Langsung ke konten utama

DIARY MPASI BABY ZEE (PART 1)


Dua pekan ini kesibukan saya bertambah. Biasanya pagi hari saya cuma riweuh menyiapkan bekal suami dan makan siang si kakak, tapi mulai bulan kemarin aktivitas masak saya ditambah dengan menyiapkan MPASI untuk Si Bungsu. Aktivitas masak tiap pagi jadi heboh. Saya merasa antara semangat,  deg-deg-kan dan capek. Semangat nyiapin menu apa untuk besok, deg-deg-kan adik bakal suka atau enggak sama makanannya dan capek (kalau ini mah enggak perlu dijelasin kenapa ya....) 


Seperti waktu zaman si kakak, saya mulai memberikan si adik menu tunggal. Saya mulai dengan bahan yang rasanya "anta" alias hambar. Harapannya sih, si adik yang sudah biasa makan makanan hambar, enggak akan menolak makan sayur. Kalau sudah ketemu buah yang rasanya manis, khawatir adik menolak sayur. Walaupun enggak ada pembuktian ilmiah tentang ini sih...  Saya saja yang khawatir berlebihan sepertinya😂😂. 

Tapi waktu si kakak, metode ini lumayan membuahkan hasil sih. Si kakak sampai sekarang doyan banget sama sayur. Minggu pertama saya lalui dengan riang gembira, hehe... Karena si adik makannya lahap. Alhamdulillah... Lancar jaya, so far adik lahap dan lancar buang airnya. Minggu kedua, saya pun mulai "berani" dalam memilihkan menu untuk adik. 

Oiya, saya dan suami punya riwayat alergi, itu kenapa saya sangat hati-hati dalam memilihkan menu makanan untuk anak-anak saya. Dulu, kakak lumayan parah alerginya. Kakak bahkan punya eksim dan kalau sudah meninggalkan luka, biasanya bekasnya enggak hilang😢. Tapi saya perhatikan si adik lebih kuat. Waktu adik masih full ASI, adik hanya bereaksi alergi saat saya makan udang. Jadilah di hari terakhir pekan kedua itu saya beranikan diri memasukan menu udang. Adik makan lahap banget dan kulitnya pun kelihatan aman-aman saja. Saya sudah lega sampai tiba-tiba si adik bangun dari tidur siang dan langsung muntah-muntah! 

Hari itu si adik jadi agak susah makan, mungkin karena dia merasa enggak nyaman di perutnya. Dari beberapa referensi yang saya baca, muntah juga merupakan salah satu reaksi alergi. Akhirnya saya putuskan untuk menunda pemberian menu udang ke adik. Selain muncul kemerahan di kulit, reaksi alergi dapat berupa gangguan pencernaan seperti mual muntah, mencret atau sembelit. Penanggulangan alergi sendiri hanya bisa menghilangkan efek dari reaksi alergi bukan menghilangkan alergi itu sendiri. Jadi cara terbaik agar alergi enggak muncul ya dengan menunda pemberian bahan makanan pemicu alergi.

Catatan saya yang lain terkait MPASI adik di dua pekan pertama yaitu adik suka banget sama buah-buahan dan air putih. Mungkin itu kenapa alhamdulillah adik lancar BAB-nya. Adik kalau makan juga cepat banget, tapi biasanya 15-20 menit makan sudah merasa kenyang. Karena makannya cepat, adik juga rawan tersedak, itu kenapa saya harus hati-hati ketika menyuapi adik. Saya juga memilih sendok berbentuk datar dengan ujung tumpul untuk memudahlan saya menyuapi adik. 

Jadi…  beginilah kira-kira menu Si adik selama  dua pekan ini:
Pekan 1
Beras putih-daging
Buah naga-Hati
Labu parang-tahu
Tempe-pisang
Alpukat-ayam
Kentang-pepaya
Wortel-lele

Pekan 2
Mangga-edamame
Jeruk-brokoli
Kuning telur ayam kampung-beras merah-putih
Bayam- ikan kembung
Pir-akar bit
Salmon- labu siem
Jagung-udang

Dua pekan ini adik masih dua kali makan sehari dengan menu tunggal. Menu di atas enggak mutlak sih…. Kadang saya ubah juga tergantung situasi dan kerepotan di pagi hari, hehe… .

Semoga menginspirasi ya Moms!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENGENAL CHILD'S COMFORTER

Moms, adakah yang anaknya susah tidur kalau tidak memeluk selimut kesayangannya? Benda-benda seperti boneka, guling atau bantal, yang meski sudah kumal dan kotor tetap merajai tempat tidur buah hati. Beberapa anak bahkan sulit tidur jika tidak memegang bagian tubuh tertentu, seperti obrolan saya dengan tetangga sore ini yang menceritakan kalau anaknya tidak bisa tidur tanpa memegang leher Sang Bunda. Salah satu adik saya pun ketika kecil punya guling kesayangan, guling dengan kepala berbentuk beruang yang setiap tidur harus digesekan hidungnya ke hidung adik saya. Aneh ya? Tapi itulah kenyataannya. 
Beberapa anak menggunakan mekanisme ekternal untuk memberikan kenyamanan pada dirinya. Biasanya dengan menghisap jempol, memegang bagian tubuh tertentu atau memiliki benda kesayangan. Bahkan ada yang membawa benda kesayangannya kemanapun dia pergi.
Kenapa anak memiliki kebiasaan atau benda kesayangan yang tidak bisa lepas dari dirinya? 
Menurut Dr. Olwen Wilson, psikolog anak dari Royal Su…