Langsung ke konten utama

MAKAN SEHAT DAN HEMAT, CEGAH STUNTING DENGAN BAHAN PANGAN LOKAL

Sumber foto:Pixabay

Saya ingat ketika saya masih tinggal bersama mertua saya di Jakarta Utara. Saat itu saya masih ngantor. Biasanya saat berangkat kerja saya melewati sebuah gang kecil di dekat rumah mertua saya. Setiap pagi saya pasti melihat seorang ibu yang sedang menjemur bayinya di bawah matahari pagi. Kegiatan ibu tersebut mungkin tampak wajar saja, tapi yang menarik perhatian saya saat itu adalah kondisi bayi ibu tersebut.

Waktu itu anak saya a.k.a Si Kakak juga kira-kira seumur dengan bayi tersebut, tapi kondisi mereka jauh berbeda. Anak tersebut kelihatan kurus sekali, dengan rambut   kemerahan dan kulit tampak kering, mirip dengan ciri anak yang kekurangan gizi. Di daerah rumah kami saat itu kondisinya memang sedikit memprihatinkan. Kondisi ekonomi yang kurang dengan tingkat pendidikan yang terbatas, ditambah lagi dengan kesadaran warga untuk menjaga kebersihan lingkungan yang minim menjadikan lingkungan kami saat itu terkesan sedikit kumuh dan kurang sehat. Pengetahuan yang terbatas pun menyebabkan para ibu, khususnya, jarang memperhatikan asupan gizi anak-anak mereka. Anak dibiarkan jajan sembarangan dan kurang asupan bergizi. 

Padahal kekurangan asupan gizi seimbang pada anak akan meningkatkan risiko stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh pada anak karena kurangnya asupan gizi pada 1000 hari pertama. 1000 hari ini dihitung sejak bayi masih di dalam kandungan hingga ia berusia dua tahun. Stunting dapat memunculkan hambatan pertumbuhan baik dari segi fisik maupun kognisi. Di Kupang dan Sumba Timur misalnya, ditemukan bahwa anak yang stunting memiliki prestasi belajar yang lebih buruk dibanding yang tidak stunting (Picauly dan Toy, 2013). Penelitian serupa yang dilakukan di SDN 01 Guguk Malintang Kota Padang Panjang pun memperoleh hasil yang sama, siswa SD tersebut yang mengalami stunting memiliki prestasi belajar di bawah rata-rata sebesar 30.8% (Sa'adah, dkk, 2014).

Kejadian yang saya ceritakan di lingkungan rumah kami tersebut sudah terjadi tiga tahun yang lalu, tapi pada kenyataannya, bahaya stunting masih mengintai di Indonesia. Berdasarkan berita yang dirilis oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, prevalensi balita mengalami stunting sebesar 29.6 %. Angka ini masih tergolong tinggi, mengingat batas bawah yang ditetapkan oleh WHO adalah sebesar 20%. 

Kejadian kekurangan gizi seimbang di Indonesia memang mayoritas dialami oleh masyarakat yang memiliki ekonomi terbatas. Bukan hanya karena keterbatasan dana untuk membeli bahan makanan bergizi, tetapi juga karena kurangnya pengetahuan orangtua terhadap pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi buah hatinya.

Pemenuhan gizi seimbang hukumnya wajib, bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Dulu waktu saya hamil Si Kakak, saya sempat kekurangan zat besi. Ternyata kekurangan zat besi pada saat ibu mengandung itu berbahaya baik bagi ibu maupun bayi yang dikandungnya. Akhirnya saya pun diberi asupan zat besi tambahan oleh dokter. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana dengan ibu yang kekurangan akses kesehatan dan pengetahuan tentang pentingnya menjaga asupan gizi bagi ibu saat hamil. Padahal kekurangan zat besi bisa berakibat terhambatnya perkembangan janin sampai dapat meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi! 

Ketika anak dilahirkan sampai berusia dua tahun, menjaga asupan gizi juga sangat penting. Enam bulan pertama, bayi diberikan ASI eksklusif, tapi setelah itu ASI tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi bayi. Itu kenapa selepas enam bulan,  anak diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Ketika anak mulai mengonsumsi MPASI,  harus dipastikan bahwa asupannya memenuhi kriteria empat bintang,  yaitu memenuhi asupan karbohidrat, protein hewani, protein nabati (kacang-kacangan) serta sayur dan buah.

