Langsung ke konten utama

BERKACA PADA PAK SAWIRI

Menjadi orangtua adalah peran yang mulia, karena itulah ganjarannya surga

Kamis minggu lalu saya berkesempatan untuk hadir dalam acara Apresiasi Pendidikan Keluarga yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Acara tersebut cukup berkesan untuk saya, karena pada acara tersebut saya menyaksikan penyerahan apresiasi kepada sepuluh orangtua hebat. 

Pemberian apresiasi pada sepuluh orangtua hebat

Kesepuluh orangtua ini memiliki cerita pengasuhan yang berbeda-beda, ada yang hidup dalam keterbatasan ekonomi tapi dapat mengantarkan anaknya sekolah sampai jenjang master, ada yang memiliki dua orang anak berkebutuhan khusus yang berprestasi dan ada juga seorang single parent yang mampu membesarkan anak yang sukses. 

Sayangnya tidak semua orangtua hebat menceritakan kisahnya saat itu. Satu-satunya orangtua yang berbagi cerita adalah Pak Sawiri, seorang penarik becak berusia 66 tahun. Bersama istrinya, Pak Sawiri mampu mengantarkan anaknya bersekolah S1 dan S2 di Institut Teknologi Bandung. 

Dengan terbata-bata dan bahasa yang polos, Pak Sawiri bercerita bagaimana perasaannya ketika anaknya menyampaikan keinginan untuk sekolah di ITB. Sebagai orangtua, Pak Sawiri ingin anaknya sukses, tapi penghasilan sebagai penarik becak tidak bisa ia andalkan untuk membiayai pendidikan anaknya di perguruan tinggi. Singkat cerita dengan dukungan dan doa dari Pak Sawiri dan istri, akhirnya anak beliau berhasil menamatkan S1-nya di ITB, bahkan sekarang ini sedang melanjutkan studi S2.

Pak Sawiri dan istri

Melihat Pak Sawiri dan kesepuluh orangtua hebat lainnya saya merasa masalah yang saya hadapi sebagai orangtua sebetulnya sangat remeh, tapi saya tetap saja banyak mengeluh. Menjadi orangtua bukan tugas mudah, itu mengapa ketika berhasil, Allah janjikan ganjaran surga. Kadang saya lebih sering melihat hambatan pengasuhan sebagai beban bagi diri saya. Menghadapi anak susah makan, anak rewel atau membantah permintaan saya, sudah membuat pusing dan uring-uringan. 

Pernah enggak sih Moms, Anda berhenti sejenak untuk memikirkan makna keberadaan Anda sebagai ibu? Percaya atau enggak, sebelum saya menyaksikan Pak Sawiri, saya belum pernah melakukannya. Saya menjalankan peran saya sebagai ibu hanya sebagi tugas dan mengalir saja setiap hari, mempersiapkan kebutuhan mereka, mengajak mereka bermain dan mengisi hari-hari mereka tanpa memaknai peran saya. Setiap hari berjalan selintas lalu. Bagi saya, ketika anak-anak melalui hari itu dengan gembira, itu sudah cukup. 

Padahal kalau mau dipikir lebih lanjut lagi, kenapa sih mereka yang dipilih Allah menjadi anak saya? Dan sebaliknya kenapa saya yang menjadi orangtua mereka?  Setiap anak memiliki garis takdir yang berbeda dan kita lah sebagai ibu dan ayah mereka yang diberi tugas oleh Allah untuk mendampingi mereka melalui garis takdir mereka. Setiap pengalaman yang mereka lalui bersama kita, itu akan tertoreh dalam garis takdir mereka. 

Jika saya flashback kembali ke kejadian di masa kecil saya, kini saya menjadi paham alasan mengapa Allah menjadikan saya anak orangtua saya. Dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing, dengan segala kejadian baik yang manis maupun pahit. Secara tak sadar, saya terbentuk karena mereka. 

Kembali lagi ke kisah Pak Sawiri, bisa jadi ketika anak beliau bukanlah anak penarik becak, ia mungkin tidak akan sekolah sampai S2. Mungkin jika ia tidak lahir dari keluarga yang kurang ekonominya, belum tentu ia punya keinginan kuat untuk menjalani sekolah sampai tinggi. Seperti juga sembilan orangtua lainnya, mungkin kalau Allah bukan takdirkan mereka sebagai orangtua dan anak, kejadiannya akan sangat berbeda. 

Be present, itu yang benar-benar saya tanamkan pada diri saya sebagai ibu saat ini. Ada untuk anak-anak saya, bersama membersamai dalam takdir mereka. Berhenti khawatir dengan segala hambatan dalam pengasuhan, karena sejatinya Allah yang akan menjaga mereka. Lakukan saja yang terbaik dengan tulus dan sisanya serahkan pada Allah. Seperti yang dilakukan Pak Sawiri dan istrinya, mereka berusaha yang terbaik sesuai dengan kapasitasnya, mencari rezeki halal untuk keluarga dan menguatkan mimpinya dengan doa. 

Semoga Allah mudahkan kita semua untuk mendidik membesarkan anak-anak yang sukses di dunia dan di akhirat. Aamiin. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENGENAL CHILD'S COMFORTER

Moms, adakah yang anaknya susah tidur kalau tidak memeluk selimut kesayangannya? Benda-benda seperti boneka, guling atau bantal, yang meski sudah kumal dan kotor tetap merajai tempat tidur buah hati. Beberapa anak bahkan sulit tidur jika tidak memegang bagian tubuh tertentu, seperti obrolan saya dengan tetangga sore ini yang menceritakan kalau anaknya tidak bisa tidur tanpa memegang leher Sang Bunda. Salah satu adik saya pun ketika kecil punya guling kesayangan, guling dengan kepala berbentuk beruang yang setiap tidur harus digesekan hidungnya ke hidung adik saya. Aneh ya? Tapi itulah kenyataannya. 
Beberapa anak menggunakan mekanisme ekternal untuk memberikan kenyamanan pada dirinya. Biasanya dengan menghisap jempol, memegang bagian tubuh tertentu atau memiliki benda kesayangan. Bahkan ada yang membawa benda kesayangannya kemanapun dia pergi.
Kenapa anak memiliki kebiasaan atau benda kesayangan yang tidak bisa lepas dari dirinya? 
Menurut Dr. Olwen Wilson, psikolog anak dari Royal Su…