KETIKA SAYA GAGAL MENJADI ORANG TUA


PRANG! Suara benda jatuh terdengar dari dapur. Saya yang sedang tenang menyusui si adik yang masih bayi spontan lari ke arah dapur. Saya mendapati si kakak berdiri sambil membawa tutup toples kaleng, sedang sisanya sudah berhamburan di lantai. Tak berapa lama suara tangis si adik terdengar dari arah kamar. Tangisan heboh yang biasa muncul ketika ia jauh dari ibunya. Rasanya saya sudah siap naik pitam, tapi tiba-tiba si kakak berucap, "maaf mi...". Leleh hati saya, untung kemarahan itu tidak jadi pecah.

Saya memang bukan tipe ibu yang penyabar. Terkadang saya marah pada anak, terutama si kakak yang tingkah polahnya sering kali "ajaib". Saya dan suami sempat berada dalam fase dimana kami sering banget marah sama kakak. Akibatnya? Bukan si kakak tambah menurut, ia malah makin sulit kooperatif. Puncaknya adalah saat saya marah ke kakak dan si kakak marah balik ke saya karena kesal dimarahi. Dari situ saya sadar kalau ada yang salah dengan pola asuh saya. 

(Baca juga: Ketika Anak Berbohong)

Ada yang bilang kalau pola asuh kita dipengaruhi oleh pola asuh kedua orang kita dan menurut saya ada benarnya. Banyak PR pengasuhan saya di masa lalu yang harus saya tuntaskan untuk memutus mata rantai kesalahan-kesalahan pola asuh sebelumnya. 

Tapi sebagai manusia, kita memang bukan ibu peri yang senantiasa tersenyum dan tenang dalam menghadapi tingkah anak yang kadang (atau sering) tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Marah adalah hal yang manusiawi, tapi mengekspresikan kemarahan secara proporsional itu yang patut kita semua pelajari. Sebagai orang tua, sering kali kita (saya khususnya)  bereaksi secara berlebihan terhadap perilaku anak. Padahal cara kita bereaksi (secara emosi) terhadap perilaku anak akan mempengaruhi cara mereka bereaksi secara emosional saat dewasa kelak. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Albin dalam bukunya "Emosi, Bagaimana Mengenal, Menerima dan Mengarahkannya". Saya sepakat banget dengan hal ini, karena saya pun mengalaminya. 

Salah satu PR terbesar saya adalah bagaimana bisa lebih tenang dalam menghadapi perilaku anak tanpa berteriak atau marah. Kalau saya kembali flashback ke masa kecil, orang tua saya memang kerap meneriaki saya ketika saya salah. "Kalau kerja diliat!", "Kamu enggak bisa diem banget sih!" atau "Udah jangan ikut campur, kamu masih kecil" adalah kata-kata yang kerap saya terima dari orang tua. Saya memaklumi kondisi mereka saat itu. Dulu jarang banget seminar parenting, komunitas pembelajar atau buku-buku pendidikan anak dan keluarga. Beda dengan sekarang yang kita para orang tua bisa mudah untuk belajar. Makanya saya akan bersalah banget kalau saya masih mengulangi apa yang dulu dilakukan oleh orang tua saya. 

Kembali lagi ke masalah marah pada anak. Setelah kejadian si kakak marah balik ke saya, saya pun berdiskusi dengan suami dan kami sepakat untuk memperbaiki cara kami mengasuh kakak. Penting banget untuk menyamakan frekuensi dengan suami ya moms, karena semuanya akan sia-sia ketika orang tua enggak kompak dalam mengasuh anak. Si bapak memperlakukan anak begini sedangkan si ibu memperlakuannya begitu. Bisa-bisa yang terjadi anak malah bingung dan buyar semua deh tujuan awal orang tua untuk mendidik anak tersebut. 

Di salah satu kulwap parenting yang pernah saya ikuti pernah dibahas tentang pentingnya mengambil jeda ketika kita merasa ingin marah pada anak. Jeda ini penting agar kita bisa menilai situasi dengan lebih rasional. Dari poin singkat tersebut, saya pun mencoba menerapkannya ketika menghadapi kakak. Misalnya ketika saya mendengar kakak menjatuhkan barang di dapur. Sebelum saya menghampiri kakak dan melihat kejadiannya, saya mempersiapkan kondisi terburuk dahulu di otak saya. Saya membayangkan makanan yang berhamburan di lantai dengan toples yang pecah berceceran. Biasanya kondisi yang saya temui enggak seburuk itu sih.... Tapi dengan saya mempersiapkan diri dengan kondisi yang lebih buruk, saya menjadi jauh lebih tenang dalam bereaksi pada kondisi sebenarnya yang terjadi. "Oh... Ternyata cuma begitu saja. Untuk apa saya marah", begitu yang biasa saya pikirkan. 

