Langsung ke konten utama

MENYEDIAKAN TV DI RUMAH: YAY OR NAY?

Sumber: Pixabay
Moms termasuk orang tua yang menyediakan TV enggak di rumah? Kalau saya iya. Don't judge me... Hehe.. Bukan karena saya malas menemani anak bermain dan bukan berarti saya membiarkan anak menonton TV sesukanya, saya menyediakan TV di rumah untuk kondisi-kondisi darurat. Misalnya ketika saya harus menidurkan si adik sementara kakak sedang full charge untuk main atau ketika saya harus menunaikan kewajiban seperti sholat dan bersih-bersih diri.
Buat saya TV bukan barang "haram" di rumah, meskipun saya menghargai dan salut banget sama orang tua yang meniadakan TV di rumah. Logika saya, kelak anak akan bergaul tanpa pengawasan orang tua, yang ingin saya tanamkan pada anak adalah ia mampu memfilter pengaruh buruk dari lingkungan. Supaya dapat menghindari pengaruh buruk, anak tentu perlu mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Kalau saya isolasi anak saya dari TV, saya justru khawatir ia akan mengenal TV dari lingkungannya, saat enggak dalam pengawasan saya. Ia tentu belum punya gambaran seperti apa yang boleh dan enggak boleh dilihat dan ditiru dari TV.  Itu kenapa saya memilih untuk menyediakan TV dengan jadwal menonton dan materi tontonan yang saya jaga secara ketat.
Di rumah saya memilih menyediakan TV berbayar. Memang lumayan harus merogoh kocek, tapi saya sudah angkat tangan deh dengan stasiun TV lokal. Meskipun acara yang diputar katanya untuk segmen anak-anak, tapi sering saya temui konten cerita yang justru jauh dari dunia anak. Belum lagi gempuran iklan yang memakan habis hampir 3/4 durasi acara. Pusing saya tiba-tiba si kakak jadi kenal k*ko, teh s*sr* dan produk jajanan lainnya hanya dengan menonton kartun Tayo dengan durasi 60 menit. Untung di dekat rumah enggak ada warung, kalau enggak bisa tiap hari si kakak minta jajan๐Ÿ˜….
Seperti yang juga disampaikan Abah Ihsan dalam bukunya “Anak Saleh Lahir dari Orang tua saleh",  menyediakan TV di rumah boleh saja, asal dikelola dengan baik. Saya bersama suami juga sudah menerapkan ini di rumah. Sejauh ini berjalan cukup baik pada anak kami. Berikut ini adalah hal-hal yang biasa kami lakukan di rumah (ditambah dengan materi dalam buku Abah Ihsan) untuk mengelola anak agar tidak berlebihan dalam menonton TV.

Pilih materi tontonan.
Ini adalah hal mendasar yang penting banget untuk diperhatikan saat moms memutuskan untuk menyediakan TV di rumah. Kalau saya hanya mengizinkan anak saya untuk menonton film kartun yang sudah saya pilihkan.
Karena ada beberapa film kartun yang sebenarnya enggak layak ditonton anak usia 12 tahun ke bawah. Untuk TV lokal saya hanya izinkan anak saya nonton Omar dan Hana, Cloud Bread, Tayo dan Robocar Poly. Untuk channel berbayar, saya hanya izinkan anak saya nonton Nick Junior. Kenapa Nick Junior? Karena channel tersebut memang sudah memilihkan film-film yang diputar sesuai segmen usianya. Berhubung usia kakak 3 tahun, jadi ya cocoknya nonton Nick Junior. Kalau Disney Junior kok enggak? Karena setelah saya screening acaranya, ada beberapa film yang sebenarnya menampilkan nilai-nilai yang kurang baik, seperti kebut-kebutan, mengambil barang milik orang lain atau film bertema peri, which is saya menghindari banget tema-tema yang sifatnya magis dan terlalu fantasi.
Kalau ini silahkan dikembalikan ke nilai orang tua masing-masing sih... Tinggal tanya ke diri masing-masing, nilai apa sih yang ingin diserap oleh anak-anaknya๐Ÿ˜.
Memilihkan tontonan bagi anak adalah kewajiban orang tua

Buat jadwal menonton TV.
Setelah menentukan materi tontonan, hal terpenting yang harus dilakukan untuk mengelola anak agar enggak berlebihan menonton TV adalah membuat jadwal. Ini penting banget, dengan jadwal anak jadi mengetahui batasan kapan harus berhenti menonton TV. Saya sendiri menerapkan jadwal 3 kali sehari untuk menonton TV (kayak minum obat yaa… hehe), Pagi (07:00-08:00), siang (12:00-13:00) dan malam (18:00-19.00). Terus, selain waktu-waktu tersebut bagaimana? Ya TV-nya dimatikan.
Awalnya pasti anak protes dan menangis, tapi dengan konsistensi orang tua, lama kelamaan anak akan terbiasa dengan sendirinya. Kalau orang tuanya mau nonton TV gimana? Tunggu anak-anak tidur, hehe… saya untungnya enggak terlalu suka nonton TV, sedangkan suami saya karena pulang malam, tentu baru bisa menonton setelah anak-anak tidur.
Menariknya adalah terkadang anak justru enggak menggunakan jatah nontonnya loh moms kalau sudah dibiasakan dengan jadwal seperti ini. Tentunya ketika ia memiliki kegiatan yang lebih mengasikan dibandikan nonton TV.

