Langsung ke konten utama

IRONI IBU ERA DIGITAL

Sumber: Pixabay

"Ih! Diem kek, rese!", terdengar suara perempuan memecah keriuhan sebuah restoran. Saya yang duduk berseberangan meja dengan perempuan tersebut tidak sulit menemukan asal suara. Rupanya perempuan tersebut tengah asik bermain gawai dengan di sebelahnya duduk seorang anak perempuan. Anak tersebut tampak terkejut dengan teriakan perempuan tersebut yang saya duga adalah ibunya. Sempat bengong sesaat, akhirnya si anak pindah tempat duduk ke seberang perempuan itu. Bagaimana dengan reaksi si perempuan?  Tetap asik bermain gawai, bahkan sempat mengambil gambar makanan yang baru saja diantarkan oleh pramusaji. 

Melihat kejadian tersebut saya jadi merasa tertampar, Ya Allah... Saya pun termasuk ibu yang akrab dengan gawai. Dalam sehari saya pasti menggunakan benda yang satu ini, untuk menulis, berselancar di dunia maya atau berkomunikasi melalui media sosial. Jangan-jangan saya pun pernah melakukan hal yang sama seperti ibu barusan, dengan enteng membentak anak hanya karena merasa terusik aktivitas bermain gawainya. 

Moms... Pernah enggak sih sesekali rehat sejenak dari dunia maya? Saya pernah mencobanya dan hanya bertahan satu hari. Sungguh ketika saya mengisolasi diri dari dunia maya, ternyata saya sudah begitu banyak ketinggalan informasi. Di era digital sekarang ini, informasi memang bak arus yang begitu deras. Kita jadi sangat mudah untuk tahu segala hal yang terjadi di seluruh belahan dunia. Tapi ketika kita begitu takut ketinggalan informasi dan enggak update, jangan-jangan kita sudah terkena sindrom Fear of Missing Out atau yang lebih dikenal dengan FoMO. 

Sindrom ini banyak muncul di tengah-tengah generasi Y atau generasi 70-80an. Salah satu tandanya adalah kita sangat takut untuk berpisah dengan media sosial, saking takut enggak update-nya kita bisa menghabiskan waktu sepanjang hari untuk mentengin Facebook, Twitter, Instagram dan media sosial lainnya hanya agar kita tetap update. Kalau sampai ketinggalan berita, kita pun jadi cemas.

Aktif di media sosial sejauh positif dan enggak berlebihan menurut saya sah saja. Tapi coba deh kita telaah lagi porsi yang kita habiskan untuk bercengkrama dengan gawai dan dengan anak. Jangan-jangan kita jauh lebih sering dan asik menghabiskan waktu dengan gawai dibanding dengan anak. Atau jangan-jangan lebih parah lagi, seperti ibu yang saya temui di restoran, enteng menghardik anaknya di depan umum demi kenyamanan bermain gawai. Ironis banget menurut saya. Gawai hanya benda, jika rusak mudah digantikan, tapi kalau anak yang "rusak", mau cari pengganti dimana? 

Maka lucu saat kita lebih ngebelain main gawai dibanding bercengkrama dengan anak. Apalagi sampai mengesampingkan kebutuhan anak. Bermain gawai memang menyenangkan, tapi jika enggak bijaksana, waktu kita bisa habis tanpa kita sadari. Main gawai hanya 5 menit, tapi baru lepas 20 detik saja sudah ambil gawai dan main lagi (sounds familiar?). Setelah diakumulasi baru ketahuan deh waktu yang kita habiskan untuk bermain gawai hampir sama dengan perjalanan Jakarta-Makassar.

Saya jadi teringat salah satu nasihat teman ketika saya mengeluhkan sedikitnya waktu yang saya punya untuk menyelesaikan berbagai aktivitas sampai enggak memiliki waktu untuk "me time". Waktu itu teman saya bilang, "Selama lo punya waktu untuk FBan mah berarti lo masih punya waktu luang. Coba deh kurangin pegang handphone" dan saya pun berasa dijitak pakai ulekan. 

Tantangan terbesar menjadi ibu rumah tangga adalah bagaimana dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Apalagi yang sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah seperti saya. Rentan banget untuk terbuai dengan waktu luang dan membuang waktu untuk hal-hal yang sebenarnya kurang bermanfaat. Bergawai ria jadi salah satu alternatif hiburan di rumah. Tapi sering kali bergawai justru menyita waktu dan perhatian kita sebagai ibu. Kita prihatin dengan anak yang banyak terpapar gawai, tapi kitanya sendiri juga hobi bergawai๐Ÿ˜….

Gunakan gawai sewajarnya ya moms, karena pengalaman yang dilalui dengan anak jauh lebih berharga dari sekedar banyaknya jempol "like" dan komentar di dunia maya. #selftabok

Disclaimer: tulisan ini adalah pengingat untuk diri sendiri, bukan untuk memberi judgement pada ibu mana pun. Tapi semoga tulisan ini juga bisa membawa manfaat ya bagi yang membaca. ๐Ÿ˜Š

Komentar

  1. Ngaku, saya pernah sih ngomong nada tinggi ke anak pas lagi megang hp. Sayanya lagi ada urusan kerjaan, anak ngerengek minta youtube. Trus lama-lama saya mikir, kalau saya nggak mau anak saya kecanduan hp, saya pun harus kelihatan jarang berlama-lama megang hp di depan anak. Dan akhirnya sekarang sering ngalah deh, baru bisa lama megang hp pas dia tidur atau lagi main nggak sama saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bun... Kadang memang jadi dilema terutama bagi ibu yang harus kerja pakai hp. Akhirnya memang pinter-pinternya kita milih waktu kpn baiknya pegang hp.

      Hapus
  2. Saya kalau lagi sama anak jarang pegang hp, cuma suami saya yang agak sedikit sulit dibilangin sukanya main game.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Para bapak kadang suka susah diajak kompak ya bun... ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ tos lah kita!

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

MENGENAL CHILD'S COMFORTER

Moms, adakah yang anaknya susah tidur kalau tidak memeluk selimut kesayangannya? Benda-benda seperti boneka, guling atau bantal, yang meski sudah kumal dan kotor tetap merajai tempat tidur buah hati. Beberapa anak bahkan sulit tidur jika tidak memegang bagian tubuh tertentu, seperti obrolan saya dengan tetangga sore ini yang menceritakan kalau anaknya tidak bisa tidur tanpa memegang leher Sang Bunda. Salah satu adik saya pun ketika kecil punya guling kesayangan, guling dengan kepala berbentuk beruang yang setiap tidur harus digesekan hidungnya ke hidung adik saya. Aneh ya? Tapi itulah kenyataannya. 
Beberapa anak menggunakan mekanisme ekternal untuk memberikan kenyamanan pada dirinya. Biasanya dengan menghisap jempol, memegang bagian tubuh tertentu atau memiliki benda kesayangan. Bahkan ada yang membawa benda kesayangannya kemanapun dia pergi.
Kenapa anak memiliki kebiasaan atau benda kesayangan yang tidak bisa lepas dari dirinya? 
Menurut Dr. Olwen Wilson, psikolog anak dari Royal Su…