Langsung ke konten utama

4 HAL YANG PERLU MOMS TAHU SEBELUM BERKOMUNITAS

Sumber: pixabay

Resign dari pekerjaan saya setelah enam tahun bekerja adalah fase yang cukup membuat hidup saya goyang. Bayangkan saja, dari yang sebelumnya punya jadwal padat sejak pagi hingga malam dan wara-wiri dinas luar kota, tiba-tiba berubah 180 derajat. Euforia awal resign saya rasakan. Bangun siang, malas-malasan dan santai seharian, apalagi waktu itu anak saya baru satu. Tapi setelah tiga hari menjalani kehidupan semacam itu, hidup saya pun mulai terasa hampa.... 

Waktu melihat update-an status teman-teman kantor yang makan siang bareng atau datang ke event kantor di sosmed hati saya pun mencelos, i feel nothing. Hanya berkutat dengan urusan domestik dan anak, membuat saya merasa kurang berharga (saat itu). Padahal saat di rumah saya pun sibuk, tapi tetap saja saat itu saya merasa yang saya lakukan itu nothing. Saya pun mulai rewel. Ketebaklah siapa yang paling jadi sasaran kegalauan saya kalau bukan suami. 

Namun saya merasa Allah sangat baik, sedikit demi sedikit saya dipertemukan dengan komunitas-komunitas yang memberikan saya positive vibe dalam menjalani peran saya sebagai ibu. Sampai akhirnya saya menemukan sendiri makna peran saya sebagai ibu. Saya pun bisa melewati masa-masa tersulit saya setelah resign. Alhamdulillah.... 

Yup! Bergabung dalam komunitas adalah salah satu sarana yang bisa Moms gunakan agar bisa tetap positif menjalani peran sebagai ibu. Apalagi kalau Anda stay at home mom, menurut saya Anda perlu effort sedikit untuk mencari lingkungan yang mendukung peran Anda. Tidak harus komunitas yang bidangnya berhubungan dengan peran Moms langsung seperti urusan domestik dan pengasuhan, bergabung dengan komunitas apapun, sejauh positif dan membantu Anda dalam mengoptimalkan peran Moms sebagai ibu menurut saya oke saja. 

Sekarang ini kan banyak banget komunitas seru, apalagi dengan berkembangnya sosial media, orang sangat dimudahkan untuk belajar. Sebut saja komunitas homedecor, komunitas menulis, komunitas olahraga, komunitas pebisnis dan masih banyak komunitas lainnya. Saya sendiri tergabung dalam beberapa komunitas yang bertema parenting, menulis dan blogging. Meskipun hanya sebagai anggota, tapi menjadi bagian dari sebuah kelompok itu ternyata lebih mengasyikan. 

Manusia itu kan makhluk sosial, seintrovert apapun Anda, Moms tetap butuh orang lain dalam kehidupan Anda. Itu kenapa menjadi bagian dari kelompok yang bisa membantu Anda ke arah yang lebih positif itu cukup penting. Dari yang levelnya sederhana seperti teman kumpul pengajian bareng sampai yang anggotanya ribuan, tinggal pilih sejauh mana kenyamanan Anda. 

Intinya pilihlah komunitas yang sesuai dengan passion Moms dan tentu the most important thing adalah membawa dampak yang positif bagi diri Moms dan keluarga. Karena menurut saya tujuan berkomunitas itu salah satunya agar Moms bisa menjalankan peran Anda secara optimal karena Moms bahagia. Jadi ujung dari setiap aktivitas kita sebagai ibu adalah kebahagian bersama, yaitu kebahagiaan Moms sendiri, suami dan tentu saja anak-anak. 


Sebelum menentukan mau bergabung dengan komunitas apa, kenali dulu nih Moms hal-hal berikut ini! 

Passion
Hal pertama yang perlu Moms kenali sebelum memilih komunitas tentunya minat Anda. Ikut-ikutan bergabung tanpa suka dan paham dengan apa yang Anda lakukan tentu malah akan menjadi beban. Jangan coba-coba bergabung dengan komunitas ilustrator kalau satu-satunya maha karya yang bisa Anda buat adalah pemandangan gunung disertai sawah di kanan kirinya yang terbelah oleh jalan di tengah-tengah (ini mah saya banget!). Yang ada adalah Anda hanya akan jadi pengagum tanpa diri Moms bisa berkembang di dalamnya. Jadi rule utamanya adalah pastikan Anda suka dan bisa meskipun level bisanya masih pemula, hehe. 