Disamping menilai situasi dengan lebih rasional, sebagai orang tua juga perlu memahami karakter anak. Sebagai catatan, kakak itu tipe anak yang sangat persisten dan berani. Kalau mau pakai jurus ancam enggak akan mempan dan kalau sudah ingin sesuatu, dia pasti akan usaha untuk mendapatkannya. Usaha disini, benar-benar usaha sendiri, bukan merengek atau nangis. Misalnya saat saya enggak mengizinkan kakak makan coklat yang ada di atas lemari, dia akan tetap berusaha mendorong kursi dan naik ke atasnya untuk mengambil coklat tersebut atau ketika saya tidak mau membukakan bungkus keju kesukaannya karena dia belum makan siang, kakak akan tetap berusaha membuka bungkus kejunya meskipun harus menggigiti bungkus keju sampai robek (ini beneran pernah kejadian loh😅).

Tapi di sisi lain, kakak itu sebetulnya orang yang belajar dari pengalaman dan mudah diberi pengertian kalau ia paham manfaatnya. Misalnya ketika ia sulit makan, saya ingatkan kakak ketika dia pernah sakit panas. Saya akan bilang kalau kakak makannya enggak betul, dia bisa sakit. Biasanya kakak langsung mau makan. Menemukenali karakter anak juga menjadi poin yang penting dalam menerapkan pola asuh yang sesuai. Anak adalah individu yang unik, walau mereka lahir dari rahim yang sama. Sebisa mungkin saya mencoba untuk tidak membandingkan anak saya yang satu dengan yang lain, karena hal tersebut tidak akan efektif untuk membuat perilaku anak menjadi lebih baik. 

Dari hal-hal tersebut saya dan suami kemudian sepakat untuk melakukan hal-hal berikut pada kakak:
  1. Bersikap lebih toleran. Anak tidak selalu dalam kondisi mood yang baik. Enggak beda jauh dari kita orang dewasa. Namun bedanya, orang dewasa bisa mengatur bagaimana dirinya mengekspresikan mood yang kurang baik dibandingkan dengan anak-anak yang cenderung lepas dalam berekspresi. Anak juga biasanya akan lebih susah diatur saat mood-nya jelek. Disinilah peran sebagai orang tua untuk lebih mengedepankan sikap toleran terhadap anak. Sementara waktu sisihkan kesalahan-kesalahan sepele yang dilakukan anak. Kalau kita lagi enggak mood, kita juga sebal kalau sedikit-sedikit ditegur kan? Saat kondisi anak enggak mood, anak akan lebih bersikap defensif. Jika anak memang melakukan kesalahan dan moms ingin memberitahunya, lakukan pendekatan yang lebih halus. Dekati anak dan ajak dialog.
  2. ‎Mengingat kapasitas anak. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda disetiap tahapan usia. Sangat wajar saat anak yang masih kecil melakukan kesalahan-kesalahan ketika beraktivitas, seperti menjatuhkan atau menumpahkan sesuatu. Seperti cerita si kakak ketika mencoba membuka toples tapi malah jatuh dan berantakan. Itu disebabkan karena koordinasi gerak kakak memang belum sempurna. Seringkali kita marah dan menyalahkan kesalahan anak tanpa menyadari bahwa anak kita memang belum masuk ke dalam fase saat ia mudah dalam melakukan segala hal. Menyalahkan anak justru akan membuat anak menjadi kurang percaya diri dan takut untuk mencoba. Cukup ingatkan anak untuk lebih hati-hati dan tidak mengulangi kesalahan yang sama dilain waktu. 
  3. Mewarnai anak dengan pengalaman-pengalaman positif. Mungkin banyak orang tua yang lebih fokus untuk melakukan koreksi terhadap perilaku anak. Jangan ini jangan itu, tidak boleh ini dan itu, padahal anak memiliki fitrah sebagai pembelajar. Terkadang anak melakukan kesalahan saat ia sedang mencoba belajar. Kakak misalnya, ia lebih sering ingin makan sendiri dari pada disuapi. Tentu dengan konsekuensi makanan berceceran dan kotor dimana-mana. Dari pada menegur kakak karena melakukan kesalahan, saya dan suami lebih memilih untuk memfasilitasi kebutuhan kakak untuk belajar, seperti menyediakan alat makan yang terbuat dari plastik. Agar kakak bisa mandiri dan kami pun tidak perlu khawatir piring yang pecah. Bagaimana dengan kondisi makanan yang berceceran? Sebagai orang tua kami berusaha untuk menanamkan pada diri kami bahwa kondisi tersebut adalah hal yang perlu kami hargai sebagai bagian dari proses belajar. Dengan begitu kami bisa bereaksi lebih positif terhadap kesalahan yang dilakukan oleh kakak. Emosi positif yang orang tua hadirkan ketika anak belajar akan menghasilkan pengalaman yang positif bagi anak. Saya yakin dengan begitu kakak akan lebih terpacu untuk belajar. Bayangkan jika kondisinya sebaliknya, saya marahi kakak karena membuat kotor dan berantakan. Ia tentu akan melihat proses belajarnya sebagai hal yang negatif. Akibatnya dilain waktu ia akan takut untuk mencoba. 
  4. Lebih total dalam pengasuhan. Seringnya kesalahan dilakukan oleh anak justru karena adanya kelengahan dari orang tua. Sebenarnya kesalahan anak bisa dicegah jika orang tua lebih awas dan enggak lalai. Misalnya suatu hari kakak pernah memainkan tissue basah. Satu bungkus penuh yang baru saja saya buka segelnya habis dikeluarkan oleh kakak. Kenapa ia bisa begitu? Fitrah anak sebagai seorang pembelajar selalu ingin tahu dan mengeksplorasi hal baru. Tentu saja ia penasaran ketika melihat bungkus tissue basah yang jarang ia lihat tergeletak begitu saja di atas meja. Habis deh tissue basah yang baru saja saya beli. Dari situ saya belajar untuk mengantisipasi kondisi di rumah. Tidak meletakan barang sembarangan dan memonitor aktivitas anak agar saya tidak "kecolongan". Jangan menyalahkan anak kalau ia berbuat kesalahan akibat keteledoran orang tua, itu yang selalu saya ingat. Dengan mengantisipasi kondisi yang ada, kesalahan yang dilakukan kakak dapat diminimalisir. 

