Langsung ke konten utama

KOMPAK MENGASUH ANAK

Kompak Mengasuh Anak (sumber gambar:Pixabay)
Waktu menunjukkan pukul 07.30 Ini sudah waktunya Dira (5 tahun) untuk berangkat sekolah. Tapi Alya bangun kesiangan, Dira bahkan belum mandi. Alya pun masih harus menyiapkan sarapan dan bekal untuk Dira. Bima tampak duduk di kursi meja makan, menunggu tanpa keinginan untuk membantu istrinya. Wajahnya kelihatan tak sabar. “Ma, udah siang nih!”, ucapnya. Alya kelimpungan sendiri hingga tiba-tiba bayinya, Gita, terbangun dan menangis.

Lain Alya, lain juga Sarah. Siang ini Ia dipanggil oleh wali kelas Bagas (11 tahun) . Sudah 3 hari ini Bagas tidak masuk sekolah. Sarah bingung, karena setahunya Bagas selalu berangkat ke sekolah seperti biasa. Sarah menelepon Anto suaminya, tapi ia bilang hari ini ada meeting penting. Anto tidak bisa menemani Sarah ke sekolah Bagas. 

Mungkin ada beberapa Moms di sini yang juga merasa sebagai single fighter dalam mengurus dan mendidik anak. Seperti dua ilustrasi di atas, dimana terlihat Alya dan Sarah yang menjadi single fighter, meskipun memiliki suami. 

Tugas utama ibu memang identik dengan mendidik anak dan mengurus kebutuhan keluarga, sedangkan suami mencari nafkah di luar rumah. Tapi ternyata, banyak juga yang menggunakan alasan pembagian peran tersebut untuk menghindari tugas mendidik dan membesarkan anak. Enggak semua suami seperti ini sih... Tapi belive it or not, suami seperti ini ternyata masih cukup eksis di dunia ini, hehe. 

Suami yang enggak mau terlibat dalam urusan mendidik dan mengurus anak itu sudah ketinggalan zaman menurut saya. Sekarang ini eranya mendidik anak secara kolaboratif. Ayah tidak hanya seperti mesin ATM tempat anak meminta uang. Ayah zaman now itu adalah ayah yang mengisi kehidupan anak-anaknya dengan pengalaman positif, sesibuk apapun urusan kantornya. Tentu saja waktu ayah sangat terbatas. Dengan kesibukannya mencari nafkah, ayah biasanya punya waktu yang lebih sedikit bersama anak. Dengan demikian, kualitas kebersamaan itu menjadi penting banget!

Suami saya termasuk ayah yang punya waktu yang terbatas bersama anak. Jam kerja yang panjang, ditambah kemacetan ibukota menyebabkan Paksu hanya punya waktu selepas Isya untuk main dengan anak-anak atau saat weekend. Itu pun tak jarang harus direlakan karena Paksu harus lembur atau dinas ke luar kota. Tapi tak lantas Paksu jadi cuek terhadap tugasnya mendidik dan mengasuh anak-anak. Saya yakin Paksu paham betul dengan tugasnya sebagai ayah, that's why ia mau terlibat dengan baik dalam mengasuh dua buah hati kami di tengah kesibukannya. Sesibuk apapun Paksu, ketika sedang di rumah, ia akan fokus bermain bersama anak-anak. Dampaknya, anak-anak jadi sangat dekat baik dengan saya maupun Paksu. Karena kami berdua senantiasa berusaha untuk memberikan pengalaman positif dalam kebersamaan kami dengan anak-anak. 

Eits... Tapi jangan salah loh... Ini semua enggak terjadi secara instan, semua ada prosesnya. Paksu bahkan sempat enggak mau menggendong anak sendiri karena merasa enggak PD mengangkat bayi yang masih lemah otot lehernya (takut jatuh katanya). Sekarang semua sudah sangat berbeda, Paksu sudah terampil memandikan anak kedua kami bahkan sejak masih bayi banget, menggantikan popok sampai main jadi kuda-kuda. Apa Paksu malu melakukan semua itu? Katanya enggak tuh! Ia malah senang dan bangga karena tahu benar perkembangan kedua anaknya. 

Lalu bagaimana ketika suami enggan untuk banyak terlibat dalam pengasuhan? 

Komunikasi
Menurut saya bagian terpenting dalam keberhasilan pengasuhan adalah komunikasi antar ibu dan ayah. Percuma saja ibu menerapkan teori parenting secanggih apapun kalau ayah tidak melakukan hal yang sama. Cobalah untuk membuka komunikasi dengan suami perihal konsep pengasuhan buah hati. Caranya tentu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan. 

