MENGENAL SENYAWA AKRILAMIDA

Sumber: Pixabay.com

Belakangan ini ramai diberitakan di media terkait adanya vonis hakim negara bagian California,  Amerika Serikat yang memutuskan gerai kopi Starbuck dan produsen kopi lainnya diwajibkan untuk menyertakan peringatan tentang bahaya senyawa akrilamida yang terkandung di dalam produknya (baca juga: Mengenal Kandungan Akrilamida pada Kopi Benarkah Picu Kanker). Berita ini cukup meresahkan bagi saya yang pecinta kopi. Saya jadi khawatir, amankah kopi yang saya minum. Karena ingin tahu, saya pun mencoba mencari informasi terkait senyawa ini. Sebenarnya apa sih senyawa akrilamida itu? Apakah senyawa ini memang berbahaya bagi kesehatan? 


Senyawa akrilamida adalah senyawa organik sederhana dengan rumus kimia C₃H₅NO. Senyawa ini dihasilkan makanan apabila dipanaskan dengan suhu lebih dari 120 derajat celcius. Senyawa ini sebenarnya dapat terbentuk dari berbagai bahan makanan termasuk kopi, misalnya pada makanan yang mengandung pati seperti kentang. Pada laporan penelitian yang dilakukan Donald S Mottram, Bronislaw L. Wedzicha dan Andrew T. Dodson pada tahun 2002 disebutkan senyawa akrilamida dapat terbentuk karena reaksi maillard antara asam amino dan gula. Reaksi maillard sendiri adalah reaksi pencoklatan non enzimatis yang terjadi karena adanya reaksi antara gula pereduksi dengan gugus amin bebas dari asam amino atau protein. 

Senyawa ini bersifat karsinogenik, artinya senyawa ini dapat memicu penyakit kanker. Namun WHO mencatat potensi kemunculan penyakit kanker ini hanya terjadi pada orang yang terpapar secara intens oleh senyawa akrilamida selama waktu tertentu. Data ini diperoleh melalui studi yang dilakukan antara tahun 1925-1976 pada sejumlah pekerja di Sebuah tempat monomer dan polimer plants yang  terpapar senyawa akrilamida. Lebih jauh lagi, WHO sendiri membatasi jumlah aman kandungan senyawa akrilamida yang terkandung dalam bahan makanan sebesar 0,5 μg/L (ppb). 

Pada kopi sendiri senyawa akrilamida terbentuk dari proses pemanasan dengan suhu yang sangat tinggi pada saat roasting biji kopi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh M. Hatta Prabowo, dkk pada sampel kopi bubuk dan kopi instan, senyawa akrilamida yang terkandung pada kedua jenis kopi tersebut masih dalam ambang batas aman. Food and Drug Adminstration (FDA),  memperkirakan jumlah konsumsi aman senyawa akrilamida adalah sebesar 2.6 µg/kg per hari, dengan asumsi berat badan rata-rata orang Indonesia 40-80 kg, maka konsumsi akrilamida yang masih diperbolehkan berkisar antara 80-160 µg per hari. Meskipun senyawa akrilamida masih tergolong aman jika dikonsumsi dengan jumlah yang sangat sedikit, namun ada baiknya kita tetap cermat dalam mengolah dan mengonsumsi makanan sehari-hari. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi kadar senyawa akrilamida pada makanan yang kita konsumsi:

  1. Hindari memasak makanan terlalu lama. Waktu memasak makanan mempengaruhi jumlah kadar akrilamida yang terkandung dalam makanan. Semakin lama bahan makanan dimasak semakin tinggi pula kadar akrilamida yang terkandung di dalamnya. 
  2. Jangan menyimpan bahan makanan mengandung pati seperti kentang di kulkas. Hal ini karena menyimpan kentang di kulkas dapat meningkatkan kadar senyawa akrilamida di dalamnya pada saat proses memasak. 
  3. Pergunakan minyak baru saat menggoreng. Menggunakan minyak goreng secara berulang, sangat berbahaya bagi kesehatan. Saat minyak goreng dipanaskan, minyak akan mengalami proses oksidasi dan degradasi yang mengakibatkan munculnya radikal bebas yang bersifat karsinogenik.
  4. Perbanyak konsumsi makanan yang direbus dan dikukus dibandingkan digoreng dan dipanggang. Mengolah makanan dengan cara dikukus atau direbus lebih sehat dibandingkab dengan digoreng atau dipanggang, pasalnya kandung gizi makanan saat dikukus atau direbus tetap terjaga dibandingkan digoreng atau dipanggang. Proses memasak yang membuat makanan menjadi kehitaman juga tidak baik untuk kesehatan, krn berpotensi menyebabkan kanker. 
  5. Potonglah bahan makanan dengan potongan yang tebal dan goreng dengan suhu yang tinggi dalam waktu yang singkat. Memasak makanan dengan waktu yang lama lebih meningkatkan kadar akrilamida dalam makanan. Maka lebih baik memasak dengan api besar dalam waktu yang singkat dibandingkan memasak dalam waktu yang lama. 

Mengolah makanan dengan cara yang benar akan menjaga kandungan gizi dari makanan yang kita konsumsi. Mengurangi makan makanan yang diproses dengan digoreng atau dibakar tentu akan lebih baik untuk menjaga kesehatan. Meskipun sesekali enggak apa-apa sih.. Berhubung makan ayam goreng atau steik itu enak banget, hehe 
Saya cukup lega sih karena setidaknya kopi yang saya konsumsi cukup aman. Hal yang terpenting jangan menonsumsi apa pun secara berlebihan. Karena yang berlebihan itu tentu tidak baik kan moms.. 

Komentar

  1. wah baru tau apa itu akrimilida ini, ulasan yang sangat bermanfaat mba jadi bertambah ilmu pengetahuan saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun baru tau setelah baca sana sini. Skrng jd smakin hati2 deh pilih makanan.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Social Network