Langsung ke konten utama

KAPAN ANAK SIAP BERSEKOLAH?

Sumber: Pixabay
Orang tua mana yang tidak ingin memiliki anak yang cerdas. Setiap anak pasti didamba menjadi pribadi yang dapat mengoptimalkan potensi dirinya. Itu kenapa banyak orang tua yang berlomba-lomba untuk segera menyekolahkan anaknya. Menyekolahkan di sini maksudnya memasukan anak ke berbagai kegiatan mulai dari seni, olah raga sampai kegiatan dengan alam. Bahkan sebelum anak masuk sekolah formal dan anak bahkan belum genap usianya 2 tahun. Wow! 

Kalau di bogor, kelas-kelas aktivitas semacam itu menjamur banget. Bahkan babyclass pun ada. Kegiatannya tentu saja disesuaikan dengan usia anak. Kalau anaknya masih bayi, ya... Paling aktivitasnya sekedar bernyanyi dan latihan olah tubuh saja. Tapi kadang ikut kelas begini seru juga sih menurut saya. Karena paling tidak anak-anak punya variasi permainan lain selain main sama umminya, hehe

Ikut kelas-kelas semacam ini tentunya berbeda dengan sekolah formal. Anak bisa saja enjoy mengikuti kelas-kelas kegiatan ini, tapi setelah dimasukan sekolah formal ia malah "mogok". Karena tentu saja kondisi sekolah formal itu berbeda dengan kelas-kelas playdate. Menurut pengalaman saya ketika dulu mengajar pre-school, anak yang "dipaksakan" untuk masuk sekolah formal diusia dini biasanya lebih manja dan sulit mengikuti kegiatan di kelas. Bahkan pernah ada salah satu murid yang terpaksa ditemani orang tuanya di dalam kelas selama beberapa hari. 

Saya pribadi sih termasuk orang tua yang berpendapat tidak perlu terlalu terburu-buru memasukan anak ke sekolah formal. Selama di rumah anak mendapatkan stimulus yang cukup dan sesuai usianya dari orang yang mengasuhnya. Kondisinya memang tidak bisa dipukul rata, setiap anak berbeda. Ada anak yang sudah merengek minta sekolah padahal umurnya baru 2 tahun, ada juga yang usianya sudah mencukupi, tapi malah belum menunjukan tanda-tanda kesiapan sekolah. Sebaiknya memang jangan memaksakan anak untuk masuk sekolah formal jika belum siap, karena justru akan memberikan dampak kurang baik pada anak, seperti:

  1. Stress. Anak yang belum siap memasuki dunia baru akan mengalami tekanan ketika dipaksakan untuk melakukannya. Pada usia 2 tahun misalnya anak masih cenderung egosentris, sedangkan ketika ia bersekolah, ia dituntut untuk melakukan aktivitas bersama, berbagi dan besosialisasi. Tentu hal ini akan menjadi tekanan tersendiri bagi si anak, karena secara fitrah ia belum siap. Belum lagi dari sisi kemandirian, anak usia tersebut belum merasa secure ketika jauh dari orang yang mengasuhnya, baik itu orang tua, kakek nenek atau pun pengasuh. Memaksakan anak untuk "lepas" dari significant other-nya terlalu cepat justru akan membuat ia menarik diri dari lingkungannya. 
  2. Tidak menunjukan performa seperti yang diharapkan. Selain dari aspek kemampuan sosial dan kemandirian, kesiapan kemampuan kognitif anak juga menjadi pertimbangan. Di sekolah, anak dituntut untuk melakukan "tugas" tertentu, misalnya duduk diam mendengarkan, bernyanyi bersama atau melakukan permainan lainnya sesuai instruksi guru. Memaksakan anak untuk masuk sekolah pada usia yang lebih dini, kemungkinan akan membuat anak kurang perform dibandingkan dengan teman sekelasnya. Kecuali jika si anak memang memiliki kecerdasan yang lebih dibandingkan dengan anak seusianya. Sebagian besar anak usia 2-3 tahun belum bisa duduk diam sambil fokus mendengarkan dalam jangka waktu tertentu, jadi wajar saja ketika di kelas anak kemungkinan akan berlarian kesana-kemari saat guru menjelaskan. 
  3. ‎Kemunduran/regresi perkembangan. Anak yang mengalami stress terkadang menjadi mundur perkembangannya. Ada seorang ibu di sekolah tempat saya mengajar dulu yang mengeluhkan anaknya yang kembali buang air besar di celana setelah beberapa bulan sudah mampu buang air di toilet. Usia anaknya saat itu kira-kira 2.5 tahun, sama seperti usia anak saya sekarang. Anak dapat mengalami regresi dalam perkembangannya jika ia mengalami situasi yang amat menekan bahkan menyebabkan traumatis. Hal senada juga disampaikan oleh Uncle Sigmund Freud, itu loh... Bapak psikoanalisa,hehe. Freud menyebutkan kecemasan, frustrasi dan pengalaman traumatik dapat menyebabkan seseorang mengalami regresi atau kemunduran ke tahap perkembangan sebelumnya. Seperti kasus anak di sekolah tempat saya mengajar dulu, yang sebelumnya sudah pandai buang air besar di toilet mundur jadi buang air besar di celana. 


Lalu kapan idealnya anak masuk sekolah? 

Setiap anak memang menunjukan tanda kesiapan sekolah pada waktu yang berbeda. Ada anak yang sudah menunjukan minat dan tampak siap untuk sekolah sejak usia 2 tahunan ada juga yang sudah hampir 5 tahun belum menunjukan tanda kesiapan sekolah. Namun kalau mengikuti patokan yang dibuat oleh pemerintah, usia ideal anak masuk sekolah sekitar 3-4 tahun. Tapi kembali lagi ke kondisi setiap anak. Menurut saya, kalau di usia 2.5 tahun anak sudah tampak siap dan tertarik untuk masuk sekolah, kenapa tidak? 

