Langsung ke konten utama

MENGAJARKAN ANAK PROPER ATTITUDE SAMA DENGAN MEMBELENGGU KREATIFITAS ANAK?

Sumber: Pixabay
Saya teringat obrolan yang sudah cukup lama sebenarnya. Di sebuah grup whatsapp, ada yang men-share foto seorang ibu dan anak-anaknya yang sedang naik commuterline. Terlihat di foto, anak-anak tersebut naik ke atas kursi, bahkan ada yang berdiri di sandaran kursi penumpang. Padahal saat itu kereta sedang penuh.

Singkat cerita, teman saya di grup whatsapp tersebut cerita kalau di grup yang lain terjadi perdebatan tentang perilaku anak-anak di foto tersebut. Ada yang menganggap perilaku anak-anak tersebut wajar, tapi ada juga yang enggak setuju.

Sebagai ibu saya ngerti banget deh rasanya bepergian sama anak-anak tanpa ada orang dewasa yang menemani saya. Rempongnya luar biasa saudara-saudara! Itu kenapa saya jarang banget pergi bertigaan saja tanpa ditemani suami. Berhubung Si Adik juga masih kecil, rasanya kasihan juga kalau harus riweh keluar rumah.

Tantangan pergi bareng anak-anak selain bawaan yang segambreng, ya apalagi kalau bukan menjaga attitude anak-anak selama bepergian. Fitrah anak sebesar kakak dan adik kan belum bisa membedakan mana yang boleh dan enggak boleh. Meskipun anak-anak saya perempuan, tapi kadang mereka heboh juga kalau sedang keluar rumah. Entah berdiri di kursi, bercanda sampai teriak-teriak atau menyentuh dan mengambil barang tanpa izin karena penasaran. 

Bilang "Tidak" Hukumnya Haram 

Beberapa tahun belakangan, saya sering mendengar banyak orangtua yang melakukan pendekatan lebih positif dalam mengasuh anak. Sebenarnya pendekatan ini bagus banget menurut saya, tapi sayangnya ada multitafsir tentang bagaimana pendekatan ini dilakukan.

Beberapa orangtua menganggap mendidik anak dengan pendekatan positif berarti menafikan kata "tidak" a.k.a semua boleh. Saya kurang setuju sih sama pendapat ini. Dalam islam pun kata "tidak" sebenarnya disebutkan untuk larangan-larangan yang sifatnya fundamental. Rasul juga pernah melarang cucu beliau, Hasan, yang memakan buah kurma dari harta zakat. Rasul terang-terangan melarang dengan memberi isyarat pada Hasan untuk memuntahkan kurma tersebut, karena keluarga Rasul dilarang untuk memakan harta zakat. Artinya, melarang anak untuk melakukan sesuatu yang tidak dibolehkan itu enggak apa-apa.

Saya sendiri dalam mendidik anak-anak juga terkadang mengucapkan kata "tidak". Parameternya ada dua, jika anak saya merugikan dirinya dan jika ia merugikan orang lain, i definately say "no".

Anak memiliki fitrah pembelajar, maka jangan heran ketika anak sangat ingin tahu dengan lingkungannya (sumber:pixabay)

Kembali lagi ke kisah anak-anak di commuterline, saya pribadi sih merasa orang dewasa yang mengawasi mereka seharusnya dapat memberi arahan dan pengertian ke anak-anak tersebut. Sebenarnya ada beberapa cara yang biasa saya lakukan ke anak-anak saya sebelum bepergian agar mereka bisa lebih menjaga sikap:

Briefing

Sebelum mengajak anak-anak keluar rumah, ada baiknya orangtua memberi arahan pada anak-anak untuk lebih menjaga sikap mereka saat di luar nanti. Apalagi kalau sudah pernah terjadi anak kurang menjaga sikap saat di tempat umum. Jelaskan pada anak kalau ia enggak menjaga sikap, ia bisa saja merugikan dirinya dan orang lain.

Sediakan mainan atau buku yang bisa menyalurkan energi anak-anak.

