Langsung ke konten utama

BAHAGIA KARENA HAL SEDERHANA

"Mi, aku mau mandi", ucap putri saya dengan mata berbinar, "Mandinya pakai sampo boiboboy ya mi".Sejak jumat kemarin putri saya yang baru berusia 2,5 tahun memang sudah semangat ingin membeli sampo bergambar karakter. Anak-anak memang gampang banget terpengaruh iklan ya moms. Gara-gara lihat salah satu iklan sampo di TV, putri saya langsung terus-terusan mengingatkan saya kalau ia ingin beli sampo tersebut. 

Awalnya putri saya ingin membeli sampo bergambar karakter little pony. Saya bilang padanya kalau ia baru bisa membeli sampo little pony setelah abinya pulang dari dinas kantor hari Minggu. Ia pun sabar menunggu. Sampai akhirnya kami pergi ke salah satu supermarket untuk membeli sampo tersebut, namun tidak menemukan sampo yang dimaksud. Putri saya tampak sedikit kecewa, tapi kekecewaannya terobati setelah saya tawari ia untuk membeli sampo dengan karakter yang lain dan pilihan jatuh pada boiboboy. Sampai rumah ia senang bukan kepalang. Biasanya susah banget mengajak anak ini untuk mandi, tapi sore itu putri saya sudah semangat banget mau mandi bahkan sejak kami di perjalanan pulang dari supermarket. 

Anak-anak itu memang gampang banget dibuat senang. Melihat putri saya yang begitu senang hanya karena sampo, jadi membuat saya berpikir. Terkadang sebagai orang dewasa, banyak hal-hal yang hilang dari diri kita. Salah satunya adalah gembira karena hal yang sederhana. Tanpa kita sadari, semakin bertambah usia kita, tuntutan kita terhadap hidup juga semakin meningkat. Bukan tuntutan hidup loh moms, tapi tuntutan terhadap hidup. Maksudnya adalah keinginan-keinginan kita terhadap dunia. Misalnya saat saya baru lulus kuliah dulu, pertama kali bekerja saya rela saja dibayar UMP saat itu. Tetapi seiring berjalannya waktu, keinginan saya pun semakin banyak. Dari yang sebelumnya happy saja dengan pakai kipas angin di kos-kosan, menjadi ingin menggunakan AC. Standar hidup kita pun semakin tinggi, yang tadinya puas dengan standar di level yang biasa saja, jadi baru puas saat standar kita yang lebih tinggi terpenuhi. Kita jadi lebih sulit dibuat bahagia. 
Padahal yang menentukan standart hidup kita diri kita sendiri. Akhirnya sebagai manusia kita jadi banyak menuntut. Cepat pundung kalau apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan keinginan kita. Pundung pada Allah swt, merasa jadi korban dan orang paling menderita kalau menghadapi masalah. Belum lagi perasaan lelah karena mengejar dunia. Membandingkan hidup kita yang enggak segemerlap hidup tetangga sebelah. 

Dulu kita pernah ada di titik itu, masa kanak-kanak. Saat hal sederhana mampu membahagiakan kita. Saat kita mudah untuk bersyukur untuk hal kecil sekali pun. Terkadang saya rindu menjadi anak-anak. Rindu berpikir dengan cara yang sederhana. Bersyukur untuk hal kecil dalam hidup ini. Mungkin bisa dimulai saat esok hari. Ketika mata terjaga dan dapat menikmati mentari. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?