Langsung ke konten utama

MENJADI ORANG TUA DI ERA DIGITAL

Gempuran perkembangan teknologi menjadikan peran kita sebagai orang tua semakin menantang. Pekerjaan rumah kita sebagai orang tua menjadi bertambah. Orang tua tempo dulu tidak dipusingkan dengan anak yang kecanduan gadget dan game online. Dahulu orang tua juga tidak perlu bingung mendorong anaknya untuk gemar membaca. Karena membaca mungkin memang sudah menjadi salah satu hiburan anak-anak kala itu. 

Namun sekarang kondisinya jauh berbeda, banyak anak lebih fokus  dengan gawainya. Malas beraktivitas di luar rumah, apalagi menghabiskan waktu dengan membaca buku. Padahal paparan berlebihan terhadap gawai dapat membawa efek buruk, tidak hanya bagi kesehatan fisik, tetapi juga emosional anak.
Gawai menjadi alat yang tidak terlepaskan dari dunia anak

Masih segar diingatan kita, kasus anak yang kecanduan bermain gawai sampai harus menerima perawatan di rumah sakit jiwa. Kecanduannya sudah sangat parah, hingga ia akan mengamuk, melukai orang lain bahkan  dirinya sendiri jika tidak diberikan gawai. 

Namun, memang tidak bisa dipungkiri bahwa gawai sudah menjadi kebutuhan di era sekarang ini. Kita tidak mungkin juga mengisolasi anak-anak kita dan tidak boleh berinteraksi sama sekali dengan gawai. Sedang di lingkungannya sendiri penggunaan gawai sudah menjadi hal umum. Bisa-bisa anak kita jadi kudet alias kurang update

Yee-Jin Shin seorang psikiater dan praktisi pendidikan anak di Korea membahas tantangan tersebut dalam bukunya yang berjudul Mendidik Anak di Era Digital: Kiat Menangkal Efek Buruk Teknologi Terhadap Anak. Yee-Jin Shin memaparkan pengalamannya selama menangani klien-kliennya di Korea. Ia memulainya dengan menangkap gambaran anak-anak dalam masyarakat Korea pada umumnya. Dimana menurutnya, sebagian besar memiliki perilaku yang kurang baik dan emosi yang sulit dikendalikan. Hal tersebut menurutnya dipengaruhi oleh tingginya penggunaan gawai pada anak dan remaja di Korea. Jin-Shin juga memaparkan dampak negatif penggunaan gawai secara berlebihan seperti prestasi belajar yang menurun dan emosi yang mudah meledak. 
Buku karya Yee-Jin Shin
Pada buku ini, Yee-Jin Shin menyebut terminologi digital parenting yang merujuk pada pengasuhan di era digital. Jin Shin menambahkan bahwa kedekatan orang tua dengan anak adalah kunci kesuksesan dari praktik digital parenting ini. 

Lebih jauh lagi, Jin Shin juga memaparkan 7 prinsip dalam digital parenting yang antara lain:

