Langsung ke konten utama

MENGENAL CHILD'S COMFORTER

Sumber: Pixabay

Moms, adakah yang anaknya susah tidur kalau tidak memeluk selimut kesayangannya? Benda-benda seperti boneka, guling atau bantal, yang meski sudah kumal dan kotor tetap merajai tempat tidur buah hati. Beberapa anak bahkan sulit tidur jika tidak memegang bagian tubuh tertentu, seperti obrolan saya dengan tetangga sore ini yang menceritakan kalau anaknya tidak bisa tidur tanpa memegang leher Sang Bunda. Salah satu adik saya pun ketika kecil punya guling kesayangan, guling dengan kepala berbentuk beruang yang setiap tidur harus digesekan hidungnya ke hidung adik saya. Aneh ya? Tapi itulah kenyataannya. 

Beberapa anak menggunakan mekanisme ekternal untuk memberikan kenyamanan pada dirinya. Biasanya dengan menghisap jempol, memegang bagian tubuh tertentu atau memiliki benda kesayangan. Bahkan ada yang membawa benda kesayangannya kemanapun dia pergi.

Kenapa anak memiliki kebiasaan atau benda kesayangan yang tidak bisa lepas dari dirinya? 

Menurut Dr. Olwen Wilson, psikolog anak dari Royal Surrey Country Hospital, kebiasaan anak tersebut disebabkan ibu yang tidak bisa selalu menjadi tempat untuk meredakan kecemasan anak, sedangkan anak membutuhkan sesuatu yang dapat membuatnya merasa nyaman ketika stress. Bayangkan Moms seorang balita yang dihadapkan pada dunia yang terkadang membuat perasaan kurang nyaman karena tantangannya. Moms mungkin melihat perubahan di sekeliling Anda sebagai hal yang biasa, namun untuk anak balita hal tersebut dapat memicu stress. 

Tentunya tidak semua anak membutuhkan benda atau kebiasaan tertentu untuk meredakan stressnya. Beberapa anak memiliki kemampuan untuk mengelola stressnya secara mandiri, sehingga ia tidak membutuhkan mekanisme eksternal untuk meredakan kecemasannya. Sebenarnya, kebiasaan anak semacam ini adalah hal yang lumrah. Beberapa anak mengemut jempolnya hingga usia tiga bulan. Biasanya kebiasaan semacam ini akan hilang dengan sendirinya. 

Namun memiliki kebiasaan seperti ini bukan tanpa risiko, memiliki kebiasaan mengemut jempol dapat menyebabkan anak mudah tertular kuman dan penyakit dari tangannya, belum lagi jika kebiasaannya memeluk benda yang keadaannya sudah kumal dan kotor. Hal ini bisa meningkatkan risiko anak Anda terserang penyakit. 

Tapi secara psikologis, kebiasaan semacam ini bukan masalah yang besar. Sebagian anak yang memiliki comforter akan meninggalkan kebiasaannya sejalan dengan kematangan usia. Bahkan menurut Dr Nadja Reissland, senior psychology lecturer dari Durham University, memiliki comforter amat bermanfaat bagi anak-anak yang memiliki masalah tantrum. 

Kalau saya pribadi, sejauh anak tidak berlebihan dan kebiasaannya tidak melanggar norma atau berpotensi menimbulkan penyakit, ya... Enggak terlalu masalah. Kan ada tuh anak yang suka memainkan puting payudara ibunya ketika menyusu atau mau tidur, atau mencium ketiak misalnya. Rasanya kurang baik kan kebiasaan seperti itu, jadi sebisa mungkin dialihkan, misalnya dengan memegang tangan anak saat sedang menyusu. 

Si adik pun kadang suka ingin memegang payudara saat menyusu, biasanya saya alihkan dengan memberikannya mainan atau memegang tangannya. Kalau Si Kakak, dulu ia tidak bisa tidur tanpa ngedot. Proses membujuk kakak untuk lepas dari dot lumayan lama, hingga akhirnya kakak kena diare dan saya jadikan momen tersebut sebagai alasan untuk membuat kakak berhenti ngedot. Alhamdulillah berhasil dong! 

Kakak punya kebiasaan ngedot sejak bayi dan baru berhenti setahun belakangan

Memang kesabaran untuk membujuk anak melepaskan comforter-nya jadi modal yang utama. Memaksakan anak untuk melepas comforternya bukan hal yang dianjurkan, karena hal tersebut justru akan membuat anak semakin stress dan defensif. Biarkan anak mengikhlaskan comforter-nya secara sukarela. Tentunya hal ini membutuhkan proses yang beragam, ada yang mudah dan ada juga yang sulit. 

Disamping itu keberadaan Moms di masa krusial bagi anak juga sangat penting. Misalnya saat anak sedang sedih atau sakit, temani anak dan berikan kenyamanan untuknya sehingga anak menjadi lebih tenang. Ajari anak untuk dapat mengelola emosinya saat sedang merasa kurang nyaman, misalnya dengan menarik napas atau Anda juga bisa memberikan pelukan sambil menenangkannya. Yakinkan anak Anda bahwa Moms akan selalu siap sedia untuk membantunya. Dengan begitu anak tidak akan mengandalkan mekanisme eksternal untuk meredakan stress. Anak pun akan merasa tetap aman dan nyaman meski Moms sedang tidak berada di dekatnya. 

Hal terakhir yang perlu di pahami adalah setiap anak memiliki proses yang berbeda. Beri anak waktu untuk dapat mengikhlaskan comforter-nya. Alihkan pada aktivitas lain kalau perlu, misalnya membaca sebelum tidur. Namun jangan sertamerta mengambil comforter dari Si Kecil. Beri ia ruang untuk menyesuaikan diri secara perlahan. Ingatlah bahwa ini adalah bagian dari fase yang akan terlewati oleh anak. Tentunya dengan pendampingan dan pengarahan dari orangtua. 

Semoga bermanfaat sharing-nya ya Moms! 

Komentar

  1. wah anak pertamaku ujung bantal dan anak keduaku bedong bayinya masih dipegang sampai sekarang dewasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan... Lumayan repot jadinya ya bun. Kemana-mana harus bawa bedong😅. Tapi adik saya pun baru bisa lepas dari guling kesayangannya setelah masuk SMA sih

      Hapus
  2. Anak keduaku dulu selalu pegang sikut kalau mau tidur. Jadi kalau menidurkan dia, sikut tanganku selalu di elus-elus sama dia, sampai dia tertidur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bun... Itu juga salah satu conforter. Sejauh enggak bikin risih sih it's ok, tapi mungkin pelan-pelan dialihkan karena khawatir terbawa sampai besar

      Hapus
  3. Anakku dlu ngedot sampai umur 4 tahun & ngempong sampai umur 2 thn 😅 Tadinya takut gak bisa lepas, tp Alhamdulillah dia malu sendiri dilihat teman²nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tos bun! Saya pun menghadapi drama saat ngajarin anak sulung saya lepas dot. Karena merusak gigi, saya jadi khawatir dgn kebiasaan ini. Gigi depan sulung saya sampai patah karena karies, huhu...

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada? 

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…