Langsung ke konten utama

4 HAL YANG HARUS MOMS LAKUKAN SEBELUM RESIGN

Sumber: Pixabay

Sebelum menjadi ibu rumah tangga, saya menjalani karir sebagai seorang bankers di salah satu bank syariah di Jakarta. Jam kerja yang panjang dan tuntutan kerja yang harus mobile ke luar kota membuat saya berat meninggalkan kakak saat itu. Akhirnya dengan risiko terkena denda karena baru saja menyelesaikan pendidikan untuk kenaikan pangkat, saya pun memutuskan resign dari pekerjaan saya. 

Lucunya, Setelah saya berhenti, saya menerima tanggapan yang beragam. Ada yang mengapresiasi dan memberikan semangat untuk langkah yang saya ambil, tapi ternyata tak sedikit yang mengkritik bahkan mencibir. 

"Sayang banget! Dibiayain sekolah tinggi sama orang tua malah jadi ibu rumah tangga"

"Berhenti kerja? Wah... Berarti beban suami makin bertambah ya"

"Nanti ngapain kalau di rumah aja? Bosen di rumah, nanti malah rewel ke suami"

Njleb

Tapi mau bagaimana lagi, kita kan enggak bisa mengendalikan mulut orang. Tapi kabar baiknya, kita bisa mengendalikan perasaan kita. Awalnya memang saya baper banget sama komentar-komentar begitu, tapi akhirnya saya memilih untuk enggak mempedulikan ucapan mereka. Akhirnya saya pun move on

Saya sebenarnya juga bukan orang yang anti dengan bekerja. Perempuan terkadang perlu menghasilkan uang juga untuk membuat dirinya merasa lebih berdaya. Perempuan berpenghasilan juga  lebih bisa menopang keluarga saat kondisi suami yang enggak memungkinkan untuk memberi nafkah. Tapi tetap harus diperhatikan, bahwa keluarga adalah yang utama. Bekerja di ranah publik itu secondary job, jangan dibalik, yang akibatnya malah kepentingan keluarga jadi terabaikan.

Lalu mengapa saya berhenti? Karena kapasitas setiap ibu berbeda. Saya ternyata enggak sanggup meninggalkan anak tanpa pengawasan saya, ditambah sebelum pindah saya tinggal di lingkungan yang cukup rawan. Karena saya merasa enggak bisa profesional baik sebagai ibu maupun pegawai bank, maka saya memutuskan untuk melepas pekerjaan saya. Tujuannya agar bisa lebih fokus mengasuh dan membesarkan Si Kakak. 

Saya tahu apa yang terbaik bagi keluarga saya. Meskipun ada yang menyayangkan, keputusan untuk berhenti dari pekerjaan juga sudah saya rembuki dengan suami. Bahkan kami sudah mengkalkulasi risiko yang mungkin kami hadapi nantinya. 

Yup! Memang sebelum berhenti dari pekerjaan banyak yang harus diperhitungkan. Beberapa teman saya yang sudah resign akhirnya kembali bekerja karena keuangan keluarga yang goyang. Lalu apa saja yang perlu Moms persiapkan sebelum resign:

Mental
Believe me... Seorang perempuan itu juga butuh keberanian untuk mengambil keputusan berhenti bekerja. Meskipun pada dasarnya tugas mencari nafkah keluarga ada pada suami, tapi mempertimbangkan banyak hal juga perlu dilakukan oleh istri saat ingin resign. Bukan hanya permasalahan uang, tapi bagaimana menjaga kepercayaan diri perempuan setelah berhenti bekerja. Apalagi ketika ia lulus perguruan tinggi ditambah nyinyiran keluarga atau ekspresi penyesalan dari orang tua yang merasa pernah menyekolahkan anak sampai tinggi. 

Zaman sekarang, menjadi ibu rumah tangga enggak selalu dipandang positif. Seringkali perempuan yang "hanya" tinggal di rumah dianggap enggak mandiri bahkan jadi beban suami. Untuk menghadapi ini semua, perempuan memang harus membulatkan tekad dan meluruskan niat. Mungkin suatu hari kita bakal dibenturkan dengan kenyataan yang enggak sesuai dengan harapan kita atau berpikir, "Oh... Ternyata betul juga dulu kata Si Anu". Saya pun mengalaminya dan hal terbaik yang bisa saya lakukan saat merasa demikian adalah kembali meluruskan niat awal saya.  

