MENULIS MELEGAKAN JIWA

Saya adalah ibu pada umumnya. Tidak berbeda dengan moms yang sudah terjaga bahkan sebelum matahari menyapa dan baru tidur dikala suami dan anak-anak sudah lelap dalam mimpinya. Sejak memutuskan resign dari pekerjaan saya sebagai seorang bankers, kira-kira satu setengah tahun yang lalu, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama anak saya. Keputusan saya untuk berhenti adalah karena saya tidak bisa menemukan alasan untuk tidak mendidik anak-anak saya sendiri. Rasanya harga yang akan saya bayar terlalu mahal kalau saya menyerahkan pendidikan anak saya pada seorang pengasuh yang latar belakang dan akhlaknya tidak saya ketahui dengan pasti. 

Maka dengan keputusan yang mantab saya pun berhenti dari pekerjaan saya. Meskipun pada saat itu banyak ketakutan yang menghantui, salah satunya adalah kekhawatiran bahwa saya akan jenuh dengan kehidupan saya sebagai ibu rumah tangga. Akankah saya mampu berkarya seperti saat saya bekerja dahulu? Bagaimana kalau saya berakhir menjadi orang yang tanpa guna, nyaman dengan rutinitas yang ada? 


Untuk menghilangkan kekhawatiran saya, saya pun mencoba untuk bereksplorasi dengan hobi-hobi baru. Saya awali hobi pasca-resign saya dengan berdagang. Saya mencoba membuka toko online yang menjual jilbab. Tujuan saya waktu itu hanya untuk mengisi waktu, bukan untuk mencari keuntungan. Benar saja, karena tujuan berdagang saya yang tidak jelas, bisnis saya pun berakhir dengan tidak jelas pula. Ternyata hal tersebut tidak membuat saya kapok. Saya kembali berdagang, kali ini menjual peralatan bayi. Waktu itu saya pikir itu adalah ide yang bagus, karena saya kebetulan juga memiliki seorang bayi. Ternyata mengerjakan sesuatu tanpa ilmu itu memang berpotensi gagal. Bisnis kedua saya pun kandas. Dua kali gagal ternyata tidak membuat saya berhenti, saya mencoba berdagang kembali. Kali ini saya mencoba menjual tas hasil produksi sendiri. Saya cukup menikmati bisnis ketiga saya ini, karena pada dasarnya crafting adalah salah satu hobi saya. Tapi ternyata saya lebih menikmati membuat dibandingkan dengan menjualnya, sehingga untuk ketiga kalinya, bisnis saya pun mandeg di tengah jalan. Tiga kali mengalami kegagalan,  saya pun mencoba mawas diri. Rasanya bukan ini bidang saya. 

Akhirnya saya pun memutuskan untuk berhenti sejenak. Saat itu saya merasa kekhawatiran saya terbukti. Saya mulai merasa kosong. Hari-hari saya lalui dengan datar. Perasaan "kurang berharga" pun mulai menghinggapi saya. Saya malu ketika orang menanyakan apa kegiatan saya. "Di rumah aja, ngurus anak", jawaban singkat semacam itu yang biasa saya lontarkan. Sampai suatu hari saya kembali menjalin komunikasi dengan mantan rekan kerja saya di kantor. Ia yang sudah lebih dulu berhenti dari bank tempat kami bekerja, sekarang aktif menggeluti dunia literasi dan menulis. Saat itu ia mengajak saya untuk mengikuti sebuah kulwap bedah buku. Karena tema buku yang dibedah saat itu sangat lekat dengan kondisi saya,  saya pun setuju untuk ikut. Beberapa kali saya ikut kulwap serupa. Suatu hari di salah satu kulwap, saya pun memberanikan diri untuk bertanya atau "curhat" lebih tepatnya. Saya tanyakan bagaimana saya dapat menghadapi kejenuhan saya tanpa menjadi terpuruk. Saya sampaikan pula kalau terkadang saya butuh untuk "curhat", tapi saya takut karena saya melihat orang akan memandang saya sebagai ibu yang cengeng karena terlalu banyak "curhat". Waktu itu saya mendapatkan jawaban yang sederhana tapi sangat menggugah saya, "Ditulis aja bun curhatannya. Kadang menulis bisa bikin kita lebih lega".

Saya sebenarnya sudah senang menulis sejak sekolah. Namun tulisan-tulisan saya hanya sampai di jurnal harian saja. Beberapa cerpen yang saya buat pun mengendap di laptop. Saya tidak percaya diri untuk membagikan tulisan saya bahkan kepada orang terdekat sekali pun. Sejak menikah pun saya sudah jarang menulis karena kesibukan mengurus keluarga. Mungkin bukan tidak sempat, tapi saya yang tidak mau menyediakan waktu untuk menulis. Sejak saya menerima jawaban itu, saya pun kembali menulis jurnal harian saya. Cukup melegakan, tapi rasanya ada kehausan yang belum reda. Tidak ada target dalam mengerjakan tulisan ini,  saya pun jadi tidak terpacu. 

Sampai suatu hari saya mencoba mengikuti kelas menulis secara online. Rupanya di kelas tersebut saya tidak hanya menerima pelajaran, tapi saya juga bertemu dengan para ibu yang luar biasa. Mereka mengklaim diri mereka sebagai ibu rumah tangga dengan sangat bangga, padahal karyanya sudah begitu luar biasa dan memberi dampak yang luas. Dari teman-teman sekelas saya tersebut saya belajar untuk bangga dengan profesi saya,  ibu rumah tangga. Saya pun belajar bahwa menjadi ibu rumah tangga pun bisa membawa makna dan manfaat. Sejak itu saya pun semakin terpacu untuk menulis. Saya mulai membuat blog dan memindahkan beberapa tulisan dari jurnal harian saya. Saya bergabung dengan komunitas agar saya semakin terpacu untuk menulis dan dapat belajar dari ibu-ibu lain yang sudah lebih berpengalaman. 

Menulis adalah media saya untuk tetap positif. Bukan hanya sekedar "curhat", menulis juga membantu saya untuk terus berpikir. Karena menulis adalah proses belajar terus menerus dan menulis juga membutuhkan amunisi, yaitu membaca. Dengan menulis, saya menjadi terpacu untuk terus menerus menambah pengetahuan saya. Sejak menulis dan membagikan tulisan saya, saya pun merasa hidup saya lebih bermanfaat. Ditambah lagi dengan saya bergabung dengan komunitas menulis, melihat bagaimana teman-teman di komunitas semakin berkembang tulisannya dan tantangan-tantangan yang diberikan untuk memecut produktifitas membuat saya semakin bersemangat untuk serius menggeluti bidang ini. 

Kini saya memasang target-target pribadi dalam menulis, tujuannya tentu agar saya semakin produktif dan semakin memperbaiki kualitas tulisan saya. Jika kelak Allah memberikan kesempatan bagi saya untuk menelurkan karya, tentu itu akan menjadi sebuah pencapaian besar bagi hidup saya. Untuk sekarang, menemukan "menulis" sebagai bidang yang saya nikmati sudah merupakan sebuah anugerah untuk saya. Karena bagi saya, menulis melegakan jiwa. 

Komentar

  1. Tos mbaa... saya pun menjadikan menulis sebagai me time.Berguna banget buat saya yang kesehariannya mengasuh anak-anak dan berbisnis online yang lumayan melelahkan :)

    BalasHapus
  2. Betul mba.. Kalau habis selesai nulis rasanya plong banget :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Social Network