Langsung ke konten utama

MELEJITKAN POTENSI ANAK DENGAN MEMBACAKAN CERITA

Memperkenalkan anak pada buku sejak dini
Siapa moms di sini yang menyediakan waktu khusus untuk membacakan cerita pada anak-anaknya? 

Saya dan anak pertama saya senang sekali membaca buku. Sejak belum genap satu tahun usia anak saya, saya memang sudah memperkenalkan buku kepadanya. Awalnya saya membelikan ia buku bantal yang berwarna-warni dan juga buku bertekstur. Saya bacakan buku-buku tersebut berulang-ulang, meskipun anak saya belum memahami ceritanya.
Setelah agak besar, saya menyediakan waktu di sela waktu bermain untuk membacakan cerita. Awalnya anak saya tidak mau duduk tenang mendengarkan. Saat saya bercerita, biasanya anak saya akan sibuk dengan hal lain. Jika itu terjadi, saya akan melihat kondisi mood anak saya terlebih dahulu. Kalau memungkinkan cerita akan saya lanjutkan meskipun anak saya tidak memperhatikan, tapi kalau kondisi moodnya tidak memungkinkan cerita pun saya hentikan meskipun belum selesai. Intinya adalah kegiatan membacakan cerita itu tetap dilakukan setiap hari, selesai atau pun tidak. Seiring dengan berjalannya waktu, saya perhatikan minat anak saya terhadap buku yang semakin hari semakin meningkat. Kini anak saya sudah mau duduk mendengarkan cerita sampai selesai, bahkan terkadang anak saya juga ingin ikut membacakan cerita. Ketika saya belum sempat membacakan buku pada anak saya hari itu, ia kadang berinisiatif untuk membaca sendiri. Meskipun pada kenyataannya anak saya belum bisa membaca karena usianya baru 2,5 tahun. :)

Kenapa sih saya begitu ngotot dengan kegiatan membaca ini? 

Bagi saya menjadikan anak saya melek literasi merupakan salah satu agenda penting pengasuhan saya.  Karena melalui membaca, anak akan mendapatkan banyak manfaat. Melalui buku "Read Aloud Handbook", Jim Trelease menyebutkan kalau membacakan cerita, baik dari buku, surat kabar maupun media lainnya dapat membantu anak dalam menambah lebih banyak kosa kata. 

Selain itu sebuah studi yang dilakukan pada 150.000 murid kelas IV di Amerika menunjukan bahwa murid yang dibacakan cerita setiap harinya di rumah menunjukan adanya peningkatan prestasi belajar sebanyak 30% dibandingkan dengan murid yang tidak dibacakan cerita. Secara logika, proses belajar tidak dapat dilepaskan dari membaca. Dengan demikian, memiliki minat terhadap membaca menjadi sangat penting untuk mendorong prestasi belajar anak.
The read-aloud handbook karya Jim Trelease

Membacakan cerita pada anak juga dapat menumbuhkan minat anak terhadap membaca. Dengan membacakan cerita, anak akan menemukan pengalaman positif terhadap membaca. Pengalaman positif tersebutlah yang akan mendorong anak untuk mencintai aktifitas membaca buku di kemudian hari. Untuk memberikan pengalaman membaca yang positif terhadap anak, orang tua tentu harus menjadi role model terlebih dahulu bagi anak. Tentu akan sulit bagi orang tua untuk menumbuhkan kecintaan terhadap membaca, kalau mereka sendiri tidak memiliki minat dalam membaca. Itulah mengapa disela waktu beristirahat, saya senang membaca. Saya biarkan anak saya mengamati saya membaca. Kadang anak saya ikut "nimbrung" dengan bertanya ini dan itu tentang buku yang saya baca. Saya sih senang saja menanggapi pertanyaannya, walaupun kegiatan membaca saya jadi sedikit terusik karenanya. :)

Membacakan cerita pada anak, juga memberikan anak prior knowledge atau pengetahuan latar belakang. Prior knowledge ini akan membantu anak dalam proses belajar dikemudian hari. Karena anak dapat mengasosiasikan pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya dengan hal-hal baru yang ia pelajari. Semakin banyak anak dibacakan cerita, semakin banyak pula pengetahuan yang ia peroleh. 
Manfaat membacakan cerita kepada anak banyak sekali ya moms. Dengan demikian, aktifitas ini dapat dijadikan sebagai agenda rutin bagi moms dan anak. Buatlah aktifitas membaca ini senyaman dan semenyenangkan mungkin bagi anak. Saya biasanya memberikan ruang bagi anak saya untuk memilih buku yang ingin dibacakan, agar ia terpacu untuk mendengarkan. 

Anak telah dibekali oleh Allah swt kecerdasannya masing-masing. Kitalah sebagai orang tua yang bertugas untuk membantu anak mengeksplorasi dan memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Membacakan cerita pada anak telah terbukti membantu anak dalam proses belajarnya dikemudian hari. Maka bantu anak memaksimalkan potensi kognitif dan afektifnya melalui membaca. 

Yuk kita bangun kecintaan anak terhadap membaca dengan mulai menjadi orang tua melek literasi.:)

Komentar

  1. Kalau saya terus terang jarang membaca bersama 😁

    TapI Alhamdulillah anak saya suka membaca.
    Mungkin karena saya sering mengajak dia ke toko buku dan membiarkan dia membeli buku yang diinginkannya 😊

    BalasHapus
  2. Yup.. Betul mba.. Dengan memberikan kebebasan ke anak untuk memilih buku yang dia suka, anak biasanya lebih semangat untuk baca.
    Mungkin karena anak saya masih kecil kali mba, hehe.. Jadi fasenya masih tahap pengenalan membaca. Makanya saya sediakan waktu khusus untuk baca bersama. Kalau anaknya sudah punya minat baca dan suka baca buku sendiri, juga enggak masalah. Lebih bagus malah menurut saya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…