Langsung ke konten utama

APAKAH BAIK MEMBIARKAN ANAK BERMAIN SENDIRI?

Sumber: Pixabay

Si Kakak sekarang usianya sudah tiga tahun lebih. Kemampuan bermainnya sudah semakin berkembang dibandingkan sebelumnya. Kalau dulu, kakak hanya berkutat dengan permainan yang itu-itu saja. Kalau sekarang variasi mainan kakak sudah mulai bertambah, main puzzle, bermain peran dengan boneka, main kuda-kudaan, dan sebagainya. 

Terus terang saya enggak selalu bisa menemani kakak bermain. Berhubung si adik masih demanding banget, mau enggak mau saya jadi lebih sering menemani adik dibanding kakak. Meskipun saya tetap berusaha untuk bisa menemani kakak bermain. 

BERMAIN MANDIRI MENUMBUHKAN KEMANDIRIAN DAN PERCAYA DIRI

Tapi ternyata belakangan, saya perhatikan kakak justru menunjukan banyak kemajuan diaspek tertentu, misalnya kemandirian dan imajinasi. Kakak juga kelihatan lebih percaya diri dalam melakukan sesuatu. 

Waktu selesai mandi contohnya, kakak dengan sigap langsung mengambil bajunya dan memakainya sendiri tanpa saya minta. Hal yang membuat saya semakin takjub, ternyata ia juga bisa mengancing bajunya sendiri! Padahal seingat saya, belum pernah saya mengajarkan kakak mengancing baju.


Setelah saya observasi, ternyata Si Kakak suka bermain peran sendiri. Dia membuat cerita akan berangkat ke sekolah. Nah...  Salah satu adegannya adalah ganti baju. Di situ rupanya kakak betulan mengambil baju (yang kebetulan berkancing)  di lemari. Dengan susah payah kakak memasang satu buah kancing baju dan setelah berhasil ia pun terlihat sangat puas. Ternyata dari aktivitas bermain mandiri tersebut, kakak mendapatkan insight dalam permainnya. 

MANFAAT BERMAIN MANDIRI

Ternyata bermain mandiri juga memberikan manfaat, seperti:
  1. Menumbuhkan kemandirian dan rasa percaya diri. Bermain mandiri dapat mengasah kemandirian anak, seperti cerita saya tentang kakak barusan. Dengan bermain mandiri, ternyata secara tak sadar ia membangun kemampuan memakai baju sendiri. Dengan bermain mandiri pun, rasa kepercayaan diri kakak pun tumbuh. Terkadang saat saya hendak menyuapi kakak, ia malah menolak dan ingin makan sendiri. Rasa percaya diri ini tumbuh karena ia merasa dapat melakukan aktivitasnya sendiri. 
  2. Membuka kesempatan bagi anak untuk lebih bebas mengeksplorasi mainannya. Bermain mandiri juga membantu anak untuk melatih kemampuan pemecahan masalah. Saat enggak ada orang yang membantunya ketika menghadapi kesulitan saat bermain, anak melatih diri untuk mencari pemecahan masalahnya sendiri. 
  3. Melatih daya imajinasi. Saat main bersama, seringkali tanpa sadar orangtua mengarahkan cara bermain anak. Hal ini sebenarnya kurang baik dalam membangun daya imajinasinya. Ketika bermain sendiri, anak lebih bebas dalam mengekspresikan imajinasinya. Si kakak misalnya, suatu hari ia pernah menunjukan lego susun buatannya, bentuknya besar dan seperti bersayap. Dengan PD saya bilang pada kakak kalau itu pesawat, ternyata saat itu kakak membuat kereta api yang bisa terbang. Memangnya ada kereta api yang bisa terbang? Ya... Who knows? Siapa tahu suatu hari kakak lah yang membuatnya, aamiiin....

BOLEH MAIN SENDIRI, TAPI.... 

Pastikan mainan yang digunakan anak aman, baik yang berdampak pada fisik maupun psikologis ya Moms. Saya enggak pernah mengizinkan kakak main gadget sendiri, karena membiarkan kakak bermain gadget sendiri bisa berpotensi merugikan. 

Meskipun bermain sendiri, kakak pun tetap masih dalam pengawasan pandangan saya. Karena di usianya yang baru tiga tahun, kakak belum memahami risiko dalam permainannya. Suatu hari kakak pernah hampir saja jatuh dari ketinggian hampir satu meter bersama kuda karet yang sengaja ia letakan ditumpukan kursi. Mungkin kakak sedang bermain akrobat seperti di sirkus kali ya... πŸ˜… Alhamdulillah kelihatan, kalau enggak, saya enggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi sesudahnya. 

Orantua sebagai teman bermain terbaik anak

Selain memastikan mainannya aman, saya tetap berusaha meluangkan waktu untuk bermain dengan kakak. Meskipun waktunya enggak banyak, tapi saat main saya berusaha untuk hadir secara penuh untuk kakak. Harapan saya, meskipun main bersamanya hanya sebentar, kelekatan kami tetap terbentuk dan kakak tetap mendapatkan pengalaman positif ketika bermain dengan saya. 

Walaupun bermain mandiri memiliki manfaat bagi anak, bermain bersama orangtuanya tetaplah kegiatan yang lebih baik. Kebersamaan dengan orangtua saat bermain akan membangun kelekatan antara orangtua dan anak. Sebuah studi yang dilakukan pada 132 anak usia lima tahun di Amerika juga menunjukan saat anak bermain secara kolaboratif, ia akan mengembangkan kemampuan menyusun strategi, berkomunikasi dalam diskusi serta kemampuan mengamati dan menirukan. 

Bermain bersama membentuk kemampuan komunikasi dan mengatur strategi (sumber:Pixabay)

Dengan demikian, bermain secara kolaboratif juga memiliki banyak manfaat. Menurut saya, terapkan saja secara berimbang. Karena toh keduanya memberikan manfaat bagi anak. Anak dengan usia lebih besar biasanya justru membutuhkan waktu mandiri lebih banyak, tapi jangan lupa untuk tetap mendampinginya di waktu-waktu tertentu. Dengan begitu anak akan mendapatkan kedua pengalaman baik saat bermain mandiri maupun bermain dengan orangtuanya. 

Komentar

  1. ada juga teman yang komen mb, bahwa ketika anak bermain sendiri, mereka juga sedang menghibur dirinya. πŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak... Anak sulung saya terkadang malah bilang begini, "Kakak mau main dulu ya, ummi jangan ganggu kakak"πŸ˜€

      Hapus
  2. Aku mulai mengajarkan anak main sendiri ketika dia bisa duduk sendiri, bisa untuk ditinggalkan dan nggak bikin kerusuhan misalnya kalau kepleset dia bisa nangis atau bisa tersedak mainannya, intinya bsa dikasih taulah ini bocah ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bun... Memang ada fasenya. Anak yang lebih kecil biasanya masih lekat banget sama ibunya. Ibunya ngilang sedikit saja pasti langsung kejer nangis😁

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…