Langsung ke konten utama

MENYAMBUNG DUA GENERASI

Sumber:Pixabay
Siapa moms di sini yang susah banget untuk membuat Si Kecil lekat dengan kakek atau neneknya (atau bahkan keduanya)? Saya sendiri merasa cukup tertantang untuk mendekatkan anak-anak dengan eyangnya (which is adalah orangtua saya sendiri๐Ÿ˜†). Tipikal setiap orang kan berbeda ya... Ada yang bisa jadi magnet buat anak kecil, tapi ada juga yang memang bawaannya enggak terlalu bisa mengajak main anak kecil. 

Termasuk orangtua saya yang tipikalnya enggak terlalu nyaman kalau digerendolin anak kecil. Mungkin karena faktor usia juga penyebabnya, main dengan anak kecil itu kan butuh energi ekstra sedangkan kedua orangtua saya memang sudah enggak terlalu fit. Saya sendiri sebenarnya juga tipikal yang biasa saja kalau ketemu anak kecil, bukan tipe magnet anak-anak dan kalau ketemu anak kecil saya pun biasa saja. Tapi saya belajar lebih cair sewaktu saya bekerja sebagai guru di sebuah pre school. Ingat banget, dulu pernah dikomentari sama kepala sekolah katanya saya kurang santai waktu ngajar๐Ÿ™ˆ. Ya sudah... Dengan sedikit memaksakan diri, lama kelamaan ternyata saya bisa juga jadi guru yang santai. Setelah mengasuh kedua putri saya sendiri pun akhirnya mau enggak mau saya terlatih untuk lebih luwes menghadapi anak kecil. Artinya keluwesan menghadapi anak kecil itu ternyata bisa dilatih ya Moms.... 

Kami sekeluarga memang tinggal cukup jauh dari orangtua. Kami sekeluarga di Bogor, sedangkan orangtua saya di Tangerang. Karena kesibukan masing-masing, kami hanya bisa berkunjung minimal sekali setiap bulannya. Jadi terbayang deh... Sudah jarang ketemu, begitu berkunjung, eyangnya pun enggak bisa terlalu lekat dengan cucu-cucunya. Akibatnya, anak-anak saya pun juga kurang enjoy saat main dengan eyangnya. Padahal kelekatan anak dengan nenek dan kakek itu membawa dampak positif loh. Di salah satu penelitian yang dilakukan oleh University of Oxford ditemukan bahwa anak yang dekat dengan kakek dan neneknya memiliki masalah emosi dan perilaku yang lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak (metrotvnews.com). Nenek dan kakek pun sebenarnya juga bisa menjadi jembatan bagi hubungan orangtua dan anak yang kurang harmonis. Artinya kedekatan cucu dengan kakek dan neneknya itu sebenarnya penting banget

Penyebab anak sulit lekat dengan kakek dan neneknya

Salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya mendekatkan kakek, nenek dan cucunya menurut saya adalah perbedaan cohort. Jarak angkatan lahir yang terlampau jauh tentu membentuk cara pandang yang berbeda antara Si Angkatan Senior dan Si Angkatan Junior. Apalagi dengan kondisi zaman sekarang yang deras dengan arus informasi. Jelas anak sekarang punya pengetahuan yang lebih cepat maju dibandingkan dengan pendahulunya. Eits... Tapi jangan salah, pengalaman tetaplah guru yang berharga. Bagaimana pun kakek dan nenek hidup lebih lama dan tentu lebih banyak makan asam garam kehidupan. Hal tersebut yang enggak bisa dikalahkan oleh teknologi informasi secanggih apapun. 

Selain perbedaan angkatan usia, karakter kakek dan nenek juga menjadi pengaruh anak susah lekat. Seperti pada kasus keluarga saya, kalau dengan mamah, anak-anak sebenarnya cukup terbuka, tapi kalau dengan ayah saya yang pendiam (banget!) mereka agak enggan untuk main bersama. Hal ini berkebalikan dengan kondisi hubungan antara anak-anak dan mertua saya. Mereka justru lekat banget. Anak-anak senang kalau ketemu dan main sama mbahnya. No wonder, karena beliau guru SD, jadi lebih luwes menghadapi anak-anak. Pembawaan mertua saya pun lebih ceria kalau dibanding orangtua saya. Itu kenapa anak-anak saya justru sangat lekat sama mbahnya. 

Tiga generasi

Terus, bagaimana ya supaya anak-anak bisa lekat dengan nenek dan kakeknya?
 

