Langsung ke konten utama

LIVING WITH BABY AND TODDLER: MENJAGA KEWARASAN DITENGAH KEREMPONGAN

www.medium.com
Hi moms! 
Perkenalkan nama saya cempaka. Saya baru saja resmi menjadi ibu beranak dua setelah melahirkan putri kedua saya 1 bulan yang lalu. Saat saya mengetik tulisan ini, saya sedang makan malam sambil menggendong bayi saya yang tertidur. Setelah rempong seharian mengurus rumah, bayi dan batita sekaligus. Siapa yang senasib dengan saya? #ngacung

Setiap keluarga punya pilihannya sendiri, termasuk keluarga kami yang memilih untuk tidak menggunakan asisten rumah tangga (ART) untuk membantu kami. Alasannya sederhana sih, saya bingung kalau pakai ART akan diperbantukan untuk apa. Karena setiap pekerjaan di rumah sudah ter-handle oleh saya dan suami dan rumah kami juga enggak terlalu besar. Tapi karena keputusan kami tersebut, tentu saja kami harus menanggung konsekuensinya. Setiap hari bangun sebelum subuh untuk masak dan beres-beres. Suami pun harus ikut turun tangan sebelum berangkat dan sesudah pulang kantor. Belum lagi mengurus keperluan anak-anak. 
Anak pertama saya masih berusia 2,5 tahun. Kebutuhannya untuk bermain sedang gencar-gencarnya. Menyelarasan antara kebutuhan si kakak dan si adik memang menjadi tantangan tersendiri. Adik yang kebutuhannya tidur sering terganggu dengan kakak yang berisik, tapi kakak yang kebutuhannya bermain jadi cepat bosan dan mudah pundung kalau enggak ada kegiatan. Sebagai orang tua, kami pun harus pandai-pandai membagi waktu. Kapan harus memprioritaskan kebutuhan si kakak dan kapan harus memprioritaskan kebutuhan si adik. Apalagi kalau suami sedang kerja, seharian saya bakal gedebukan sendirian. Biasanya untuk menghadapi kondisi tersebut, saya mengakalinya dengan melihat siapa yang lebih kondusif untuk diajak bekerja sama. Misalnya saat si kakak sedang bisa diajak main permainan yang tenang, saya ajak ia untuk membaca buku atau bermain puzzle. Agar saya bisa menemani kakak main sambil menyusui si adik. Kalau si adik yang sedang cukup tenang walaupun tidak tidur, biasanya saya gendong dan ajak bermain bersama si kakak, entah main petak umpet atau lompat-lompat. Walaupun saya enggak ikut lompat-lompat ya moms. Kan bahaya lompat-lompat sambil gendong bayi. :)
Selain memenuhi kebutuhan si kakak dan si adik, menyelesaikan tugas-tugas di rumah pun menjadi tantangan tersendiri. Saya dan suami mengakalinya dengan memanfaatkan teknologi yang ada, misalnya dengan menggunakan mesin cuci otomatis. Untuk masak dan belanja, saya memilih untuk menyetok makanan secara mingguan dan masak masakan yang simpel dan mudah saja, yang terpenting memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Sedangkan untuk urusan bersih-bersih, saya berbagi tugas dengan suami. Intinya, untuk urusan rumah saya dan suami memilih untuk enggak terlalu ribet. Standart pun kami turunkan, agar kami enggak stress hanya karena memikirkan urusan rumah.

Kalau untuk menulis gimana? 
Saya mencuri-curi waktu, disela si kakak dan si adik tidur atau kadang saat malam hari ketika semuanya sudah terlelap. Biasanya saya menulis dengan menggunakan notes di handphone, setelah kondisinya cukup memungkinkan baru saya post di blog. Konsekuensinya, untuk menyelesaikan satu tulisan jadi lama banget, tapi saya selalu berusaha untuk bisa menulis setiap harinya. Untuk kegiatan yang satu ini, saya memang harus belajar untuk me-manage waktu dengan lebih baik lagi. 

Dengan kerempongan yang ada kadang saya merasa stress juga. Apalagi kalau kondisi fisik sedang turun. Untungnya suami saya cukup pengertian, terutama dalam mengambil alih tugas-tugas selama saya sakit dan tentu saja dalam mendengarkan keluh kesah saya sebagai istri. :) Curhat sesekali menurut saya lebih sehat moms dibandingkan dengan berusaha kuat dan menanggung semua beban sendirian. Asalkan dilakukan dengan wajar dan enggak berlebihan, menurut saya sah-sah saja. 
Saat anak-anak sedang enggak kooperatif dan rewel, saya pun mencoba untuk berdamai dengan kondisi yang ada. Meskipun enggak mudah, terkadang emosi saya pun terpancing. Jurus yang paling ampuh untuk menghadapi situasi seperti ini adalah berdoa. Saya merasa dengan doa, kondisi hati saya lebih tenang dan mampu menghadapi kondisi dengan lebih baik. Saya pun jadi lebih sabar terutama dalam mengurus anak-anak. 

Setiap ibu pasti punya ceritanya masing-masing. Ini cerita singkat saya, bagaimana dengan cerita moms? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?