Langsung ke konten utama

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Bijak dalam memyebarkan konten anak
Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.
Sepintas terlihat anak itu menonton sambil menunggu di sebuah terminal atau stasiun bersama seorang perempuan. Anak tersebut tampak celingukan melihat sekitar sambil sesekali kembali melihat smartphone di tangannya. Awalnya tidak jelas video apa yang sedang dilihat anak tersebut, sampai si perekam mendekatkan fokus kameranya ke arah smartphone yang dipegang anak tersebut. Tampak 2 orang sedang beradegan dewasa dalam video tersebut. Terlihat perempuan yang duduk di sebelah anak tersebut tidak menyadari video apa yang sedang ditonton oleh anak di sampingnya. Terlepas dari kejadian yang direkam, saya kok merasa terganggu ya dengan video itu sendiri. Masalahnya muka anak tersebut kelihatan jelas tanpa sensor sedikit pun. Ditambah si perekam tidak menegur atau paling tidak memberitahu perempuan di sebelah anak itu yang kemungkinan adalah ibunya. Apakah dengan merekam dan menyebarkan video tersebut bisa menyelesaikan masalah?  Bukankah menyebarkan video semacam ini sama saja dengan membuka aib orang lain? Padahal menurut saya, anak dalam video tersebut adalah korban. 

Di era yang mudah dalam membuat dan menyebarkan konten informasi sekarang ini, terkadang membuat kita kurang peka. Kurang peka dalan memikirkan kondisi orang lain dan kurang peka dalam memikirkan akibat dari apa yang kita lakukan. Seperti video yang baru saya ceritakan, kira-kira apa yang akan terjadi pada anak tersebut ketika videonya terlanjur menyebar? Bagaimana perasaan ibu anak tersebut ketika tahu anaknya direkam tanpa izin dan videonya disebarluaskan? Tentu akan ada sangsi sosial yang akan dihadapi oleh anak tersebut. Lalu kita yang ikut menyebarkan videonya, punya solusi apa? Kita yang ikut ambil andil dalam merusak hidup orang lain dapat keuntungan apa dari menyebarkan video tersebut? 
Bijak dalam bermedia sosial
Menyebarkan konten informasi yang melibatkan anak tentu ada etikanya. Bayangkan kalau itu terjadi pada anak kita, tentu sebagai orang tua kita akan marah dan sedih. Dikutip dari @ibupedia_id, ada beberapa konten anak yang tidak boleh di-posting dan disebarluaskan di media sosial:
  1. Foto/video saat anak sedang mandi. Anak tetap punya batas-batas aurat ya moms, apalagi dengan banyaknya predator anak di dunia maya. Memposting atau menyebarluaskan kegiatan anak yang sedang mandi tentu bukan perbuatan yang bijak. 
  2. ‎Foto/video ketika anak sakit atau cedera. Rasanya sebagai orang dewasa pun pasti kita terganggu kalau kita sedang kesakitan direkam oleh orang. Kita juga perlu berempati dengan kondisi anak yang sedang kesakitan ya moms. 
  3. Konten yang memuat informasi pribadi anak. Menyebarkan informasi pribadi anak sangat berbahaya moms, seperti nama lengkap, tanggal lahir, sekolah dimana, dsb sebaiknya tidak disampaikan di media sosial.
  4. Foto/video yang mempermalukan. Seperti cerita saya sebelumnya tentang video anak yang menonton konten dewasa, menyebarkan foto/video yang memalukan dapat merendahkan harga diri anak yang bisa berdampak pada psikologis anak. Menyebarkan foto/video semacam ini juga dapat memunculkan labeling bagi si anak yang berdampak pada kehidupan sosialnya.
  5. Foto/video anak sedang BAK/BAB. Anak-anak juga punya privasi. Bayangankan kalau kita yang sedang melakukan aktifitas pribadi lalu direkam, pasti tidak mau kan moms? :)
Intinya, menyebarkan foto dan video anak tetap ada etikanya. Meskipun yang kita sebarluaskan foto/video anak kita sendiri, kita tetap perlu memperhatikan hak-hak anak. Apalagi kalau yang kita sebarluaskan foto/video anak orang lain. Meskipun anak tersebut masih kerabat, kita tetap harus izin kepada orang tuanya. Tetap hormati hak-hak anak kita ya moms. Karena kalau bukan kita yang melindungi mereka, siapa lagi? 

Komentar

  1. Di WAG kelas anak saya juga ada yang share, lalu ditimpali emak yang lain hehehe.

    Susah sih ya jaman now banyak yang doyan viral.

    Sukanya menyebar hal2 yang memalukan orang, lalu dimakan oleh emak-emak yang sama sekali gak sadar kalau tindakannya itu gak cerdas sama sekali.

    Coba kalau tiap emak sadar dan mencoba menahan diri dari share konten yang GJ seperti itu, itu lebih membantu ketimbang di share ke dunia luas ckckck

    BalasHapus
  2. Betul bun.. Saya enggak ngerti apa motivasi orang yang merekam dan menyebarluaskan. Mungkin orang merasa dengan share berita semacam itu bisa jadi hakim untuk orang lain atau mungkin supaya viral saja. ��
    Kitanya sebagai penerima info yang harus pintar-pintar tahan jari supaya enggak ikut andil dalam menyebarkan konten yang enggak ada manfaatnya.

    BalasHapus
  3. Poin terakhir rasanya masih banyak mamah muda yg kecele, instagram mommies kan menjamur ya, jadi mereka membagikan konten apapun dengan alasan sharing. Ya nggak salah kok dgn sharing, tapi kalo sampai harus upload foto anak yg sedang toilet training rasanya gimana yaa 😅 yaa balik ke masing-masing aja dehh (:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Moms... Suka sedih lihatnya. Foto-foto kayak gitu tuh biasanya rentan jadi santapan predator anak di dunia maya... :(

      Hapus
  4. Teman saya ada yg pas masih kecil difoto temannya saat BAK. Terus setelah dewasa dan ada facebook foto itu disebar ke grup. Bayangin mbak. Ih saya sampai kesel sama yg upload. Saya inbox dia buat hapus tuh foto tp dia ga mau. Akhirnya sy laporin foto itu dan leave group.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh! Parah banget itu mbak. Memang sih edukasi untuk orang agar bijak beronline itu masih perlu effort. Karena pemahaman setiap orang itu beda. So sad but true:(

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

LIVING WITH BABY AND TODDLER: MENJAGA KEWARASAN DITENGAH KEREMPONGAN

Hi moms!  Perkenalkan nama saya cempaka. Saya baru saja resmi menjadi ibu beranak dua setelah melahirkan putri kedua saya 1 bulan yang lalu. Saat saya mengetik tulisan ini, saya sedang makan malam sambil menggendong bayi saya yang tertidur. Setelah rempong seharian mengurus rumah, bayi dan batita sekaligus. Siapa yang senasib dengan saya? #ngacung