SEBUAH CANGKIR DAN PERSAHABATAN

Hari ini saya dan suami beres-beres di rumah orang tua saya. Karena pekan depan kami berencana untuk menetap di rumah baru kami. Tiba-tiba disalah satu sudut di dapur, saya menemukan cangkir ini. Cangkir ini adalah pemberian salah seorang sahabat saya waktu SD. Jadi cangkir ini usianya sudah 17 tahun. Jangan heran kalau penampakannya sudah usang. 

Sahabat saya ini orang yang tidak terlalu banyak bicara, pemalu dan lembut. Tapi ia juga sangat cerdas dan berbakat. Dulu waktu sekolah tak terhitung berapa banyak prestasi yang sudah ia raih, ditambah ia juga piawai memainkan piano. Saat SD dan SMP saya sangat dekat dengan sahabat saya ini. Banyak cerita yang kami bagi bersama. Namun saat SMA, kami sedikit menjauh, karena masing-masing dari kami masuk ke dalam lingkungan pergaulan yang berbeda. Saat kuliah pun kami tidak banyak berkomunikasi, karena sahabat saya ini meneruskan studinya di Bandung, sedangkan saya di Depok. Kesibukan perkuliahan menenggelamkan persahabatan kami. 

Lama kami tidak saling mengontak. Komunikasi kami paling hanya melalui media sosial dan itu juga sekedar basa basi menanyakan kabar. Apalagi setelah masing-masing dari kami menikah, kesibukan rumah tangga membuat saya, terutama, hampir tidak memiliki waktu untuk membuka media sosial. Hingga suatu hari salah satu status yang saya buat di media sosial dikomentari olehnya. Seperti biasa, komentarnya seputar basa basi menanyakan kabar. Namun entah kenapa,  hari itu saya terdorong untuk mengajaknya bertemu. Kebetulan saat itu saya sedang menginap di rumah orang tua saya, dan jarak antara rumah orang tuanya dengan orang tua saya tidak terlalu jauh. Gayung pun bersambut, sahabat saya setuju untuk bertemu.

Tadinya kami bermaksud bertemu di salah satu mall di daerah Bintaro, tapi karena satu dan lain hal akhirnya kami bertemu di rumah sahabat saya ini. 
Saya sudah berdebar-debar sejak hari sebelumnya. Rasanya sudah terlalu lama kami tidak bertemu. Bagaimana kalau nanti pertemuan kami terasa "garing"? Bagaimana kalau nanti kami kehabisan bahan pembicaraan? Bagaimana kalau saya menyesali pertemuan saya dengannya besok? 

Akhirnya hari pertemuan pun tiba. Seperti yang sudah disepakati, saya pun main ke rumahnya. Saya pun ingin bertemu dengan ibu dari sahabat saya ini, karena saya juga cukup mengenal beliau dengan baik. Jadi saya rasa tidak ada salahnya untuk bertemu dengan sahabat saya di rumahnya. 

Sampai di rumahnya, saya melihat tidak ada perbedaan yang signifikan dari sahabat saya ini secara fisik. Hanya sekarang jilbab lebar menghiasi penampilannya yang membuat ia tampak semakin anggun. Kami pun memulai perbincangan santai kami,  dan sungguh di luar dugaan,  saya merasa tidak ada yang berubah sama sekali. Kami seperti berpisah hanya beberapa hari atau mungkin beberapa minggu saja. Tidak ada kehabisan cerita dan tidak ada perasaan "garing". Waktu pun tak terasa, sore telah menjelang datang, kami pun kembali harus mengucap salam perpisahan. Mungkin kali ini akan sedikit lebih lama, karena sahabat saya ini akan segera pergi menyusul suaminya ke German. Itu tandanya tidak mudah bagi kami untuk saling bertemu. Saya mensyukuri keputusan saya untuk bertemu dengan sahabat saya ini. Kalau saja hari itu tidak ada pertemuan, entah kapan kami bisa bertemu lagi. 

Bagi saya persahabatan adalah saling mengikat hati. Tak penting kedekatan fisik atau seringnya pertemuan antara dua sahabat. Karena terkadang waktu dan jarak bukanlah sebuah persoalan. Ketika hati ini tetap terikat sejauh apa pun perantauannya, selama apa pun kerinduannya, persahabatan itu akan tetap terjaga selamanya.

Komentar

Postingan Populer

Social Network