Langsung ke konten utama

SETIAP PERKATAAN MENGANDUNG TANGGUNG JAWAB

Sumber: Pixabay
Pagi ini saya terhenyak, sebuah kabar kurang mengenakan tersiar di perumahan tempat saya tinggal. Salah satu rumah tetangga saya kemalingan! Enggak tanggung-tanggung, benda yang hilang adalah sebuah toren. Iya... Anda tidak sedang salah membaca. Toren, itu loh... Tempat penampungan air yang suka diletakan di atas rumah. 

Kronologisnya, salah seorang tetangga saya mendengar bunyi hantaman keras di belakang rumahnya, setelah diselidiki asal suara tersebut ternyata datang dari sebuah toren yang jatuh di pekarangan belakang rumah. Ternyata toren tersebut milik tetangga belakang yang saat itu juga sedang kebingungan mencari-cari torennya yang raib dibawa maling. Sampai di sini ceritanya terdengar menggelikan ya? 

Tapi ternyata cerita ini tidak sampai di situ, entah bagaimana mulanya, seorang tetangga saya yang lain tiba-tiba ditetapkan sebagai tersangka. Saya kurang paham juga apa yang mendasari, namun sedihnya kabar ini sudah terlanjur tersebar di grup whatsapp warga. Bahkan foto tetangga saya tersebut ikut disebarluaskan dengan caption agar berhati-hati dan waspada jika bertemu dengannya.

Lidah memang tak bertulang, seketika orang-orang lupa kalau sekarang sedang bulan Ramadhan. Ada yang mencaci, ada yang mengungkit-ungkit kesalahan tetangga saya tersebut dan ada yang menimpali untuk sekedar mengompori. Saya yang warga baru hanya bisa menjadi silent reader sambil beristighfar berulang kali. Parahnya lagi tetangga yang disebut sebagai tersangka juga tergabung dalam grup whatsapp tersebut. 

Kehebohan di grup whatsapp terus bergulir hingga malam hari. Sampai akhirnya polisi yang dilibatkan dalam kasus tersebut menyatakan bahwa tetangga saya tersebut ternyata tidak bersalah! Astaghfirullah... Apa yang sudah kami lakukan?  Menuduh orang, mencaci bahkan menyebarkan keburukan tanpa dasar dan ternyata orang tersebut tidak bersalah! 

Miris benar saya... Kondisi seperti ini sebetulnya sudah sering saya lihat di media sosial. Apapun bentuknya, Facebook, Twitter, Instagram bahkan grup Whatsapp jadi media yang subur untuk menebar kebencian. Menurut saya penyebabnya sederhana, kita dapat berkomentar secara anonim. Kita bisa mencaci maki dan menuliskan kata-kata di luar batas moral kemudian melenggang melanjutkan hari seperti tidak ada yang terjadi.

Padahal apa yang kita tuliskan di media sosial tidak ubahnya dengan kata-kata yang langsung meluncur dari mulut kita. Kita lebih mudah menjaga lisan saat kita berhadapan langsung dengan orang lain, tapi seketika bisa sangat kejam ketika berkomentar di media sosial. 

Bully seakan-akan menjadi hal yang biasa di media sosial. Mungkin dikiranya, mem-bully secara verbal atau tulisan tidak akan memberikan dampak yang berbahaya seperti bully secara fisik.Padahal mem-bully di media sosial sama berbahayanya dengan mem-bully secara fisik. Seperti yang dialami oleh seorang remaja benama Rebecca Sedwick. Karena seringnya ia mendapat pesan ancaman dari teman sekolahnya melalui media sosial, ia pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Serem banget kan efek yang ditimbulkan karena bully di media sosial.

Di Indonesia pun bully di media sosial kerap terjadi. Biasanya dialami oleh public figur. Mirisnya bully ini terjadi tidak hanya pada orang dewasa, tapi juga anak-anak! Saya pernah iseng membaca komen IG milik salah satu artis di Indonesia. Saya sungguh tercengang dengan betapa orang bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu kejam dengan mudahnya. Kata-kata tersebut tidak hanya ditujukan pada si public figure, tetapi juga anaknya yang masih kecil. Sampai sedih saya membacanya, kok ya tega menuliskan hal semacam itu. 