Menjadi orang tua berarti bersedia belajar sepanjang hayat. Tak akan ada orang tua terbaik yang ada adalah orang tua yang senantiasa belajar untuk lebih baik

Menjadi orang tua memang bukan hal yang mudah. Itu kenapa ganjarannya surga. Kalau mudah, mungkin ganjarannya piring cantik atau voucher belanja 😁. Tidak ada orang tua terbaik yang ada adalah orang tua yang senantiasa belajar untuk jadi lebih baik. Ketika kita merasa telah salah menerapkan pola asuh, jangan pernah merasa jadi orang tua yang gagal. Tetaplah belajar dan move on untuk menjadi orang tua yang lebih baik.


Komentar

  1. couldn't more agree mba. Ketika anak lahir dia harus banyak belajar segala hal. Sama saja dengan kita sebagai ibu, kita juga harus banyak belajar agar menjadi orang tua yang kelak anak banggakan. Semangat:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba... Being parent means never ending learning. Semangat! 💪

      Hapus
  2. jadi orang itu gak boleh cepat puas, harus terus belajar dan belajar. sabar kunci yg utamanya, walau saya sendiri masih jauh dari seorang yg sabar, huhuhuh...
    anyway thanks for sharing Mbak :)
    salam utk Kakak dan Adik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mba.. Semangat terus belajar untuk jadi orang tua yang lebih baik! 💪

      Hapus
  3. emosi seorang ibu kadang tidak terkendali, wajar karena kita juga manusia penuh salah dan dosa. kita harus berani katakan kepada anak "maafkan bunda".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba... Berani berkata maaf dan memperbaiki kesalahan... :)

      Hapus
  4. Pengalaman saya, kalau ga kuat banget mesti marah ke anak, sesudah marah saya pasti peluk dia dan minta maaf. Saya jg sama, kecil terbiasa dengan orangtua yang keras dan fokus ke pekerjaan. Alhamdulillah dengan dibiasakan memeluk dan mengungkapkan sayang dengan ucapan dan perbuatan, sekarang anak sudah besar yg dia ingat lebih banyak yg baiknya. Padahal saya tahu saya juga dulu sering marahi dia ketika kecil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bun... Upayakan untuk lebih banyak memberikan pengalaman positif pada anak. Sebagai manusia kadang kita terbawa emosi, hanya bagaimana kita berusaha semaksimal mungkin untuk enggak menumpahkannya langsung pada anak

      Hapus
  5. Salam kenal Mom, duh tertampar banget baca postingannya. Sejujurnya sedang mengalami hal yang sama. Susah ya mencoba meredam amarah saat si kecil berbuat hal yang tidak sesuai dengan kita. Saya juga dapat masukan, saat kita marah penting banget buat sadar kalau kita marah. Setelah sadar baru ambil langkah untuk diam atau jeda setelah berhasil dikuasai baru beraktivitas atau bicara lagi. JUJUR INI SUSAH BANGET dan saya belum berhasil mempraktekkannya. Huhu

    - dini // sejenakberceloteh.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga bun! :)

      Memang susah ya bun.. Enggak sesederhana teorinya. Intinya kita terus menerus berusaha untuk jadi lebih baik dengan enggak mudah menumpahkan emosi pada anak. Saya pun masih berproses, yang penting ada niat baik untuk memperbaiki diri.. :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Social Network