Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

SETIAP PERKATAAN MENGANDUNG TANGGUNG JAWAB

Pagi ini saya terhenyak, sebuah kabar kurang mengenakan tersiar di perumahan tempat saya tinggal. Salah satu rumah tetangga saya kemalingan! Enggak tanggung-tanggung, benda yang hilang adalah sebuah toren. Iya... Anda tidak sedang salah membaca. Toren, itu loh... Tempat penampungan air yang suka diletakan di atas rumah. 
Kronologisnya, salah seorang tetangga saya mendengar bunyi hantaman keras di belakang rumahnya, setelah diselidiki asal suara tersebut ternyata datang dari sebuah toren yang jatuh di pekarangan belakang rumah. Ternyata toren tersebut milik tetangga belakang yang saat itu juga sedang kebingungan mencari-cari torennya yang raib dibawa maling. Sampai di sini ceritanya terdengar menggelikan ya? 
Tapi ternyata cerita ini tidak sampai di situ, entah bagaimana mulanya, seorang tetangga saya yang lain tiba-tiba ditetapkan sebagai tersangka. Saya kurang paham juga apa yang mendasari, namun sedihnya kabar ini sudah terlanjur tersebar di grup whatsapp warga. Bahkan foto tetangga s…

5 LANGKAH MEMBERI MAAF

Banyak yang bilang kalau berkata “maaf” adalah hal yang paling sulit dilakukan. Kalau menurut saya sih tidak, justru memberi maaf itu lebih sulit dibandingkan memintanya. Terkadang bisa saja saat kita berucap, “Oke,  saya maafkan”, tapi sebenarnya kita tidak benar-benar ikhlas memaafkan. Apalagi saat orang yang berbuat salah tidak merasa kalau dirinya salah. Wah.. Jadi semakin sulit untuk kita memaafkan orang tersebut.
Namun ada baiknya sebelum kita memulai aktivitas ibadah di bulan Ramadhan, kita mengawalinya dengan bersih hati. Sayang sekali ibadah kita yang ternoda karena kita menyimpan amarah pada orang lain. Rasulullah saw sendiri telah mengajarkan kita bagaimana bersikap terhadap orang yang berbuat kesalahan pada kita, seperti dikutip pada hadist berikut:
“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudia…

TIPS: MENYIAPKAN MPASI SAAT MUDIK

Salah satu wacana terbesar dalam bulan ini adalah mudik, benar enggak moms? Mudik jadi momen yang ditunggu-tunggu saat lebaran nanti. Apalagi untuk orang-orang yang tinggal di kota, mudik jadi momen untuk bisa berkumpul dengan keluarga sekaligus "melarikan diri" dari rutinitas sehari-hari. 
Tapi mudik juga jadi tantangan tersendiri, terutama untuk orang tua yang punya bayi dan balita. Saya kalau sedang menginap di rumah orang tua semalam saja, bawaan barangnya sudah seperti orang bedol desa. Enggak kebayang deh kalau mudik akan bagaimana. Mudik saat bayi masih mengonsumsi ASI saja mungkin enggak terlalu banyak masalah. Tapi kalau sudah mulai makan Makanan Pendamping ASI (MPASI),  weleh... Bawaannya kayak orang mau pindah rumah, deh
Sekarang ini, si bungsu memang belum makan, tapi sepengalaman saya ketika si sulung ikut mudik saat sudah makan MPASI, keperluan yang disiapkan memang cukup banyak. Apalagi di kampung suami saya di Botekan, pasar cukup jauh dari rumah. Jadilah …

MENJADI ORANG TUA DI ERA DIGITAL

Gempuran perkembangan teknologi menjadikan peran kita sebagai orang tua semakin menantang. Pekerjaan rumah kita sebagai orang tua menjadi bertambah. Orang tua tempo dulu tidak dipusingkan dengan anak yang kecanduan gadget dan game online. Dahulu orang tua juga tidak perlu bingung mendorong anaknya untuk gemar membaca. Karena membaca mungkin memang sudah menjadi salah satu hiburan anak-anak kala itu. 
Namun sekarang kondisinya jauh berbeda, banyak anak lebih fokus  dengan gawainya. Malas beraktivitas di luar rumah, apalagi menghabiskan waktu dengan membaca buku. Padahal paparan berlebihan terhadap gawai dapat membawa efek buruk, tidak hanya bagi kesehatan fisik, tetapi juga emosional anak.
Masih segar diingatan kita, kasus anak yang kecanduan bermain gawai sampai harus menerima perawatan di rumah sakit jiwa. Kecanduannya sudah sangat parah, hingga ia akan mengamuk, melukai orang lain bahkan  dirinya sendiri jika tidak diberikan gawai. 
Namun, memang tidak bisa dipungkiri bahwa gawai s…