Fitrah anak itu kan memang senang dan penasaran dengan hal-hal baru. Mereka juga punya energi berlebih yang harus disalurkan. Itu kenapa orangtua harus membuat persiapan saat keluar rumah. Bawakan anak buku atau mainan kesukaannya untuk hiburan ketika di jalan atau di acara. Dengan begitu, anak pun dapat lebih tenang karena perhatiannya teralihkan.

Jika sudah merugikan orang lain, tegur dengan halus dan ajak anak-anak untuk lebih tenang

Seperti cerita saya di awal, anak-anak di commuterliner tersebut kategorinya sudah merugikan orang lain. Apalagi kereta dalam kondisi penuh. Dalam situasi seperti itu, orang dewasa yang mendampinginya wajib untuk menegur dan membujuk anak-anak tersebut untuk lebih tenang. Meskipun bisa jadi anak enggak menurut, tapi at least ada upaya untuk menenangkan anak.

Dengan begitu, sebenarnya anak juga mendapat pelajaran kalau apa yang dilakukannya bukan hal yang diperbolehkan. Intinya jangan sampai orang dewasa tersebut cuek dengan alasan perilaku anak wajar karena masih kecil (ini alasan yang enggak banget sih menurut saya😅).

Sesuaikan venue

Sebagai orangtua, kita juga harus menilai kira-kira memungkinkan enggak untuk hadir di sebuah acara atau bepergian dengan membawa anak-anak. Jangan memaksakan untuk membawa anak-anak jika kondisinya enggak memungkinkan. Kalau memang benar-benar perlu untuk pergi, mungkin Moms perlu mencari orang yamg bisa dititipi anak. Karena kalau kita memaksakan untuk pergi,  selain mungkin bisa merugikan orang di acara tersebut, anak-anak juga bisa merasa kurang nyaman.

Sesekali beri apresiasi saat anak menjaga sikapnya

Jika anak menunjukan sikap yang baik selama di tempat umum, sesekali Moms boleh loh memberikan apreasi. Enggak harus dalam bentuk barang, Moms bisa memberikan pujian, misalnya "Ummi senang deh tadi kakak sopan dan bersikap baik waktu di rumah enin". Dengan begitu, anak pun akan merasa bahwa sikap yang ditunjukannya saat di tempat umum itu baik untuk dilakukan. Anak pun tentunya akan merasa senang ketika perilakunya diapresiasi.

Baca juga:Bijak Memuji Anak

Mengajarkan anak untuk bersikap baik ketika di tempat umum adalah hal yang boleh banget menurut saya. Tapi bukan sekadar untuk menunjukan bahwa sebagai orangtua kita sudah bisa mendidik anak dengan baik. Mengajarkan anak untuk bersikap sopan satun semata-mata untuk kebaikan anak itu sendiri dan agar anak enggak merugikan orang lain.

Menurut saya, mengajarkan anak bersikap secara proper, enggak ada hubungannya sama membelenggu kreativitas anak. Anak masih bisa kok berekspresi sesuai keinginannya tanpa merugikan orang lain. Jangan sampai anak ditegur oleh orang lain karena sikap buruknya, karena cara orang memberikan teguran itu kan beda-beda. Kalau tiba-tiba anak kita dimarahi orang, tentu kita juga yang akan sakit hatinya. 

Komentar

  1. setiap aku pergi ke luar bareng anak2 aku selalu bilang di rumah, kalau di mall, gak boleh pegang2 barang, hanay boleh beli baarng tertentu, pokoknya anak diberi pengertian dulu. dan alhamdulilah gak ada anakku kalau namu negrusak barang , atau bikin orang lain kesel atau minta sesuatu sampai nangis2. menurut aku ini bukan kekangan tp agar anak mengerti bahwa di luar sana mereka harus bersama orang lain dan mereka harus menghargai orang lain juga. Ada ortu yang suka bilang, wajarlah masih anak2, tapi kalau masih bisa dibilangin kenapa gak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Bun... Mereka tetap bebas kok berekspresi, tapi kebebasan berekspresi setiap orang kan dibatasi kepentingan orang lain. Mengajarkan anak untuk bersikap baik sekarang, akan membawa manfaat untuk kehidupan sosial mereka kelak

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?