Langsung ke konten utama

INTERNET DAN IBU ERA DIGITAL

Sumber: Pixabay


Bukan lagi jadi rahasia, kalau internet sudah menjadi salah satu kebutuhan wajib untuk semua orang. Akrab dengan internet juga menjadi gaya hidup. Kini kapan pun dan di mana pun rasanya orang pasti berinternet. Dari yang sekedar hanya bersosial media, sampai yang menjadikan internet sebagai mata pencarian. 

Ibu rumah tangga pun tak mau ketinggalan. Kalau dulu ibu rumah tangga identik dengan gatek alias gagap teknologi, sekarang mayoritas ibu rumah tangga sangat lekat dengan benda yang satu ini. Memang... Internet itu ibarat pisau bermata dua, bisa jadi membawa manfaat besar bagi penggunanya, tapi juga bisa melakukan sebaliknya. 

Ditulisan sebelumnya saya pernah menuliskan tentang ironi ibu di era digital, ya... Walaupun enggak semua ibu demikian, tapi sedihnya sering saya menemui ada ibu yang demikian. Namun bukan juga berarti internet itu jelek, sebagai ibu rumah tangga, saya malah merasa internet membawa manfaat besar bagi kehidupan saya. 

Internet dan Sosialisasi di Dunia Maya

Siapa di sini yang sudah lama banget enggak kumpul bareng teman? Kesibukan sebagai ibu rumah tangga, sering kali menyita waktu kita untuk dapat bepergian, termasuk untuk kumpul dengan teman. Apalagi untuk ibu yang masih punya bayi dan balita seperti saya. Membayangkan bagaimana rempongnya ketika keluar rumah, mendingan enggak kemana-mana deh.... 

Sosial media jadi wadah para ibu untuk tetap keep in touch di dunia maya (sumber gambar: Pixabay) 

Tapi sebagai manusia, kita juga butuh untuk bersosialisasi. Paling enggak punya ruang untuk dapat mengobrol dengan orang dewasa lain. Di situlah saya menemukan manfaat internet. Internet seperti membuka batas ruang antara manusia. Saya bisa tetap mengobrol dengan teman meski jarak kami ribuan kilometer, bahkan saya memiliki teman yang saya kenal melalui internet. Yup! Tanpa bertatap muka, tapi bisa menjalin pertemanan. Kenapa enggak? Paling tidak, dengan interaksi melalui internet, saya dapat menjaga kewarasan karena enggak merasa hidup terkungkung di rumah.

Internet dan Peluang Menghasilkan

Dulu orang enggak ada yang menyangka kalau internet dapat membawa pengaruh pada dunia sebesar ini. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang, orang bahkan bisa mendulang uang dari internet. Saya mengenal pasangan suami istri yang hidup hanya dari ngeblog, bahkan seorang blogger bernama Mark Manson dibayar jutaan dollar untuk blognya! Internet ternyata bukan hanya bisa menghidupi orang tapi juga menjadikan orang kaya. 

Lalu bagaimana dengan ibu? 

Justru ibu rumah tangga memiliki peluang yang luas banget untuk menjadikan internet sebagai media mata pencariannya. Saya cukup kaget ketika ternyata internet membuka peluang bagi saya untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Lumayan lah... Untuk beli lipstik, hehe

Hal yang saya sukai dari internet adalah ia membantu saya untuk dapat menghasilkan tanpa membuat saya meninggalkan rumah. Kirim email kerjaan sambil menyusui Si Bungsu atau nulis artikel sambil ngelonin duo salihah ternyata bisa saya lakukan. Hanya bermodalkan smartphone dan kuota internet, saya pun memiliki ruang untuk berkarya di luar rumah, tanpa meninggalkan rumah. Asyik enggak tuh
Ruang berkarya dengan media internet itu juga banyak banget, ada yang menulis seperti saya, ada yang jualan online, ada yang membuat konten video, bebas... Selama enggak merugikan dan merusak orang lain, ya monggo saja... Silahkan berkarya sesuai bidangnya. 

Internet membuka peluang bagi ibu untuk tetap berkarya meski di rumah (sumber gambar:Pixabay)

Internet, Kemudahan Informasi dan Hoax yang Menjamur

Sebuah koran nasional beberapa waktu lalu memuat sebuah headline dengan tulisan segede-gede gaban "PENYEBAR HOAX MAYORITAS IBU-IBU". Terus terang, sebagai ibu saya merasa tersinggung, tapi di sisi lain juga sedih karena sepertinya headline berita tersebut ada benarnya. 
Enggak usah jauh-jauh, di grup whatsapp saja setiap hari saya pasti menemui ada saja ibu yang dengan entengnya menyebarkan berita tanpa tabayun atau menyebarkan pesan-pesan spaming macam "jangan sampai pesan ini berhenti pada anda!" atau "sebarkan pesan ini dan anda akan mendapatkan rezeki berlipat ganda". Ye kali... Menyebarkan pesan wa bisa dapat rezeki berlipat ganda, bakal banyak orang kaya lah di dunia ini. 

Lemahnya kemampuan literasi sebagian ibu dimanfaat beberapa pihak sebagai sarana untuk menyebarkan hoax (sumber gambar: Pixabay) 

Sayangnya kemajuan informasi yang secepat peluru ini enggak dibarengi dengan kemampuan literasi ibu-ibu yang mumpuni. Maka jangan heran ketika hoax cepat sekali menyebar. Menurut saya, oknum-oknum ini sengaja memanfaat kelemahan para ibu ini untuk meraup keuntungan pribadi. Kita sering kali membaca pesan secara enggak utuh, ditambah enggak mengecek ulang kebenaran. Baca sepintas, share... And i'm done! Tanpa berpikir bahwa kita sudah berkontribusi menyebarkan kebohongan. 
Kalau membahas tentang ini sebenarnya bisa jadi satu tulisan sendiri nih. Lain kali bikin tulisan tentang ini deh, hehe

Kembali lagi ke topik internet, benda yang satu ini memang semacam dua sisi mata uang. Ada faedah tapi ada juga efek negatifnya. Sebagai ibu-ibu, kita enggak bisa menutup mata dan menampik keberadaannya, tapi kita juga perlu cerdas menggunakannya. Moms bisa menghabiskan waktu berjam-jam melakukan unfaedah things dengan internet, tapi Moms juga bisa menggunakan internet sebagai media belajar bahkan menghasilkan rupiah. Pilihan ada di tangan masing-masing, ingin menggunakan internet untuk apa. Kalau buat saya, menjadi ibu di era digital itu anugerah. Bukan hanya karena kemudahan yang diberikan tapi juga karena internet telah membuka banyak peluang bagi ibu rumah tangga seperti saya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…