas kasih sayang kami sebagai orang tua. Apalagi usia kakak dan adiknya yang tidak terpaut jauh dan jenis kelamin yang sama, konon katanya memperbesar peluang terjadinya sibling rivalry. Saya tidak ingin terlalu berlebihan dalam menyikapi hal ini, tapi juga tidak ingin menyepelekannya. 
Makanya topik ini menjadi salah satu topik yg sering sekali saya cari untuk menambah info dan ilmu saya. Browsing, baca-baca dan tanya-tanya ke teman saya yang keilmuannya lebih mumpuni tentang ini. Saya juga tidak bosan-bosan (mungkin dia yang bosan kali ya) mengingatkan suami tentang betapa topik ini penting untuk menjadi concern.
Kalau boleh menyimpulkan secara garis besar, intinya bagaimana menciptakan iklim yang positif antara kakak dan adik. Membangun cinta kasih diantara keduanya, bukan membangun iklim persaingan (terdengar simple ya? Tapi prakteknya tentu lebih sulit). Setidaknya dari situ, saya dan suami berusaha untuk menjadikan kehadiran calon anggota keluarga baru kami dengan lebih positif. 
Ada beberapa hal yang kami lakukan untuk mempersiapkan kakak menerima kehadiran adiknya:
1. Selalu melibatkan kakak dalam setiap aktifitas yang berhubungan dengan kehamilan saya. Misalnya saat saya cek kandungan ke dokter. Daripada menyuruh kakak untuk tunggu di luar, saya ajak kakak untuk ikut masuk ke ruang dokter bahkan melihat layar USG bersama. Sambil mengenalkan adiknya, menunjukan perkembangan adiknya bulan demi bulan. 
2. ‎Selain mengajak kakak untuk ikut setiap saya cek kandungan, saya juga sering minta tolong kakak untuk menyuapi saya setiap saya minum vitamin dari dokter. Tidak lupa saya juga mengucapkan terima kasih karena kakak sudah membantu saya minum vitamin.
3. ‎Saya dan suami juga sudah menyiapkan kado khusus untuk kakak yang akan kami berikan ketika adiknya lahir sejak jauh-jauh hari. Tidak harus mahal, yang penting dibuat tampak istimewa, misalnya dibungkus dengan kertas kado yang cantik dan diberikan ketika adiknya lahir. Tujuannya agar kakak menerima peran barunya sebagai momen yang istimewa. Disamping itu, saat adik lahir, tentu orang-orang akan lebih fokus pada adik. Dengan memberikan kakak kado, ia tidak akan merasa dirinya dikesampingkan. 
4. ‎Saya juga sering menceritakan ke kakak,  betapa menyenangkannya bermain bersama teman dan sebentar lagi kakak akan punya teman bermain di rumah. Saya juga sudah mengajarkan kakak sejak dini untuk mau berbagi ketika bermain bersama teman-temannya. Dengan harapan, kakak sudah terbiasa berbagi saat adiknya nanti lahir. 
Sebetulnya banyak cara yang bisa moms lakukan bersama suami untuk menjadikan momen kehadiran adik terasa istimewa bagi setiap keluarga, termasuk si kakak. Moms yang paling tahu apa yang jadi kesenangan si kakak. Silahkan bereksplorasi ya moms, kira-kira ide apa lagi yang bisa dilakukan.;) 
Perlu diingat moms ketika adik lahir, tidak menutup kemungkinan kakak tetap akan merasa cemburu, meskipun kita sudah berupaya seperti poin di atas. Jika itu terjadi, tidak perlu sampai stress menghadapi kakak ya moms. Tetap diingat bahwa kakak juga memiliki fitrah perkembangan. Menjadi kakak bukan berarti ia harus cepat-cepat dewasa. Tetap berikan porsi perhatian sesuai dengan usianya. Beri pengertian bahwa adik masih bayi dan masih sangat butuh bantuan untuk melakukan ini dan itu. 
Jangan lupa juga untuk tetap meluangkan waktu untuk kakak. Kalau saya dan suami berusaha saling berbagi peran. Berhubung kami pun tidak dibantu ART, maka suami ikut turun tangan untuk urusan-urusan rumah tangga dan pengasuhan anak. Misalnya ketika suami pulang kantor atau pada saat libur sabtu dan minggu, suami yang akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak. Selain untuk membangun bounding bersama ayah, juga supaya moms bisa punya sedikit waktu untuk istirahat. 
Moms tidak perlu merasa khawatir. Berusahalah untuk bersikap adil terhadap setiap anak. Adil disini bukan berarti selalu sama, tapi bersikap proporsional sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Karena setiap anak unik dan istimewa, maka perlakukan mereka sesuai dengan keistimewaannya. 

Sumber foto:
mamaibeba.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?