SERUNYA PUNYA ANAK DENGAN JARAK USIA BERDEKATAN

Saya termasuk orang yang perlu menunggu sebelum akhirnya dikaruniai anak. Kira-kira satu tahun setelah menikah saya dan suami menunggu sebelum akhirnya Allah amanahi kami si kakak. Tapi alhamdulillah.. Ketika kami berencana untuk punya anak kedua, saya hanya perlu menunggu waktu sebulan saja setelah niatan tersebut. Jadilah anak pertama dan kedua saya usianya tidak terpaut jauh, 2.5 tahun tepatnya. Bahkan saya sempat "ditegur" tante saya di acara keluarga. Katanya anak sekarang senengnya buru-buru banget (Ya tante.. Kalau udah dikasih sama Allah ya gimana ye..😜). Punya anak dengan usia yang cukup dekat memang ada suka dukanya moms. Waktu saya hamil anak kedua, saya sampai khawatir dengan si kakak. Kekhawatiran ini sampai bikin saya gloomy (padahal mah si kakak biasa saja🙊). Saya cari informasi tentang sibling rivalry, memikirkan kado untuk kakak supaya dia happy pas adiknya lahir sampai mempersiapkan kamar perawatan supaya si kakak bisa ikut nginep di rumah sakit waktu saya…

ASA UNTUK ARA [BOOK REVIEW]

Ara namanya, seorang gadis kecil yang didiagnosa sebagai slow learner. Datang kepada si penulis untuk menjalani serangkaian sesi terapi. Ibu Ara datang dengan harapan anaknya mampu belajar dan naik kelas agar Ara tidak berada di kelas yang sama dengan adiknya. Ternyata permasalahannya tidak sesederhana itu. Apa yang dialami oleh Ara hanyalah bagian kecil dari konflik yang terjadi dalam keluarga terutama diri ibundanya. Ara pun menjalani sesi terapi dengan si penulis. Dengan sesi terapi yang dijalani, Ara berangsur mengejar ketertinggalannya. Perlahan.. Tapi tetap menuju ke arah yang lebih baik. Karena sejatinya Ara adalah anak yang istimewa, tinggal dari sudut pandang mana ia dilihat. 
Ara tak pernah meminta dilahirkan sebagai anak yang berbeda. Ara bukanlah anak yang "kurang", ia sama istimewanya dengan anak-anak lain. Hanya orang tua lah yang perlu berusaha lebih keras untuk menemukan keistimewaannya. Sayangnya beberapa orang tua tidak sesabar itu dalam pencariannya. Mere…

BILANG "ENGGAK" BUKAN BERARTI TEGA

Moms.. Sering enggak sih merasa sulit banget menolak permintaan orang lain?
"Bu.. Bantuin jadi panitia acara ini ya!"
"Dek, lo aja yang masak buat acara keluarga minggu besok ya! "
Sounds familiar? Untuk sebagian orang, menolak permintaan itu ternyata bukan hal yang mudah (termasuk untuk saya🙊). Padahal kita sendiri kadang kewalahan mengatur waktu kita sehari-hari. Ditambah lagi harus repot dengan urusan-urusan tambahan. Perasaan enggak enak kalau menolak permintaan orang lain biasanya jadi alasan. Apalagi kalau yang minta tolong itu orang yang sangat dekat dengan kita, seperti keluarga atau sahabat.
Padahal menolak permintaan itu tidak selalu buruk loh moms. Kita kan juga harus mengukur kemampuan diri sendiri. Kalau kita terima saja, lalu ternyata kita enggak amanah, kan sama saja dengan merugikan orang lain. Menurut saya, asal caranya baik, menolak permintaan itu sah-sah saja kok
Ternyata menolak permintaan orang lain itu butuh strategi juga. Berikut ini adala…

JANGAN TAKUT BERPUASA!

Ramadhan hampir tiba! Enggak terasa ya moms, tinggal menghitung hari saja. Apa yang sudah dipersiapkan nih? Kue-kue? Budget beli baju baru? Hehe.. Pastinya bukan hanya sekedar itu ya moms. Bulan Ramadhan menjadi momen yang spesial untuk kaum muslimin. Ibaratnya Allah sedang bagi diskon besar-besaran. Pahala dilipat gandakan, dosa-dosa diampuni,  maka dari itu, melewatkan bulan Ramadhan sekedarnya akan jadi hal yang rugi banget. 
Namun sayangnya untuk ibu menyusui seperti saya, bulan Ramadhan juga menjadi momen yang menantang. Produksi ASI bisa saja menurun karena berpuasa. Kasihan anak saya nanti, bisa-bisa ASInya tidak mencukupi. Padahal saya tidak ingin melewati bulan Ramadhan kali ini tanpa berpuasa. Tapi ternyata ibu menyusui juga bisa loh berpuasa tanpa khawatir produksi ASInya menurun. 
Pertama, niat, niat dan niat. Ini hal yang penting banget. Banyak ibu menyusui yang khawatir untuk puasa karena takut lapar. Kan memang ibu menyusui mudah lapar tuh, hehe. Itu kenapa menguatkan tek…