Kenalkan anak pada buku
Membuat anak menyukai buku benar-benar sangat membantu saya untuk mengurangi waktu menonton TV kakak. Saya sudah perkenalkan buku pada kakak bahkan sejak usia kurang dari 4 bulan. Saya sediakan buku-buku bantal dengan warna kontras yang biasanya saya bacakan pada sela-sela waktu bermain. Memangnya anak ngerti? Kan masih bayi… Memang belum ngerti anaknya, tapi paling enggak dengan mengenalkan buku sejak dini, anak jadi mengenal kegiatan membaca, menikmati dan syukur-syukur mencintainya. Terbukti ketika sudah besar, kakak sangat terbiasa dengan buku. Di sela aktivitas bermain atau sebelum tidur, kakak sering minta dibacakan buku. Seringkali kakak malah lebih memilih membaca buku dibandingkan nonton TV loh….


Alihkan pada kegiatan lain
Menyediakan TV di rumah bukan berarti mendelegasikan aktivitas bermain anak pada si kotak ini ya moms.. Bermain bersama orang tua tentu lebih baik dibandingkan anak hanya nonton TV walaupun satu jam saja. Saya pribadi, kalau enggak ada hal yang urgent yang harus dikerjakan, saya lebih memilih untuk menemani anak-anak saya main. Begitu pun kalau enggak ada orang lain yang bisa saya mintai tolong untuk menjaga anak-anak, misalnya suami atau mertua. Menghabiskan waktu dengan anak tetap menjadi prioritas utama saya di rumah. Karena bagaimana pun moment kebersamaan dengan anak-anak tetap enggak bisa tergantikan meski dengan acara TV seedukatif apa pun.
Melakukan aktivitas yang disukai anak adalah hal yang dapat dilakukan agar anak tidak nonton TV

Kompak dan konsisten
Agar pengaturan jadwal nonton TV dapat efektif, moms dan suami tentu saja harus kompak dalam menerapkannya. Begitu juga dengan significant other yang lain misalnya kakek, nenek dan pengasuh. Alhamdulillah… saya termasuk ibu yang beruntung karena sangat di support oleh lingkungan dalam pengasuhan anak. Misalnya ketika mertua sedang menginap di rumah, beliau enggak keberatan dengan jadwal menonton kami. Justru beliau sangat support dengan mengajak anak-anak bermain saat saya sedang menyelesaikan tugas-tugas rumah, sehingga anak-anak saya enggak menonton TV.

Jadilah role model bagi anak
Seperti kata sebuah quotes, “Anak meniru apa yang orang tua lakukan, bukan apa yang orang tua katakan”. Kalau orang tua hobi berlama-lama di depan TV, tentu anak akan melakukan hal yang sama. Tanamkan pada anak kesukaan untuk aktif beraktivitas, kenalkan anak pada buku dan membaca juga berkreasi dengan benda-benda. Dengan begitu anak lebih memiliki banyak alternatif aktivitas. Yakin deh! Kalau aktivitas yang lain lebih seru, secara otomatis anak pun akan lebih suka melakukan hal lain dibandingkan nonton TV.
Orang tua adalah role model pertama dan utama bagi anak

Masa anak-anak adalah masa yang krusial banget yang akan menentukan kondisi anak dikemudian hari. Maka sayang banget kalau sebagian waktunya hanya dihabiskan dengan memandang layar TV. Menyediakan TV di rumah sah-sah saja menurut saya, tapi kalau masih ada aktivitas lain yang bisa dilakukan anak, kenapa harus nonton TV? ๐Ÿ˜Š

Sumber:
Buku "Anak Saleh Lahir dari Orang tua saleh" karya Abah Ihsan

Komentar

  1. Dulu saya sempat nggak pakai TV di rumah. Jadi sama sekali nggak nonton TV dan nggak update info berita terbaru. Alasannya karena TV rusak bolak-balik kena samber gledek. Tapi itu dulu waktu anak saya pertama masih bayi. Setelah anak saya umur satu tahun akhirnya beli TV.
    Ya kami bisa betah hidup tanpa TV selama setahun karena saya fokus ke kehamilan dan merawat bayi. Selain itu saya dan suami gemar baca buku. Apalagi saya suka menulis blog jadi ga ada TV ga begitu masalah haha. Bener, deh pendapat mbak. Kalau kita tidak mengenalkan anak dengan TV lambat laun pasti anak akan tau TV dari lingkungan luar bukan dari kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serem juga ya moms TV nya sering kesamber gledek๐Ÿ˜…. Betul moms... Kt enggak bs selamanya mengisolasi anak. Ada saatnya dia akan cari di luar. Kalau menurut saya, lebih baik kt bekali informasi secukupnya, agar kelak anak kt bs membedakan mana yg baik dan buruk untuk dilihat.

      Hapus
  2. kenalkan anak pada buku nih yang paling bisa menggantikan peran teve di aku... tapi tetap tv mah penyelamat agar mommies tetap waras haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya moms... Saya pun terbantu banget dengan buku. Kadang anak saya justru lebih tertarik sama buku dibanding TV. ๐Ÿ˜„

      Hapus
  3. TV memang jadi problematika. Ada temen yang kasih saran supaya gak usah ada TV di rumah. Tapi anak bisa aja nonton TV di rumah tetangga. Baca ini jadi tercerahkan.
    Makasih mom :)

    BalasHapus
  4. kalau di rumah justru bukan tv lagi problemanya tapi hape dan youtube. anakku sedari kecil kurang minat sama buku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin ada minat yang lain moms... Keponakan saya enggak suka baca buku, tapi suka main bola dan sepeda. Orang tuanya memfasilitasi dengan jadwal main di luar. Anaknya tetap hepi dan dengan suka rela jauh dari TV, hehe

      Hapus
  5. Kami suka semuanya, tv, buku, altivitas luar, dimix dengan porsi TV usahakan yang paling kecil. Dan bener, pilih tontonan.

    Terima kasih sharingnya ya Ma, salam kenal ๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Moms... Salam kenal juga ๐Ÿ˜Š

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?