Sayangnya masih banyak orangtua yang abai dalam memberikan asupan gizi yang lengkap pada anaknya. Ada yang beralasan karena keterbatasan dana jadi tidak bisa memberikan asupan bergizi pada anak. Padahal memenuhi asupan gizi seimbang untuk anak tidak harus mahal. Banyak sekali bahan pangan alternatif yang kaya gizi yang bisa diberikan orangtua kepada anak.

Saya sendiri tidak pernah mengada-adakan bahan khusus ketika menyiapkan MPASI untuk anak-anak saya. Misalnya untuk salah satu asupan yang penting bagi perkembangan anak yaitu omega-3 dan zat besi. Berhubung ikan salmon dan daging itu mahal, saya tidak melulu memberikan anak saya bahan makanan tersebut. Saya ganti dengan ikan kembung, teri basah atau belut yang memiliki kandungan gizi yang tak jauh berbeda dengan ikan salmon, sedangkan hati ayam, kacang-kacangan dan sayuran hijau saya berikan untuk memenuhi asupan zat besi bagi anak saya. Bahan-bahan makanan tersebut sangat mudah ditemukan dan yang paling penting lagi, murah! Indonesia itu kan kaya sekali akan sumber bahan makanan. Tak perlu susah menyiapkan makan ananda, cukup berikan makanan yang bersih dan bergizi hasil kekayaan kita sendiri.

Keterbatasan ekonomi sering menjadi alasan untuk tidak memberikan asupan gizi yang cukup pada anak (sumber foto: Canva) 

Namun ada kalanya anak mungkin mengalami susah makan. Ibu sudah menyiapkan makanan kaya gizi, tapi ananda malah GTM alias Gerakan Tutup Mulut. Jangan menyerah ya Bu! Saya pun mengalaminya dengan anak-anak saya. Ketika anak-anak saya GTM biasanya saya siasati dengan memberikan variasi makanan biar tidak bosan, seperti beberapa resep berikut ini yang mungkin bisa diikuti:


Untuk anak dengan usia yang lebih besar, pengolahan makanannya pun bisa lebih divariasikan, misalnya dengan dibuat pepes atau dimasak santan, tergantung selera makan ananda.

Ketika Si Kakak sudah mulai besar, saya pun memberi ruang untuk Kakak mengeksplorasi makanannya. Ini bisa jadi sarana agar kakak menyenangi kegiatannya saat makan, misalnya dengan membiarkan anak makan sendiri. Saya bahkan pernah meletakan kakak di bak mandi bayinya ketika makan, karena ia merasa senang makan di dalam situ, seperti naik kapal katanya. Dengan makan di dalam bak mandi, Kakak ternyata jadi lebih semangat makan. Namun pastikan lingkungan dan alat makan anak bersih dan bebas kuman ya... Agar anak terhindar dari penyakit. 
Si Kakak yang dulu senang makan di dalam bak mandi

Memberikan makan bergizi pada anak itu memang susah-susah gampang, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Anak tetap harus mendapat asupan gizi yang lengkap dan seimbang agar tidak mengalami stunting. 1000 hari pertama adalah masa emas bagi perkembangan ananda, maka masa tersebut tak boleh dilewatkan. Tak perlu repot dan mahal, sesuaikan saja dengan anggaran dan menu keluarga. Manfaatkan kekayaan lokal bahan pangan Indonesia untuk memenuhi gizi ananda. Ayo cegah stunting! Dengan memberikan asupan terbaik pada #1000haripertamaananda melalui pemberian makanan kaya gizi hasil dari bumi sendiri.

Bahan bacaan:

Picauly, Intje & Toy, Sarci Magdalena. 2013.’Analisis Determinan dan Pengaruh Stunting Terhadap Prestasi Belajar Anak Sekolah di Kupang dan Sumba Timur, NTT'. Jurnal Gizi dan Pangan, Vol 8, Hal 55-62

Sa'adan, Rosita Hayatus, Herman,Rahmatina B & Sastri. Susila. 2014.’Hubungan Status Gizi dengan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang Kota Padang Panjang'. Jurnal Kesehatan Andalas, Vol 3, Hal 3

http://www.depkes.go.id/article/view/18052800006/ini-penyebab-stunting-pada-anak.html

Infant and Young Children Feeding. WHO. 2009

Komentar

  1. super lengkap. puas bacanya mba... btw, kayak apa ya rasanya bubur teri basah... belum pernah nyoba...hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang jelas belum ada rasanya, hehe. Soalnya kan enggak pakai gula garam

      Hapus
  2. Bagus deh tulisan nya, soalnya ngalamin banget sih pusing nya hadapi anak yang GTM. Terutama si adik yg super picky Eater..

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada? 

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…