Langsung ke konten utama

MELATIH ANAK BERTANGGUNG JAWAB


Moms suka kesulitan enggak sih menyuruh anak untuk membereskan mainannya? Saya kadang juga seperti itu. Maklum anak saya memang baru berusia tiga tahun. Senangnya bikin berantakan, tapi kalau disuruh beresin susahnya minta ampun. Tapi terkadang, mau tak mau saya harus sedikit "memaksa" anak saya untuk mulai bertanggung jawab dengan bekas mainnya. Selain karena saya ingin mendidik si kakak untuk bertanggung jawab, kesibukan saya mengurus si adik yang masih bayi kadang membuat saya tak sempat untuk terus menerus merapikan mainan si kakak. 

Memangnya enggak terlalu kecil ya anak tiga tahun disuruh merapikan mainannya sendiri? Justru diusia ini adalah saat yang tepat untuk mulai menanamkan tanggung jawab dan kemandirian. Menurut Montessori, pada usia tiga tahun anak secara sosio emosional memiliki kemauan kuat untuk mandiri. Nah.. Pas banget kan tuh moms, anak sudah mulai mengembangkan kemandirian dan kita sebagai orang tua bisa menanamkan nilai tanggung jawab di dalamnya. 

Memang sih menanamkan tanggung jawab ke anak usia tiga tahun bukan perkaran mudah. Semuanya bergantung pada mood anak juga. Saya pribadi sih juga berusaha untuk enggak terlalu keras pada anak saya. Karena saya ingin si kakak bertanggung jawab atas dorongan dari dalam dirinya sendiri bukan karena keharusan sehingga membuat ia merasa terpaksa. 

Sesuai dengan perkembangan usianya, anak usia tiga tahun memasuki tahap preoperasional dimana anak usia ini memiliki rasa ingin tahu yang besar dan bisa menamai objek, peristiwa dan kegiatan melalui kata-kata. Dengan demikian, pada usia ini anak sudah bisa tuh menerima perintah sederhana. 

Sebagai tahap awal, saya mencoba menanamkan tanggung jawab melalui hal-hal yang sederhana, misalnya merapikan mainan dan buku yang telah dipakai, meletakan bekas makan di tempat cuci piring, meletakan baju bekas pakai di keranjang pakaian kotor dan membuang sampah pada tempatnya. Awalnya tentu kakak masih kesulitan, itu perlunya saya untuk saaaaaaaabaaaaar...

Banyak hambatan yang saya hadapi saat berusaha menanamkan tanggung jawab pada si kakak. Mood kakak yang tidak selalu dalam kondisi baik jadi salah satu penghalang. Salah satu tantangan terbesar mengasuh anak usia 2-3 tahun adalah anak yang memiliki keinginan kuat untuk mandiri, tapi di sisi lain ia juga belum merasa secure dengan lingkungannya. Itu kenapa pada usia ini anak seringkali terasa "ngeyel" dan sulit diatur. Si kakak pun demikian. Kalau mood-nya sedang enggak oke, mau diminta untuk merapikan mainan dengan cara apa kek, enggak akan mempan. Hal yang perlu diingat adalah kondisi demikian memang merupakan fitrah anak pada usianya. Jadi... Kita lah, sebagai orang tua, yang harus saaaaabaaaaar. 😁

Selain mood si kakak, menghadapi mood saya juga menjadi tantangan tersendiri. Terkadang kalau saya sedang enggak mood, saya ingin semuanya segera beres dan rapi. Padahal kalau kakak yang membereskan tentu saja lama selesainya. Akhirnya saya cenderung merapikan sendiri mainan si kakak agar cepat beres. Padahal proses pembelajaran kakak itu penting banget. Meskipun dalam menyelesaikan tugasnya kakak tentu membutuhkan waktu lebih lama karena ia masih memiliki keterbatasan. 