Bekerja di ranah publik atau pun domestik semua membanggakan, asal dilakoni dengan profesional dan sungguh-sungguh


Mengatur Kembali Keuangan Keluarga
Kebanyakan keluarga zaman sekarang memang mengandalkan penghasilan dari suami dan istri. Itu kenapa ketika Moms memutuskan untuk berhenti bekerja, Moms dan suami perlu menghitung ulang anggaran keluarga tiap bulan. Meskipun banyak yang bilang, "Tenang saja... Rezeki enggak akan berkurang". Yup... Betul sih, tapi sebagai manusia kita juga perlu berikhtiar kan. Salah satu ikhtiarnya mengatur kembali keuangan, mana yang harus ditekan dan mana yang harus direlakan. Pengeluaran enggak penting mungkin perlu dieliminisasi.

Di awal Moms resign, jangan kaget kalau keuangan keluarga mungkin sedikit terganggu. Itu wajar, karena masih dalam masa penyesuaian gaya hidup. Kalau buat saya, cara terbaik untuk melawati fase ini adalah dengan menutup mata dari gaya hidup orang lain🙈. Kalau melihat hidup orang, kita enggak akan pernah puas. Jadi fokus dan syukuri saja apa yang kita miliki. 
Tapi yakin deh... Kalau kita bisa melalui fase ini, tiba-tiba ada saja hal baik yang datang dalam kehidupan keluarga. Entah suami naik pangkat, toko online kita yang laris setelah berbulan-bulan mandeg atau hal baik lainnya. Intinya husnudzon sama Allah, Insya Allah semua akan baik-baik saja. 

Planning Kegiatan
Ketika saya resign, hal yang paling saya khawatirkan justru bagaimana mengisi waktu saya ketika di rumah nantinya. Jadi ibu rumah tangga itu tantangannya adalah bagaimana bisa mengelola waktu dengan baik. Kita mungkin sudah lelah dengan riweh-nya urusan domestik, tapi apa iya hidup kita hanya akan berkutat seputar itu saja.

Sekarang ini, ruang aktualisasi untuk ibu itu buaaaanyaaaak banget. Perempuan bisa tetap eksis di bidangnya masing-masing tanpa meninggalkan kewajibannya di rumah. Tapi syaratnya, kita harus punya kemampuan menejemen waktu yang baik. Dengan begitu, urusan rumah, anak dan keinginan untuk mengembangkan diri semuanya bisa terakomodir. 

Mengubah Gaya Hidup
Seperti yang sudah disinggung sedikit di poin sebelumnya,  berkurangnya pemasukan berarti harus menyesuaikan gaya hidup. Kalau menuruti gaya hidup, sampai kapan pun kita memang enggak akan pernah puas. Berapa banyak sih baju, tas dan sepatu yang kita butuhkan? Seberapa sering kita harus liburan? Kadang kita harus sedikit menahan ego untuk hidup sesuai keinginan dan mulai hidup sesuai kebutuhan. Beberapa pengeluaran yang bisa Moms tekan misalnya langganan TV kabel, biaya beli make up, baju, tas dan sebagainya, biaya makan di luar dan biaya kuota internet. 

Percaya atau enggak, pengaturan yang cermat itu bisa berdampak signifikan untuk keuangan keluarga. Contohnya ketika saya resign, keluarga kami masih memiliki beberapa kewajiban cicilan. Dengan mengatur sana sini, memangkas sana sini, akhirnya kewajiban itu bisa selesai. Memang perlu perjuangan awalnya, tapi setelah lepas, leganya luar biasa! 

Setiap ibu punya pilihan dan kondisinya masing-masing. Mengutip apa yang pernah disampaikan Bu Septi Peni Wulandani (Founder Ibu Profesional), 
Semua ibu itu bekerja, hanya beda ranah saja, yang satu memilih bekerja di ranah publik, yang satu lagi memilih bekerja di ranah domestik.
 Semua bermanfaat, semua berdaya. Peran ibu itu adalah peran yang istimewa, jadi tetaplah semangat para ibu untuk melakoni setiap peran dengan bahagia!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…