5 LANGKAH MEMBERI MAAF

Banyak yang bilang kalau berkata “maaf” adalah hal yang paling sulit dilakukan. Kalau menurut saya sih tidak, justru memberi maaf itu lebih sulit dibandingkan memintanya. Terkadang bisa saja saat kita berucap, “Oke,  saya maafkan”, tapi sebenarnya kita tidak benar-benar ikhlas memaafkan. Apalagi saat orang yang berbuat salah tidak merasa kalau dirinya salah. Wah.. Jadi semakin sulit untuk kita memaafkan orang tersebut.

Namun ada baiknya sebelum kita memulai aktivitas ibadah di bulan Ramadhan, kita mengawalinya dengan bersih hati. Sayang sekali ibadah kita yang ternoda karena kita menyimpan amarah pada orang lain. Rasulullah saw sendiri telah mengajarkan kita bagaimana bersikap terhadap orang yang berbuat kesalahan pada kita, seperti dikutip pada hadist berikut:

“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.”(HR. Thabran)

Tapi memang, sebagai manusia biasa, menasihati orang untuk memaafkan tentu lebih mudah daripada melakukannya. Hal tersebut juga terjadi pada saya. Apalagi orang yang menyakiti adalah orang terdekat. Lidah memang tidak bertulang, sebuah ucapan yang begitu minim empati meluncur dari mulut orang terdekat saya ketika anak sulung saya dirawat di ruang intensif ketika dilahirkan. Sakit hati, tentu saja. Marah dan sedih bercampur jadi satu. Kok ya bisa orang bicara begitu menyakitkan saat kondisi orang lain sedang sulit.

Tapi kemudian saya sadar, tidak ada gunanya menyimpan kemarahan. Apalagi kejadiannya sudah berlangsung cukup lama dan sekarang adalah momen terbaik untuk memaafkan karena bulan Ramadhan. Saya tidak ingin Ramadhan saya sia-sia karena menyimpan kemarahan. Itulah yang kemudian membuat saya memutuskan untuk memaafkannya.

Saya mulai proses memaafkan saya dengan mengingat kejadiannya. Aneh memang, karena biasanya orang justru berusaha untuk melupakan kesalahan orang lain. Tapi bagi saya, dengan mengingat kejadian yang membuat saya marah, saya menjadi sadar akan kondisi yang sebenarnya. Saat kejadiannya berlangsung, saya menilai dengan emosi saya. Tentu saja hal tersebut menjadi subjektif. Namun ketika di lain waktu saya mencoba kembali mengingat kejadian tersebut, saya memiliki sudut pandang yang lebih objektif, sehingga saya dapat melihat permasalahan yang sebenarnya dengan logika bukan emosi semata.

Setelah mengingat kejadian saat itu, kemudian saya mencari tahu apa yang membuat saya marah saat itu. Apakah karena isi perkataannya? Atau karena siapa yang mengucapkannya? Atau karena hal lainnya? Akan sulit bagi saya untuk menyembuhkan luka kalau saya tidak tahu dimana letak lukanya. Itu kenapa saya perlu memastikan apa yang sebenarnya membuat saya marah.

Ketika saya sudah menyadari apa yang sebenarnya membuat saya marah, saya pun mencoba untuk mengubah sudut pandang. Saya yakin bahwa orang tersebut bukan sengaja ingin menyakiti hati saya. Kadang hanya bermaksud berbasa-basi dengan berkomentar, namun kemampuan empati orang memang berbeda-beda, mungkin itu yang terjadi pada orang tersebut. Ia ingin menunjukan perhatian, namun dengan cara yang tidak berkenan di hati saya. Mengubah sudut pandang membuat saya mampu melihat sebuah kejadian dengan lebih positif. Memang tidak ada yang dapat saya lakukan untuk mengubah kejadian yang sudah terlanjur terjadi, namun saya dapat mengendalikan persepsi saya dalam melihat kejadian tersebut.

Selain mencoba mengubah sudut pandang saya terhadap kejadian yang membuat saya marah, saya juga mengingat kebaikan-kebaikan orang yang telah menyakiti saya. Dengan mengingat kebaikan orang tersebut, saya dapat menemukan hal positif yang dapat menutup kesalahan orang tersebut. Entah itu pengorbanan yang pernah dilakukannya, pemberian-pemberiannya atau mungkin kebaikan lain yang tidak ditujukan pada kita misalnya ia mungkin orang yang dermawan kepada fakir miskin. Namun dengan fokus pada kebaikan, saya jadi melihat orang tersebut sebagai sosok yang lebih baik. Manusia tentu tidak terlepas dari kesalahan, mungkin saja saat orang tersebut berbuat salah pada kita, ia khilaf dan tidak sengaja melakukannya.

Dengan mengingat orang tersebut sebagai sosok yang baik dan menilai kejadian yang membuat saya marah dengan lebih objektif, saya pun memaafkan orang tersebut dan bertekad untuk tidak mengungkit dan memikirkan kesalahannya. Proses ini mungkin akan saya jalani dalan beberapa waktu. Luka memang tidak seketika sembuh. Namun saya sadar, bahwa menyimpan kemarahan hanya membawa kerugian bagi diri saya sendiri. Saya memilih untuk membebaskan diri. Karena luka hati tidak dapat sembuh dengan sendirinya. Luka hati hanya dapat disembuhkan jika saya memaafkan.

“Jika kamu membuat suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan orang lain, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (HR. Bukhari)

Komentar

Postingan Populer

Social Network