Agar kakak merasa senang mengerjakan tugas-tugasnya, saya berusaha membuat apa yang dilakukan kakak tidak terasa seperti "tugas". Berikut ini adalah hal-hal yang saya lakukan untuk menanamkan tanggung jawab pada si kakak:
Melalui permainan. Salah satu hal yang saya lakukan untuk membuat kakak senang merapikan bekas mainan atau bekas makannya adalah dengan membuat game yang menyenangkan untuknya. Misalnya untuk merapikan mainan lego, saya membuat permainan "lempar batu ke dalam kotak". Kakak dan saya akan bersama-sama mengumpulkan dan melemparkan mainan lego ke dalam kotak yang tak lain adalah wadah penyimpanan lego itu sendiri. Bisa juga saya membuat permainan "boneka berbaris", untuk menyusun boneka di tempat penyimpanannya atau permainan "mengelompokan benda", untuk merapikan mainan sesuai dengan wadah penyimpanannya. Dengan menggunakan permainan sebagai media belajar, si kakak pun tampak lebih menikmati aktivitas beres-beresnya. 
Tapi perlu diingat juga, semua tetap tergantung pada mood anak. Kalau sedang enggak mood, sebaiknya jangan dipaksakan "bermain", karena nantinya ia justru malah enggan ikut dalam permainan, yang ada kita yang heboh "bermain" sendiri. 😅

Membuat perlombaan. Aktivitas lain yang bisa dilakukan untuk mengajarkan anak bertanggung jawab adalah melalui perlombaan. Misalnya saya dan kakak suka berlomba siapa yang paling cepat mengumpulkan mainan lego ke dalam kotak atau siapa yang paling cepat mengembalikan piring ke tempat cuci atau baju bekas pakai ke keranjang kotor. Tidak ada hadiah dalam perlombaan ini, tapi dengan aktivitas yang menyelipkan sedikit persaingan dan membiarkan anak untuk berhasil memenangkan perlombaan, ia akan merasakan kepuasan dan termotivasi untuk melakukan aktivitas yang sama dikemudian hari. 

Melalui contoh. Tentunya anak akan lebih mudah belajar tanggung jawab apabila orang tua juga melakukan hal yang sama. Kadang saya suka juga sih melupakan hal-hal seperti mengembalikan gelas bekas pakai ke tempat cuci. Biasanya si kakak yang akan mengingatkan saya. Jadi malu sendiri deh saya... 🙈
Hal yang juga penting dalam meminta anak bertanggung jawab adalah keterlibatan orang tua dalam aktivitas anak tersebut. Upayakan untuk tidak bersikap sebagai mandor, yang hanya menyuruh anak. Akan lebih efektif saat orang tua ikut terlibat, ajak anak bukan sekedar menyuruh. Dengan begitu anak akan lebih senang dalam mengerjakan tugas-tugasnya. 

Memberikan pujian. Jangan lupa untuk memberikan apresiasi setelah anak berhasil menyelesaikan tugasnya. Dengan pujian secukupnya atau minimal ucapkan terima kasih karena anak sudah mau bertanggung jawab. Dengan demikian anak memiliki persepsi yang positif terhadap kegiatan yang dilakukan. Sehingga di lain waktu, anak akan suka rela dalam mengerjakan tugas-tugasnya. 

Kunci terbaik dalam mengajarkan anak untuk tanggung jawab adalah saaaaabaaaaar,hehe. Segala sesuatunya tentu tidak langsung berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Jangan menyerah apalagi memarahi anak kalau ia belum berhasil menyelesaikan tugasnya. Karena semua butuh proses kan moms. Terkadang kita pun masih suka lupa mengembalikan barang ke tempatnya. Jadi poinnya adalah saaaaaabaaaaar... 😁

Sumber:
Britton, Lesley. 2017. Montessory Play and Learn: Mengoptimalkan Potensi Anak dengan Permainan (untuk 2-6 tahun). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?