Langsung ke konten utama

ASA UNTUK ARA [BOOK REVIEW]

Ara namanya, seorang gadis kecil yang didiagnosa sebagai slow learner. Datang kepada si penulis untuk menjalani serangkaian sesi terapi. Ibu Ara datang dengan harapan anaknya mampu belajar dan naik kelas agar Ara tidak berada di kelas yang sama dengan adiknya. Ternyata permasalahannya tidak sesederhana itu. Apa yang dialami oleh Ara hanyalah bagian kecil dari konflik yang terjadi dalam keluarga terutama diri ibundanya. Ara pun menjalani sesi terapi dengan si penulis. Dengan sesi terapi yang dijalani, Ara berangsur mengejar ketertinggalannya. Perlahan.. Tapi tetap menuju ke arah yang lebih baik. Karena sejatinya Ara adalah anak yang istimewa, tinggal dari sudut pandang mana ia dilihat. 

Ara tak pernah meminta dilahirkan sebagai anak yang berbeda. Ara bukanlah anak yang "kurang", ia sama istimewanya dengan anak-anak lain. Hanya orang tua lah yang perlu berusaha lebih keras untuk menemukan keistimewaannya. Sayangnya beberapa orang tua tidak sesabar itu dalam pencariannya. Mereka menginkan hasil yang cepat, berapa pun uang yang harus dikeluarkan. "Perbedaan" anak dengan anak lainnya dianggap sebagai sebuah penyakit yang perlu diobati. Orang tuanya lupa, bahwa di balik kekurangan Ara, tentu ada kelebihan pula. 

Membaca buku ini sungguh menampar saya. Bikin baper, kalau kata anak zaman sekarang. Anak seringkali dijadikan tropi bagi orang tuanya. Apa yang ditampilkan oleh anak dianggap sebagai pencapaian orang tua. Lalu ketika ternyata anak tidak bisa menunjukan performa seperti yang diharapkan, orang tua pun menjadi cemas berlebihan. Orang tua kemudian menempatkan dirinya sebagai korban atau malah mungkin jadi menyalahkan diri sendiri atau pasangan. Anak tidak dimanusiakan, tapi dianggap sebagai hasil kerja keras orang tua. 

Padahal sejatinya, anak adalah jiwa yang di dalamnya kaya akan potensi. Setiap anak tentu memiliki potensi yang tidak seragam. Anak yang dianggap kurang pasti memiliki kelebihan di sisi lain. Anak yang dianggap lebih tentu juga punya kekurangan. Sebagai orang tua, seharusnya kita menerima anak secara lengkap, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Melimpahinya dengan banyak cinta, sehingga anak pun dapat merasakan penerimaan dari orang tuanya. Dengan cinta, orang tua akan memiliki kepekaan terhadap hal positif yang dimiliki anaknya. Dengan begitu, orang tua dan anak fokus untuk mengembangkan kelebihan bukan menghakimi dan berkutat dengan kekurangan. 

Buku ini menyetuh saya, mungkin karena saya juga seorang ibu. Di dalamnya penulis juga memaparkan teknik-teknik stimulasi dalam belajar. Namun yang paling menarik bagi saya adalah pemaparan tentang teknik Emotional Freedom Technique (kayaknya saya butuh deh🙈). Emotional Freedom Technique adalah salah satu teknik konseling yang menggabungkan berbagai intervensi seperti akupuntur, pendekatan neuro-linguistik, obat dan thought field thearapy. 

Intinya saya belajar banyak dari membaca buku ini. Sepertinya setiap orang tua juga perlu deh membaca buku ini. Terlepas dari segala macam teknik stimulus yang dipaparkan oleh penulis, buku ini memberikan makna yang dalam tentang penerimaan orang tua terhadap anak dan bagaimana setiap orang tua (terutama ibu) perlu menerima dan memaafkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum membuat penerimaan. 

Judul Buku: Gadis Kecil Itu Bernama Ara
Penulis : Bunda Ve
Penerbit : Elex Media Komputindo
Terbitan Pertama : Tahun 2014
ISBN : 978-6-020244-556

#recommendedbook
#emakmembaca
#reviewbuku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…