Padahal tahukah moms bahwa setiap perkataan kita mengandung tanggung jawab? 
Dalam sebuah riwayat hadist,  Rasulullah saw pernah bersabda:

عَنْ أَبِى أَيُّوبَ الأَنْصَارِىِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ عِظْنِى وَأَوْجِزْ. فَقَالَ « إِذَا قُمْتَ فِى صَلاَتِكَ فَصَلِّ صَلاَةَ مُوَدِّعٍ وَلاَ تَكَلَّمْ بِكَلاَمٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَداً وَاجْمَعِ الإِيَاسَ مِمَّا فِى يَدَىِ النَّاسِ ».

Artinya: “Abu Ayyub Al Anshari radhiyallahu anhu berkata: “Pernah datang seseorang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia berkata: “Nasehatilah aku dan ringkaslah”, lalu beliau bersabda: “Jika kamu berdiri di dalam shalatmu, maka shalatlah dengan shalatnya seorang yang ingin berpisah dan janganlah kamu berbicara dengan perkataan yang kamu minta maaf dari besok harinya, dan berputus asalah dari (berharap kepada) apa yang ada di atangan-tangan manusia.” HR. Ahmad.

Rasulullah telah mengajarkan kita untuk menjaga lisan dari perkataan yang dapat menyakiti orang lain. Kalau dikaitkan dengan konteks sekarang, tentunya bukan hanya lisan, tapi juga jari tangan. Lisan, tidak digunakan untuk menyakiti orang lain. Bahkan dalam menasihati orang lain dalam kebaikan pun ada adabnya. Apalagi sekarang bulan Ramadhan, bulan yang sangat mulia. Rasanya sayang banget kalau pahala kita menguap karena kita tidak menjaga perkataan. 

Kita berkomentar seolah kita lupa kalau setiap yang kita ucap dan tuliskan akan dimintai pertanggung jawaban. Saya sebenarnya ngeri banget membayangkan ganjaran yang akan kita terima ketika kita tidak menjaga lisan. Berhubung yang namanya menjaga perkataan itu susah banget. Naudzubillah... Semoga kita dijauhkan dari dosa-dosa karena lisan kita ya moms... 😢

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz sambil memegang lisannya:

« كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا ».

“Jagalah ini olehmu”, dan setelah Mu’adz mengatakan:

يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ

“Wahai Nabi Allah, apakah kita akan diambil (sebagai dosa) dengan apa yang kita ucapkan.” Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “

« ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ ».

“Ibmu kehilanganmu wahai Mu’adz, apakah  manusia diseret di dalam neraka di atas wajah-wajah mereka atau leher-leher mereka kecuali disebabkan sebab-sebab lisan.” (HR. Tirmidzi)

Sebagai manusia biasa, kita tentu mudah berbuat dosa. Tapi setidaknya kita perlu berikhtiar sekuat tenaga untuk menghindar dari berbuat dosa. Agar kita tidak terjerumus dalam dosa-dosa lisan (dan tulisan), mungkin beberapa tips praktis berikut dapat membantu moms:

Jangan pernah memulai topik dalam membicarakan keburukan orang lain. Terutama di grup whatsapp, rentan banget tuh moms untuk memulai topik ngomongin orang alias bergosip. Jangan sampai kita yang mulai untuk membuka topik ya moms. Pokoknya hindari deh obrolan yang enggak berfaedah termasuk membicarakan keburukan orang lain. 

Terus gimana kalau ada yang membuka topik semacam ini? 

Kalau memungkinkan, nasihati orang yang sedang membicarakan keburukan orang lain, kalau enggak memungkinkan, ya... Kita jadi silent reader saja dan kalau ternyata lebih memungkinkan untuk left group, sebaiknya kita keluar saja dari grup whatsapp tersebut. 