Akan tetapi penting untuk memilih sekolah yang tepat untuk anak. Fitrah anak sampai usia 7 tahun itu kan bermain. Jadi jangan sampai anak disekolahkan di tempat yang menjejali anak dengan "pelajaran-pelajaran" di atas kemampuan usianya. Carilah sekolah yang menyenangkan dan memfasilitasi minat dan bakat anak. 

Berikut ini adalah tanda-tanda umum yang menunjukan anak sudah siap untuk sekolah:

  1. Sudah mampu melakukan kegiatan dasar sendiri seperti makan dan minun. Kemampuan anak dalam life skill sangat penting dimiliki anak sebelum anak masuk sekolah. Tidak mungkin kan guru menyuapi anak saat snack time. Jadi pastikan kemampuan dasar ini sudah dimiliki anak.
  2. Mampu fokus menyimak paparan atau cerita dalam jangka waktu tertentu. Di sekolah, anak akan diberikan kegiatan-kegiatan yang terstruktur. Anak dituntut untuk duduk diam sejenak untuk mendengarkan paparan guru pada waktu-waktu tertentu. Beberapa sekolah bahkan mensyaratkan poin ini sebagai prasyarat anak diterima di sekolah mereka. Kecuali pada kondisi anak yang khusus, itu pun biasanya sekolah akan mensyaratkan shadow teacher sebagai pendamping. Logis sih... Karena ketika anak tidak fokus dalam mengikuti kegiatan sekolah, ia tentu tidak bisa menerima pembelajaran dari aktivitas tersebut. Ditambah lagi, anak yang belum bisa fokus tentu akan menggangu aktivitas di kelas. 
  3. Sudah lulus toilet training. Anak juga sudah bisa mulai sekolah jika ia sudah bisa BAK dan BAB di toilet. Tidak harus sampai dia mampu membersihkan diri sih... Yang terpenting, anak sudah bisa "laporan" kalau merasa ingin BAK atau BAB tanpa mengotori celananya. 
  4. ‎Sudah mampu mengikuti perintah tertentu dan melakukan kegiatan terstruktur. Bersekolah tentu berbeda dengan bermain di rumah. Walaupun biasanya sekolah-sekolah untuk anak usia dini ya seperti bermain saja. Permainan di sekolah tentu dibuat terstruktur sesuai dengan program "belajar" yang sudah dibuat oleh sekolah. Anak tentunya perlu mengikuti program tersebut, kecuali saat waktu bermain bebas. Itu kenapa penting bagi anak untuk dapat mengikuti kegiatan yang sudah direncanakan dan tidak bermain sesukanya. 
  5. ‎Sudah muncul kemandirian dalam beraktivitas dalam artian sudah tidak "nempel" lagi pada orang tuanya. Seperti kasus anak yang ditemani oleh orang tuanya di kelas, kemandirian anak juga perlu menjadi pertimbangan saat orang tua memutuskan untuk menyekolahkan anaknya. Untuk pertama kali, wajar jika anak masih takut dan minta ditemani, tapi kalau hari-hari selanjutnya anak masih terus "nempel", itu mungkin menjadi tanda bahwa anak belum waktunya untuk sekolah. 
  6. Anak sudah menunjukan minat yang besar untuk bersekolah. Anak yang sudah siap sekolah biasanya menunjukan minat yang besar untuk pergi ke sekolah. Seperti anak saya yang sering mengatakan kalau ia ingin pergi ke sekolah seperti sepupunya, sambil memakai tas ransel atau bermain peran bersama bonekanya seperti sedang belajar di kelas. Meskipun saya pribadi belum berniat untuk menyekolahkan anak saya sih... Karena anak saya belum lulus toilet training🙈. 

Intinya selama usianya belum melampaui, orang tua tidak perlu tergesah-gesah mendorong anaknya untuk bersekolah. Menurut saya, orang tua cukup mengenalkan kondisi sekolah itu seperti apa, lalu biarkan minat tersebut muncul sendiri dari diri anak. 


Jangan paksakan anak, tapi siapkan untuk menghadapi dunia sekolah saat usianya mencukupi. Sebagai orang tua kita harus rajin menstimulasi anak (PR buat saya juga ini! 😅). Mulai biasakan anak melakukan permainan yang terstruktur, misalnya moms menyiapkan puzzle, kertas kerja sederhana (mewarnai, menyambung garis atau menempel) atau permainan fisik yang terarah. Dengan begitu, anak terbiasa untuk melakukan aktivitas bermain yang lebih teratur. 

Komentar

  1. Saya melihat banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk bersekolah cepat. Anehnya, semakin muda anaknya bersekolah, semakin bangga. Padahal anaknya sendiri belum tentu bersedia. Benar-benar tidak habis pikir saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba... Saya juga miris kalau orang tua memasukan anaknya ke sekolah hanya untuk kebanggaan saja. Kasihan anaknya. Sekolah, kapan pun dan dimana pun utamanya adalah kenyamanan dan kebahagiaan anak dalam menjalaninya... :)

      Hapus
  2. Alhamdulillah, bulan depan ini anakku udah masuk SD. meskipun belum nyampe 7 tahun (masih 6,5tahun) dan komentarnya terhadap "calon sekolah"nya katanya "SD Menyenangkan bunda." padahal kemarin cuma ditest aja. blm masuk hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... Anak bunda sudah senang dengan "calon" sekolahnya😊. Memang utamanya adalah anak bisa menikmati kegiatannya di sekolah ya bun... Karena nanti anaklah yang setiap hari akan menjalani aktivitasnya di sekolah. :)

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?