Kalau ini sih strategi saya untuk mendekatkan mereka. Sejauh ini so far so good sih. Bahkan kalau  Si Kakak sudah bisa saya tinggal main dengan nenek dan kakeknya saja. Tapi tetap harus berkelanjutan sih menurut saya, karena anak dengan usia 5 tahun kebawah kan masih cepat lupa (istilahnya childhood amnesia), jadi kalau enggak sering-sering diajak ketemu sama kakek dan neneknya ya mudah lupa lagi. 

Jadi, ini lah Moms strategi saya untuk mendekatkan kedua anak saya dengan kakek neneknya:
  1. Buat kegiatan bersama. Biasanya kakek, nenek dan cucu akan lebih cair saat suasana kegiatan di luar rumah. Coba deh Moms, ajak tamasya atau berlibur bersama atau sekadar makan siang bersama di luar. Situasi yang di luar kebiasaan biasanya akan memudahkan kita untuk mencairkan suasana. Kalau kami terkadang menyempatkan untuk makan siang bersama di luar atau sesekali pergi ke tempat wisata. Lumayan membantu loh... Si kakak yang tadinya takut dekat ayah saya, sekarang mulai "nempel".
  2. Sering-sering berkunjung. Semakin sering bertemu, maka semakin banyak interaksi antar mereka. Semakin sering berinteraksi, harapannya hubungan antara kakek, nenek dan cucu akan lebih cair, karena anak-anak enggak merasa asing lagi ketika bersama kakek dan neneknya. Sebenarnya ini juga jadi PR buat saya sih... Ternyata menyempatkan berkunjung ke rumah orangtua tuh enggak sesederhana itu, kadang jadi sedih sendiri deh.... ๐Ÿ˜ข Entah saya atau suami yang sibuk atau malah kedua orangtua saya yang sibuk. Jadinya susah menemukan jadwal yang sama. 
  3. Menitipkan anak dengan maksud tersembunyi. Sekali-sekali boleh loh Moms menitipkan anak ke orangtua dengan maksud mendekatkan mereka. Jangan terlalu lama juga sih menitipkannya, itu mah namanya keenakan.... ๐Ÿ˜† Maksudnya agar mereka bisa lebih punya privasi untuk melakukan aktivitas bersama. Misalnya Moms minta waktu 1-2 jam untuk menitipkan anak ke orangtua, agar Moms bisa menyelesaikan pekerjaan tertentu (atau mungkin untuk pergi ke salon sejenak๐Ÿ˜‰). Tapi ini balik lagi ke kakek dan neneknya sih... Mereka mau atau enggak dititipi. Intinya jangan sampai menitipkan anak justru jadi beban yang memberatkan orangtua, jadi pastikan dulu kalau orangtua kita enggak keberatan untuk menjaga anak-anak. 
  4. ‎Ceritakan hal-hal baik tentang kakek dan nenek, begitu pula sebaliknya. Ini bisa dilakukan di depan atau di belakang orangnya ya Moms. Misalnya saat di rumah, Moms bisa ceritakan tentang nenek yang pintar bikin kue atau kakek yang bisa bikin mainan layang-layang yang besar. Saat sedang bersama, Moms juga bisa menceritakan hal baik tentang anak-anak, misalnya, "Kakak sekarang sudah bisa makan sendiri loh eyang, sudah gitu bekas makannya bisa ditaruh sendiri di tempat cuci piring". Cara seperti ini juga bisa jadi sarana untuk membuka percakapan antara kakek, nenek dan cucu. 

Membangun kelekatan antara cucu dan kakek nenek memang susah-susah gampang. Seandainya anak sulit untuk lekat dengan kakek dan neneknya, kita lah sebagai orangtua yang berperan untuk mendekatkan mereka. Karena kakek dan nenek sebenarnya adalah "rumah" kedua bagi anak setelah orangtuanya. Memang kalau karakter orangtua kita sedikit cool alias dingin, kita perlu usaha ekstra. Tapi usaha saya dengan trik di atas ternyata cukup berhasil. Mungkin bisa Moms terapkan juga di keluarga Anda. Selamat mencoba! ๐Ÿ˜‰

Komentar

  1. anaku sulungku dekat dengan ibuku tp yang kedua gak trellau dekat entah mengapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi karena perbedaan karakter bun... Seperti hubungan lain saja, kadang kita bisa cocok dengan satu orang, tapi belum tentu orang lain bisa nyambung dan cocok dgn orang tersebut:)

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?