Kalau saya pribadi merasa komunikasi saya dan suami terkait pengasuhan lebih lancar ketika saya punya data. Misalnya saya baru membaca buku parenting tentang penanggulangan tantrum pada anak. Lalu saya ceritakan apa yang saya baca pada suami dan diakhiri dengan ajakan untuk menerapkan apa yang sudah dijelaskan di buku yang saya baca. Cara ini jauh lebih jitu dibanding jika saya bicara tanpa teori. Kalau Moms, silahkan disesuaikan cara dan waktu komunikasi yang paling efektif dengan suami, yang penting tujuan membangun komunikasi untuk mendesain pendidikan dan pengasuhan anak dapat dilakukan.


Beri Ruang "Me Time" yang Proporsional
Sebagai ayah yang sudah berjibaku mencari nafkah, tentu sangat wajar ketika suami merasa lelah. Itu mengapa saya terkadang memberikan ruang untuk suami melakukan "me time". Kalau suami saya senang sekali main Playstasion. Jadi biasanya saat suami main PS, saya biarkan suami tanpa mengganggunya. Setelah suami puas "me time", baru deh ditodong main bareng anak-anak, hehe. Karena kondisi fisik dan pikiran sudah lebih fresh, biasanya suami enggak akan menolak. 

Ingatkan Tentang Komitmen
Sering kali terjadi, ayah merasa tugasnya sebagai orangtua sudah selesai setelah memberi nafkah. Padahal ayah pun punya tanggung jawab untuk mendidik dan membesarkan anak. Itu kenapa terkadang suami perlu diingatkan kembali komitmennya sebagai orangtua. Ajak suami untuk berandai kelak ingin buah hati tumbuh menjadi individu seperti apa, lalu jelaskan pula bahwa tujuan-tujuan tersebut baru bisa dicapai ketika orangtua bekerjasama untuk menjadikan buah hati menjadi pribadi seperti yang Anda berdua harapkan. 

It takes two to tango, begitu pula dalam mengasuh buah hati

Hargai Bantuan Suami Sekecil Apapun
Sebuah survey pernah dilakukan pada sekelompok laki-laki. Mereka ditanya siapa orang yang paling membuat mereka merasa kurang berdaya sebagai seorang ayah, dan jawabannya adalah istri! Sadar atau enggak, sengaja atau enggak, kita mungkin sering kurang menghargai bantuan suami. Ketika suami berinisiatif mengganti baju anak yang basah, kita malah ngomel karena baju pilihan suami sudah kumal atau waktu anak jatuh ketika sedang main dengan suami, reaksi kita berlebihan dan menyalahkan suami atas kelalaiannya. 

Hargai bantuan suami sekecil apapun agar suami semakin semangat mendukung dan membantu dalam pengasuhan

Kadang suami kita mungkin bukan enggak mau terlibat, tapi enggan terlibat karena takut salah. Jadi cobalah untuk menghargai bantuan suami. Kalau saya biasanya menurunkan sedikit standar saya ketika menerima bantuan suami dalam mengurus anak. Enggak apa-apalah anak pakai baju kurang matching, yang penting ada moment ketika ayah dan anak bisa menghabiskan waktu bersama meskipun hanya sekedar memakaikan baju sehabis mandi. 

Selalu Update Perkembangan Anak
Hal pertama yang saya obrolkan dengan suami ketika ia pulang adalah kegiatan anak-anak. Tentunya hal-hal yang positif tentang mereka. Sekarang si adik sudah bisa apa atau kelakuan lucu kakak hari itu biasanya jadi topik yang menarik. Menurut saya ini salah satu hal minimal yang dapat dilakukan suami untuk terlibat dalam pengasuhan anak, yaitu dengan senantiasa update perkembangan buah hatinya. 

Buat saya menceritakan kebaikan anak itu lebih prioritas dibandingkan keburukannya. Logikanya,  Paksu yang lagi lemes gara-gara habis menantang badai kemacetan setelah dimarahi bos di kantor pasti bakal sangat sensitif dengan berita negatif. Jadi... Tahan dulu keinginan Moms untuk segera menyebur cerita Si Kakak yang habis disetrap guru atau Si Bungsu yang nangis meraung-raung karena enggak mau mandi. 

Terkadang keinginan dan kesadaran itu tidak selalu tumbuh dengan sendirinya. Well... Memang tidak semua suami tipe yang memiliki inisiatif kan. Tapi bukan berarti kita boleh berprasangka buruk dan menganggap suami acuh dengan urusan anak. Coba deh pelan-pelan lakukan pendekatan. Setiap suami mau terlibat dalam pengasuhan atau berhasil membantu mengurus anak-anak, berikan pujian. Dengan begitu, Insya Allah suami pun akan semakin semangat untuk mendukung dan membantu Moms dalah mengasuh anak. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada? 

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…