Prinsip 1: yang terpenting bukan "apa" jenisnya, melainkan "kapan" memberikannya. 
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan fasilitas gawai kepada anak adalah waktu pemberiannya. Anak di bawah dua tahun tentu tidak dianjurkan untuk menggunakan gawai. Pemberian gawai pada anak juga perlu memperhatikan tahap perkembangan usianya. Dampingi dan pastikan bahwa anak tidak mengakses situs atau game yang tidak sesuai dengan usianya. 
Prinsip 2: Kualitas lebih penting dari kuantitas. 
Selain waktu yang tepat dalam memberikan fasilitas gawai, menentukan durasi dalam menggunakannya juga sangat penting. Perhatikan kapan dan durasi ketika mengizinkan anak menggunakan gawai. Menurut Jin-Shin akan lebih efektif memberikan durasi waktu yang lebih panjang namun dengan intensitas yang jarang dibandingkan dengan durasi pendek namun rutin. Alasannya karena aktivitas pemakaian gawai yang rutin lebih berpeluang memunculkan kecanduan pada anak. Karena pemakaian rutin dapat membentuk sebuah kebiasaan. Disamping itu memberikan durasi penggunaan gawai yang lama lebih memberikan efek reinforcement kepada anak, karena ia merasa punya waktu yang cukup untuk bermain gawai. 
Prinsip 3: Tentukan sanksi saat anak melanggar janjinya. Untuk dapat membentuk kebiasaan baik dalam menggunakan gawai, anak perlu diajarkan untuk disiplin dalam menggunakan gawai. Orang tua mungkin perlu menerapkan sanksi ketika anak tidak disiplin dalam menggunakan gawai. Hal yang perlu diperhatikan dalam prinsip ini adalah pastikan bahwa sanksi yang diberlakukan telah dirumuskan bersama anak. Dengan demikian, anak jadi lebih bertanggung jawab karena ia merasa ambil andil dalam perumusannya. Tulisankan rumusan yang telah dibuat. Kalau perlu tanda tangani bersama anak dan tempel di tempat yang terlihat sebagai pengingat bagi anak. 
Prinsip 4: Jelaskan alasan ditetapkannya aturan. Sebagai orang tua, tentu kita tidak dapat bersikap otoriter. Kita tidak serta merta menerapkan sebuah peraturan tanpa menjelaskan alasan mengapa aturan tersebut harus diberlakukan. Jelaskan pada anak alasan yang rasional dan langsung berdampak pada dirinya. Misalnya tidak baik bermain gawai terlalu sering dan lama karena dapat mengganggu kesehatan mata. Jangan lupa untuk menggunakan bahasa yang sesuai dengan tahapan usia anak. Agar mudah dipahami oleh nalar anak. 
Prinsip 5: Berbagilah pengalaman tentang perangkat digital tentang anak. Menurut Jin-Shin, penting bagi orang tua untuk menunjukan minatnya pada aktivitas anak saat berinteraksi dengan gawai. Menunjukan minat yang dimaksud di sini bukan hanya sekedar menanyakan sudah berapa lama bermain gawai. Orang tua juga perlu menunjukan minatnya pada konten yang diakses oleh anak. Misalnya menanyakan bagaimana cara menaikan level atau poin pada sebuah permainan yang sedang dimainkan oleh anak. Dengan menanyakan hal tersebut, orang tua dapat memahami konten yang diakses oleh anak. Selain itu anak akan memberikan penghargaan pada orang tua yang berusaha untuk memahaminya. Namun yang perlu diingat adalah orang tua perlu berhati-hati dalam menerapkan prinsip ini. Karena jika orang tua salah menerapkannya, anak justru menangkap keingintahuan tersebut sebagai monitoring dari orang tua. Hal tersebut justru dapat membuat anak menjadi semakin tertutup. 
Prinsip 6: Libatkan seluruh anggota keluarga. 
Anda tidak mungkin menjalankan digital parenting tanpa didukung oleh lingkungan anak. Akan menjadi sia-sia ketika Anda menerapkan aturan penggunaan gawai sedangkan suami atau mertua Anda tetap memberikan gawai secara murah hati. Jelaskan pada anggota keluarga yang lain pentingnya Anda menerapkan aturan tersebut dan jangan lupa untuk mengajak setiap anggota keluarga untuk bekerjasama mendukung Anda. 
Prinsip 7: Mintalah bantuan ahli jika orang tua tidak dapat mengatasinya. Jika kondisi anak Anda mulai masuk dalam tahap kecanduan, inilah saatnya Anda meminta bantuan ahli untuk mengatasinya. Jangan biarkan berlarut-larut hingga kondisinya menjadi sulit ditangani. Segeralah minta bantuan ketika Anda mulai merasa kewalahan menangani keinginan anak Anda untuk bermain gawai. 

Saya pribadi termasuk orang tua yang membatasi penggunaan gawai pada anak. Boleh... Tapi dengan jumlah yang sangat terbatas dan pengawasan yang sangat ketat. Buat saya, memberikan gawai itu ibarat opsi terakhir untuk menyenangkan anak. Sejauh ini anak saya cukup menurut sih dengan aturan yang saya terapkan (semoga seterusnya begitu🙊).

Menurut saya, saat ini memang bukan lagi zamannya membangun generasi tanpa gawai. Karena sebetulnya jika kita menggunakannya secara bijaksana, gawai justru dapat memberikan manfaat dan kemudahan bagi kehidupan. Itu kenapa sekarang adalah zamannya membangun generasi cerdas bergawai. Agar anak-anak kita mampu mengoptimalkan penggunaan gawai secara bijaksana dan memiliki pengendalian diri dalam menggunakannya. 

Sumber gambar: Pixabay

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?