Sebisa mungkin hindari lingkaran orang-orang yang hobi berkomentar negatif. Itu kenapa kita perlu memilih lingkaran pertemanan kita. Sebisa mungkin jauhi geng nyinyir dan pilihlah orang-orang yang positif untuk menjadi teman kita. Rasulullah saw pernah bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.

Hindari kolom komentar pada postingan orang di media sosial yang berpotensi menyulut komentar negatif. Terkadang saat kita sedang berselancar di Facebook atau Instagram, sering kita temui postingan teman kita yang bisa menimbulkan polemik. Entah itu berupa foto, tulisan atau sekedar status pendek, namun berpotensi memunculkan perdebatan atau komentar negatif. Kalau saya, meskipun rasanya kepo banget, biasanya menghindari membuka kolom komentar untuk postingan semacam ini. Karena bisa jadi, yang awalnya kita hanya sekedar lewat, kita malah jadi ikut-ikutan berkomentar. 

Perbanyak mengingat dosa dan ganjaran yang akan diterima. Ini yang sering kali susah untuk dilakukan, tapi seringkali efektif untuk menahan lisan dan jari kita. Ingatlah bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini akan mendapat balasan, sekecil apa pun dosa yang kita lakukan. Bergosip dan mencemooh orang di sosial media hanya akan menjadi kesenangan sesaat yang ujungnya justru akan membawa kerugian bagi diri sendiri. 

Ambil jeda sebelum melontarkan komentar. Berbicara dan menulis bukanlah sebuah aktivitas yang refleks. Itu artinya kita dapat melakukan filter sebelum melakukannya. Saya pribadi untuk mem-posting sesuatu di sosial media, baik itu foto, status atau komentar biasanya akan saya baca berulang-ulang sebelum saya enter. Bahkan terkadang sudah saya ketik panjang pun akhirnya tetap tidak saya posting. Saya harus mempertimbangkan 3 hal berikut sebelum mem-posting sesuatu di media sosial:
  • Apakah postingan saya tersebut berpeluang menyakiti orang lain? 
  • Apakah postingan tersebut bermanfaat? 
  • Apakah postingan tersebut dapat mempermalukan diri dan keluarga saya? 

Kalau ketiga hal tersebut sudah "aman",baru deh saya posting

Beraktivitas di media sosial ada adabnya, termasuk dalam berkomentar. Jagalah jari kita dari menulis hal-hal yang dapat merugikan orang lain. Ingatlah bahwa setiap yang kita tulis di media sosial sama dengan perkataan yang keluar dari mulut kita. Kalau tidak bisa berkata yang baik, lebih baik kita diam. Berkata buruk pada orang lain tidak memberi keuntungan pada siapa pun, termasuk pada kita yang mengucapkannya. Jagalah perkataan kita, karena pada setiap perkataan ada tanggung jawab yang harus kita bayar kelak. 

Sumber:
https://almanhaj.or.id/3480-teman-bergaul-cerminan-diri-anda.html

www.dakwahsunnah.com/artikel/targhibwatarhib/343-mengingat-bahwa-setiap-perkataan-dimintai-pertanggung-jawaban-–-tips-menjaga-lisan-bag-03

https://www.idntimes.com/news/world/erina-destya/korban-bullying-yang-bunuh-diri-c1c2

Komentar

  1. Ya Allah Bun, saya ikut sedih dan miris membacanya. Walau sedih, tetapi memang begitulah keadaan moral masyarakat kita. Menandakan kita bahwa kita pun punya PR mengedukasi diri dan masyarakat kita dimulai dari kita memberi contoh dan salah satunya lewat tulisan edukasi ini. Smga banyak yang teredukasi membaca tulisan bunda ya 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bun.. Miris dan sedih karena saya pun hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa. Semoga dengan menulis ini bisa menjadi pengingat terutama bagi diri saya sendiri🙏

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?