MENGENAL POSTPARTUM DEPRESSION

Belakangan ini Ratih merasa sangat kelelahan. Setiap malam ia merasa sulit sekali tidur. Padahal siang hari ia sudah berjibaku seharian. Sejak kelahiran anak pertamanya,  Ratih merasa energinya sangat terkuras. Ratih merasa letih luar biasa dan tidak enak makan setiap harinya. Setiap melihat anaknya, Ratih juga merasa sebal. Ia merasa anaknya sudah merenggut kebebasannya. Ratih tahu kalau apa yang dialami bukan sesuatu yang normal. Ibu pada umumnya harusnya merasa bahagia ketika buah hatinya lahir ke dunia. Tapi Ratih berbeda, ia justru merasa sedih dengan kondisinya sekarang. 

Percaya atau tidak, apa yang dialami oleh Ratih juga dialami oleh 10% ibu di seluruh dunia (Bulletin of WHO) . Apa yang dialami oleh Ratih dikenal dengan istilah Postpartum Depression (PPD). PPD adalah depresi dengan kondisi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan simptom seperti kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan, dan kehilangan libido (Regina dkk, 2001). Menurut DSM IV, simptom–simptom yang biasanya muncul pada episode postpartum antara lain perubahan mood, labilitas mood dan sikap yang berlebihan terhadap bayi. Kemunculan gejala PPD biasanya ditandai dengan perasaan gloomy yang terjadi sejak 4-5 hari setelah ibu melahirkan. Kondisi ini biasanya dikenal dengan istilah Babyblues. Biasanya terjadi pada ibu yang mengalami trauma saat proses kelahiran atau ibu yang telah memiliki riwayat depresi sebelumnya. Apabila kondisi ini berlangsung sampai lebih dari 14 hari, maka dapat berpotensi menjadi PPD. 
PPD sering lambat dikenali. Hal ini terjadi karena ibu malu untuk terbuka dengan kondisinya. Stigma yang melekat bahwa ibu harus selalu kuat menjadikan ibu tidak mau mencari pertolongan dan memilih untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri. Padahal kondisi ini, apabila dibiarkan dapat berdampak negatif baik bagi ibu maupun bagi perkembangan buah hati.

Bagaimana gejala-gejala Postpartum Depression

Gejala PPD secara umum sama dengan depresi yang dialami orang biasa. Namun pada ibu yang mengalami PPD terdapat beberapa ciri khusus, antara lain:
1. Insomnia dan kelelahan yang luar biasa,
2. ‎Kekurangan energi,
3. ‎Rendahnya libido,
4. ‎Tidak nafsu makan atau sebaliknya,
5. ‎Merasa cemas secara berlebihan, 
6. ‎Merasa tidak berharga, 
7. ‎Merasa sedih dan bersalah secara berlebihan, 
8. ‎Sulit berkonsentrasi, mudah panik dan marah, 
9. ‎Kekhawatiran yang berlebihan terhadap buah hati. 
PPD juga terkadang salah dikenali sebagai gejala Babyblues, sehingga sering kali penanganan PPD tidak dilakukan secara dini. 

Apa bedanya Babyblues dan Postpartum Depression

Babyblues dan PPD memang memiliki kemiripan gejala. Hal yang perlu digaris bawahi adalah PPD adalah kondisi yang dapat menetap dalam jangka waktu yang lama, sedangkan Babyblues biasanya akan hilang dalam periode 2-3 pekan. Namun apabila kemunculan gejala cukup parah, kondisi tersebut dapat dikategorikan PPD meskipun terjadi dalam rentang waktu kurang dari 2 pekan. 
Secara garis besar, perbedaan antara Babyblues dan PPD dijelaskan pada gambar berikut:
Sumber:www.rachelrabinor.com

Bagaimana ibu dapat mencegah dan menghadapi Postpartum Depression

Langkah terbaik ketika ibu telah mengalami PPD adalah mencari bantuan profesional. Jangan malu untuk mencari psikolog atau psikiater untuk membantu. Selain itu, hal yang cukup penting juga adalah mencari dukungan orang-orang terdekat seperti suami dan keluarga. Terbukalah terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi dan jangan ragu untuk meminta bantuan untuk mengurus buah hati dan juga pekerjaan rumah tangga. Selain itu, ibu juga perlu mengambil ruang untuk bersantai dan beristirahat. Jangan terlalu berlebihan dalam menentukan target dan keinginan terhadap buah hati. Nikmati peran sebagai ibu dan biarkan ibu mengenal buah hati tahap demi tahap secara natural. Ditambah lagi konsumsilah makanan yang bergizi seperti makanan yang mengandung asam lemak, vitamin B, vitamin D, Zink dan Selenium. Beberapa riset yang telah dilakukan menunjukan kandung-kandungan tersebut mampu membantu dalam mencegah dan mengurangi depresi. Terakhir, carilah dukungan sosial. Bergabunglah dengan komunitas ibu-ibu yang produktif dan menguatkan. Carilah komunitas yang dapat memperkuat diri dan membangun semangat positif. Dengan bergabung bersama komunitas,  ibu juga akan memiliki akses informasi yang lebih luas. 

Sumber:
www.fix.com
https://klinis.wordpress.com
www.psychologytoday.com
www.rachelrabinor.com
www.who.int/bulletin/volumes/95/10/17-192237/

Sumber gambar:
www.sheknows.com

Komentar

Postingan Populer

Social Network