Langsung ke konten utama

ANAK DIBULLY? BEGINI SEHARUSNYA SIKAP ORANGTUA!

Sumber: Pixabay
"Kakak senang main sama mereka?", tanya saya suatu hari pada keponakan saya.
"Ya...  Asal mereka enggak keterlaluan", jawabnya.
"Keterlaluan gimana?", tanya saya penasaran.
"Iya... Keterlaluan. Masa dulu celanaku pernah dipelorotin di depan umum, terus aku juga sering dikatain", cerita keponakan saya.
“Dikatain apa?”, tanya saya lagi.
“Ya macam-macam. Dulu temanku,  Galih, yang suka dikerjain sama mereka. Tapi semenjak Galih enggak main keluar, jadinya aku yang dikerjain

Bagitulah percakapan singkat saya dengan keponakan ketika kami dalam perjalanan makan siang bersama. Singkat cerita, keponakan saya mengalami perundungan alias bully dari teman-teman sepermainannya di lingkungan rumah. Kondisinya cukup serius, hingga kakak saya pun turun tangan untuk berbicara dengan orangtua si Pem-bully.

Bully memang kadang terjadi di lingkungan pergaulan anak kita. Menurut psikolog, sebuah perbuatan dapat dikategorikan sebagai bully jika memenuhi kriteria berikut:
1. Adanya agresive action baik secara fisik maupun verbal. Selama ini agresive action selalu dikaitkan dengan perbuatan tidak menyenangkan yang berkaitan dengan fisik. Padahal meledek, memanggil dengan nama tertentu atau melakukan kekerasan fisik dapat dikategorikan sebagai agresive action juga.
2. ‎Adanya kekuatan yang tidak seimbang yaitu yang kuat mem-bully yang lemah. Misalnya ketika senior mem-bully juniornya di sekolah.
3. ‎Adanya kepuasan Si Pem-bully ketika melihat tergetnya menderita. Pem-bully melakukan agresive action karena ia merasa senang melihat orang lain menderita.
4. ‎Targeted, atau subjek yang dirundung selalu orang yang sama. Kondisi ini, menurut psikolog Hanlie Muliani adalah hal yang paling membuat korban menderita.


Dalam bergaul, anak memang terkadang dihadapkan pada konflik. Namun kita perlu memahami sejauh mana perbuatan dapat dikategorikan sebagai candaan yang wajar atau keterlaluan. Lalu bagaimana sebaiknya sikap orangtua ketika anaknya mengalami bully?

Pertama, identifikasi apakah anak benar mengalami bully. Orangtua bisa menanyakan pada anak dan lingkungan di sekitar anak. Menurut psikolog Natasha Devon, orangtua perlu meluangkan waktu lebih banyak bersama anak agar dapat menggali informasi lebih banyak.

Kedua, Edukasi anak tentang bully dan bagaimana menghadapinya. Jelaskan pada anak sejauh mana sebuah perbuatan dapat dikategorikan sebagai bully, jelaskan bahwa ia berhak untuk mengungkapkan perasaan jika tidak suka diganggu oleh temannya. Namun jangan ajarkan anak untuk melawan dengan perlakuan yang sama, misalnya menyuruh anak memukul anak yang mem-bully. Ajarkan pada anak untuk melaporkan pada guru dan Anda jika ia sudah tidak bisa mengatasi konflik tersebut dengan temannya.

Ketiga, laporkan. Jika bully yang diterima anak Anda tidak juga berhenti, berarti ini saatnya Anda untuk turun tangan. Diskusikan dengan guru dan kalau perlu dengan orang tua Si Pem-bully tentang solusi terbaik untuk masalah ini. Utamakan kenyamanan dan keselamatan anak Anda. Jika memang tidak memungkinkan, memindahkan anak Anda ke lingkungan lain mungkin merupakan solusi yang terbaik.

Hal yang paling penting dari persoalan bully ini bukan hanya sekadar memulihkan psikologis korban bully, tetapi justru bagaimana mengedukasi agar anak tidak menjadi pem-bully bagi temannya. Dengan begitu, peristiwa bully tidak lagi terjadi di lingkungan pergaulan anak-anak kita. Sehingga mereka bisa bergaul dengan aman dan nyaman.

Sumber:

Komentar

  1. The problem is. yang ngebully malah orang tua temannya. Jadi tugas orangtua adalah juga belajar menjaga sikap untuk tidak menanamkan benih membully pada anak sejak dini, supaya kelak anak tidak mengikuti sikap orangtuanya. salam :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bun... Fokusnya ke memutus mata rantai. Itu kenapa menanggulangu bully enggak sekedar memulihkan korban, tapi juga gimana caranya mengedukasi lingkungan

      Hapus
  2. Wah menarik.
    Jujur, kepada anak saya selalu saya tanamkan sikap BALAS pada semua yang mengganggumu, tujuan saya sih simple biar ga jadi anak lemah. Baru setelah itu laporin bu guru. Hehehe.
    Ternyata ilmunya begini toh, malah ga boleh balas.
    Tapi every mama has their own rules kan 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agree, every mama has their own rules. mungkin maksudnya bukan membalas ya ma, tapi lebih ke menekankan kalau itu bukan bercandaan. keep going positive mom, dan salam kenal *wink

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada? 

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…