Langsung ke konten utama

DEFISIENSI ZAT BESI PADA ANAK

Sumber:Pixabay
Beberapa hari lalu saya ngobrol bareng teman saya, seorang ibu dengan dua orang anak. Ia bercerita anaknya yang berumur 1 tahun 8 bulan selalu tampak ceria dan makannya pun oke, tapi suatu hari ketika diperiksa melalui cek darah anaknya mengalami defisiensi zat besi parah! Kok bisa ya? Saya kira dengan memberikan makanan cukup gizi saja ke anak sudah dapat memenuhi kebutuhan nutrisi anak loh

Kebetulan minggu itu adalah saat saya harus membawa si adik untuk kontrol ke dokter dan imunisasi. Saya pun menanyakan hal ini ke dokter anak saya, Dr. Dewi Amirasari, Sp.A ditambah saya pun membaca dari beberapa sumber. Terus terang saya pun sedikit was-was dengan kondisi anak-anak saya. Meskipun si kakak makannya cukup lahap, saya khawatir dengan kecukupan gizinya karena terus terang variasi makanan keluarga kami agak kurang. Adik pun yang masih minum ASI juga enggak terukur kan asupan zat besinya karena makanan saya. Dari cari-cari informasi dan konsultasi dengan Dr. Dewi saya pun merangkum informasinya berikut ini:

Apa itu defisiensi zat besi pada anak? 
Defisiensi zat besi adalah kondisi saat kadar hemoglobin (Hb) berada di bawah ambang batas normal pada kelompok usia yang bersangkutan. Kondisi defisiensi zat besi ini dapat diketahui melalui tes darah dengan mengukur jumlah Hb yang terkandung dalam darah. Jika mengacu pada panduan WHO, maka acuan ambang batas normal kadar Hb dalam darah adalah sebagai berikut:
Mengapa defisiensi zat besi pada anak dapat terjadi?
Menurut Dr. Dewi Amira, defisiensi zat besi terjadi tentunya karena kurangnya asupan nutrisi zat besi pada konsumsi anak. Konsumsi zat besi sendiri bisa diperoleh dari makanan, minuman maupun vitamin zat besi tambahan. 
Secara lebih detail Arlinda Sari Wahyuni memaparkan dalam makalahnya  yang berjudul Anemia Defisien Besi pada Balita,  penyebab defisiensi zat besi khususnya pada bayi dan balita adalah sebagai berikut:
  • Pengadaan zat besi yang tidak cukup 

1) Cadangan zat besi pada waktu lahir tidak cukup.
a) Berat lahir rendah, lahir kurang bulan, lahir kembar 
b) Ibu waktu mengandung menderita anemia kekurangan zat besi yang berat 
c) Pada masa fetus kehilangan darah pada saat atau sebelum persalinan 
seperti adanya sirkulasi fetus ibu dan perdarahan retroplasesta 
2)Asupan zat besi kurang cukup 

  • Absorbsi kurang 

1) Diare menahun 
2) Sindrom malabsorbsi 
3) Kelainan saluran pencernaan

  • Kebutuhan akan zat besi meningkat untuk pertumbuhan, terutama pada lahir kurang bulan dan pada saat akil balik.
  • Kehilangan darah 

1) Perdarahan yang bersifat akut maupun menahun, misalnya pada poliposis 
rektum, divertkel Meckel
2) Infestasi parasit, misalnya cacing tambang.

Menurut Dr. Dewi, anak yang mengonsumsi ASI memang rentan terkena defisiensi zat besi. Kenapa? Karena kualitas ASI kan tergantung kualitas asupan ibu. Permasalahannya, di negeri berkembang seperti Indonesia, asupan makanan tuh kadang enggak seimbang, makan dengan tempe tahu dan sayur sudah oke. Padahal kalau ditakar nilai gizinya sebetulnya masih sangat kurang. Berbeda dengan di luar negeri yang sekali makan daging 200 gr, daging pun dimasak dengan proses sederhana misalnya cukup di-grill sehingga kandungan gizinya enggak banyak berkurang. Kalau di Indonesia, orang jarang banget makan daging, kalau pun makan biasanya sudah melalui proses pengolahan yang lama, jadi gizinya banyak berkurang. 

Itu kenapa pemerintah mencanangkan pemberian suplemen tambahan zat besi sejak usia 6 bulan. Biasanya kalau rajin kontrol, dokter akan meresepkan suplemen zat besi. Tapi menurut saya, pemberian suplemen ini tentu ada plus minusnya sih... Karena biasanya suplemen itu kan ada zat penambah lain seperti pemanis dan pewarna. Akhirnya ada sebagian ibu yang justru khawatir memberikan suplemen zat besi tambahan pada anaknya. 

Apa tanda anak mengalami defisiensi zat besi? 
Defisiensi zat besi terkadang sulit untuk dideteksi, seperti kasus anak teman saya yang kelihatannya sehat dan ceria ternyata mengalami defisiensi zat besi. Namun secara umum anak yang defisiensi zat besi akan kelihatan lemah, lesu dan tidak nafsu makan ditambah lagi dengan menurunnya daya konsentrasi. 

Apa dampak yang terjadi jika anak mengalami defisiensi zat besi? 
Dampak paling berbahaya dari defisiensi zat besi adalah gagal tumbuh dan terhambatnya perkembangan kecerdasan. Selain itu anak yang mengalami defisiensi zat besi akan rentan terkena penyakit karena kecukupan asupan zat besi mempengaruhi kondisi imunitas tubuh. 

Bagaimana melakukan pencegahan agar anak tidak mengalami defisiensi zat besi? 
Agar anak tidak kekurangan zat besi, hal yang utama adalah mencukupi kebutuhan nutrisi zat besinya, yaitu dengan konsumsi menu seimbang setiap hari termasuk yang mengandung zat besi. Sumber-sumber makanan mengandung zat besi misalnya daging merah, sayur-sayuran hijau, akar bit, kacang-kacangan, hati dan kentang. 
Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang adalah salah satu cara mencegah defisiensi zat besi
Tapi kalau sudah terlanjur mengalami defisiensi zat besi tentunya anak perlu mendapatkan penanganan khusus. Biasanya dokter akan melihat apakah penyebab kekurangan zat besi ini murni karena kurang asupan atau karena penyebab lain, misalnya karena ada parasit cacing. Kalau penyebabnya adalah penyebab sekunder, maka dokter akan memberikan pengobatan terlebih dahulu sebelum anak diberikan asupan tambahan. 

Memberikan asupan bergizi pada anak memang cukup tricky ya moms... Kadang kita sudah menyiapkan menu yang beraneka ragam, tapi anak susah makan. Hal yang terpenting adalah kita tetap jeli dalam memperhatikan kondisi kesehatan anak sambil tetap berusaha maksimal memenuhi kebutuhan gizinya. Jika perlu, moms juga dapat berkonsultasi ke dokter anak atau dokter spesialis gizi. Semoga informasinya bermanfaat ya moms! 

Sumber:
Sari Wahyuni, Arlinda. 2004. Anemia Defisien Besi Pada Balita. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu 
Kedokteran Komunitas 
Fakultas Kedokteran USU


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?