Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

DEFISIENSI ZAT BESI PADA ANAK

Beberapa hari lalu saya ngobrolbareng teman saya, seorang ibu dengan dua orang anak. Ia bercerita anaknya yang berumur 1 tahun 8 bulan selalu tampak ceria dan makannya pun oke, tapi suatu hari ketika diperiksa melalui cek darah anaknya mengalami defisiensi zat besi parah! Kok bisa ya? Saya kira dengan memberikan makanan cukup gizi saja ke anak sudah dapat memenuhi kebutuhan nutrisi anak loh
Kebetulan minggu itu adalah saat saya harus membawa si adik untuk kontrol ke dokter dan imunisasi. Saya pun menanyakan hal ini ke dokter anak saya, Dr. Dewi Amirasari, Sp.A ditambah saya pun membaca dari beberapa sumber. Terus terang saya pun sedikit was-was dengan kondisi anak-anak saya. Meskipun si kakak makannya cukup lahap, saya khawatir dengan kecukupan gizinya karena terus terang variasi makanan keluarga kami agak kurang. Adik pun yang masih minum ASI juga enggak terukur kan asupan zat besinya karena makanan saya. Dari cari-cari informasi dan konsultasi dengan Dr. Dewi saya pun merangkum i…

PLAYDATE WITH IBUIBUKOTAHUJAN

Salah satu kebahagiaan saya ketika pindah ke Bogor adalah banyaknya tempat-tempat bermain anak di sini. Bahkan enggak terlalu sulit mencari restoran ramah anak di Bogor. Banyak sekali restoran yang juga menyediakan arena bermain untuk anak. Selain arena bermain, di Bogor juga banyak aktivitas-aktivitas anak yang dibuat dalam sekali event atau bahasa kerennya playdate. Playdate semacam ini banyak diadakan baik oleh komunitas maupun orginizer/creator. Macamnya pun beragam mulai dari jalan-jalan mengenal alam, memasak, olah raga dan sebagainya. Mau cari yang berbayar atau gratisan pun ada, banyak deh pokoknya. 
Kenapa saya mengajak anak saya untuk ikut aktivitas playdate ini? Selain seru dan menyenangkan untuk anak, aktivitas playdate ini menawarkan kegiatan bermain yang berbeda untuk anak. Supaya anak enggak bosan main sama orang tuanya terus,hehe. Selain itu, aktivitas playdate ini bisa jadi media untuk lebih mengenali minat dan bakat anak. Daripada terlanjur memasukan anak ke tempat le…

KETIKA SAYA GAGAL MENJADI ORANG TUA

PRANG! Suara benda jatuh terdengar dari dapur. Saya yang sedang tenang menyusui si adik yang masih bayi spontan lari ke arah dapur. Saya mendapati si kakak berdiri sambil membawa tutup toples kaleng, sedang sisanya sudah berhamburan di lantai. Tak berapa lama suara tangis si adik terdengar dari arah kamar. Tangisan heboh yang biasa muncul ketika ia jauh dari ibunya. Rasanya saya sudah siap naik pitam, tapi tiba-tiba si kakak berucap, "maaf mi...". Leleh hati saya, untung kemarahan itu tidak jadi pecah.
Saya memang bukan tipe ibu yang penyabar. Terkadang saya marah pada anak, terutama si kakak yang tingkah polahnya sering kali "ajaib". Saya dan suami sempat berada dalam fase dimana kami sering banget marah sama kakak. Akibatnya? Bukan si kakak tambah menurut, ia malah makin sulit kooperatif. Puncaknya adalah saat saya marah ke kakak dan si kakak marah balik ke saya karena kesal dimarahi. Dari situ saya sadar kalau ada yang salah dengan pola asuh saya. 
(Baca juga: 

IRONI IBU ERA DIGITAL

"Ih! Diem kek, rese!", terdengar suara perempuan memecah keriuhan sebuah restoran. Saya yang duduk berseberangan meja dengan perempuan tersebut tidak sulit menemukan asal suara. Rupanya perempuan tersebut tengah asik bermain gawai dengan di sebelahnya duduk seorang anak perempuan. Anak tersebut tampak terkejut dengan teriakan perempuan tersebut yang saya duga adalah ibunya. Sempat bengong sesaat, akhirnya si anak pindah tempat duduk ke seberang perempuan itu. Bagaimana dengan reaksi si perempuan?  Tetap asik bermain gawai, bahkan sempat mengambil gambar makanan yang baru saja diantarkan oleh pramusaji. 
Melihat kejadian tersebut saya jadi merasa tertampar, Ya Allah... Saya pun termasuk ibu yang akrab dengan gawai. Dalam sehari saya pasti menggunakan benda yang satu ini, untuk menulis, berselancar di dunia maya atau berkomunikasi melalui media sosial. Jangan-jangan saya pun pernah melakukan hal yang sama seperti ibu barusan, dengan enteng membentak anak hanya karena merasa t…

STIMULASI PRANUMERASI UNTUK ANAK PRA SEKOLAH

Apa yang ada dibayangan moms ketika saya menyebut stimulasi logis matematis pada anak? Moms mungkin akan membayangkan sekumpulan kegiatan yang berkaitan dengan angka, menghitung, menjumlah dan mengurangi dan sebagainya. Salah satu kesalahan persepsi yang sering terjadi di masyarakat kita adalah menghubungkan matematika dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan angka. Padahal sejatinya kemampuan logis matematis itu lebih luas dari itu. Kemampuan logis matematis meliputi kemampuan membuat urutan, mengelompokan dan sebagainya, bukan hanya melulu menghitung angka saja. 
Menurut teori perkembangan piaget, mulai usia 2 tahun anak sudah mulai mampu mengenal simbol-simbol di lingkungannya atau bahasa kerennya sudah masuk tahap pra-operasional. Dengan begitu anak sudah mulai bisa tuh distimulus dengan kegiatan yang berkaitan dengan logis matematis, karena anak mulai mampu mengenal dan memahami simbol. 
Jadi maksudnya anak 2 tahun sudah bisa diajari ngitung gitu? 
Ya enggak gitu juga..😁 pada …