Sejalan dengan peran utama
Bergabung dengan komunitas seharusnya bisa membantu Moms untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan tentu saja mengasah kemampuan dengan ilmu yang diberikan di dalamnya. Tapi saat bergabung dengan komunitas justru membuat Mom tidak optimal dalam menjalankan peran utama Anda, maka kegiatan tersebut bukan menjadi booster melainkan malah mematikan potensi Moms yang sesungguhnya. Karena peran yang kita jalani itu kan kombinasi dari dua hal, bawaan dan pilihan, dan menjadi ibu menurut saya adalah peran pilihan bukan bawaan. Artinya apapun peran yang sudah kita pilih berarti sepaket dengan konsekuensi yang harus kita hadapi, termasuk mengedepankan peran utama kita di atas peran yang lain. 

Membawa dampak positif
Kalau ini sebagian sudah terbahas ya Moms. Intinya carilah kelompok yang lingkungannya positif dan kondusif. Saya pernah dengar sih ada beberapa komunitas yang terlalu eksklusif atau malah kondisi di dalamnya yang tidak kondusif. Bukannya saling mendukung dalam kebaikan dan perkembangan masing-masing anggotanya, malah saling sikut dan mempertajam persaingan. Ini sih bukannya bikin bahagia malah yang ada bikin tertekan enggak sih? Kan tujuan awal bergabung dalam kelompok itu ya agar bisa dapat hal positif dari kelompok tersebut, ya enggak sih

Berkomunitas seharusnya bisa membawa dampak yang positif bagi kehidupan Moms bukan sebaliknya

Siap berkomitmen dengan rules kelompok. 
Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Sama dengan berkomunitas, pahami rules dari kelompok yang ingin Moms ikuti dan pastikan rules tersebut sejalan dengan nilai pribadi Anda. Karena ketika kita bergabung dengan sebuah kelompok, berarti kita sudah mengikat diri dan berkomitmen untuk ikut berkembang di kelompok dan mengembangkan kelompok. 

Bergabung dengan komunitas itu banyak positifnya kok, itu yang sudah saya rasakan. Meskipun saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, saya tetap punya wadah untuk mengembangkan dan aktualisasi diri. Sebagai manusia, ibu tentu juga punya keinginan untuk bisa berperan aktif di luar rumah. Sah saja kok menurut saya! Sejauh peran utamanya tidak keteteran. Banyak jalan menuju roma kalau kata pribahasa mah... Jangan jadikan peran ibu sebagai penghambat diri untuk mengeluarkan potensi, sebaliknya jangan pula aktivitas di luar ranah domestik dan pengasuhan membuat kita lupa akan esensi peran utama sebagai ibu. Life ia all about balance.

Selamat menjadi ibu yang bahagia ya Moms! 


Komentar

  1. Yips mb
    Berkomunitas sangat perlu bwt ibu rt biar g sumpek wkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget Moms. Kadang perlu juga kegiatan yg berbeda supaya tetap waras kan... Ibu happy, anak-anak pun bisa terurus dengan baik

      Hapus
  2. Setuju, Mbak. Saya jiga resign 4 tahun yang lalu. Lalu mencoba bergabung dg komunitas ini itu agar hidup saya lebih berwarna. Ada sih yg sudah saya tinggalin krn ngerasa ga sesuai lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bun... Memang seiring waktu pasti kita akan nemuin komunitas yg lebih klik dgn diri kita. Pada akhirnya kita harus milih karena waktu kita kan terbatas kalau ikut terlalu banyak komunitas. Walaupun diawal-awal pasti gatel tuh pingin ikut semuanya, hehe

      Hapus
  3. Benar sih, berkomunitas membuat hidup terasa lebih berarti. Merasa lebih berguna, dan tentunya jadi lebih banyak teman 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya berkomunitas itu bisa jadi mencari support sistem juga sih Moms. Soalnya dari komunitas, selain dapat teman, kita juga bisa dapat banyak ilmu baru.

      Hapus
  4. Bagus mba ikutan komunitas, aku ikutan komunitas biar nggak bete aja dan ada kegiatan yg bikin aku semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bun... As a mom, kita butuh me time juga kan sebagai charger. Biar makin semangat ngejalanin peran kita :)

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…