Langsung ke konten utama

MENANAMKAN PENDIDIKAN SEX PADA ANAK

Sumber: Pixabay

Kalau mendengar kata "sex", dahi kita mungkin langsung mengerut. Tabu, bisa jadi itu yang ada dipikiran kita. Padahal sex tidak melulu berhubungan dengan hal yang mungkin sedang Moms pikirkan saat ini. Sex mengandung cakupan yang cukup luas, meskipun memang masih berhubungan dengan jenis kelamin. 


Tahukah Moms kalau pendidikan sex saat ini cukup penting? Mengingat maraknya kejadian sex pra nikah dan pelecehan seksual. Bagi saya, membekali anak-anak saya sedini mungkin sangat penting. Paling enggak mereka tahu bagaimana cara menjaga diri dengan menghindarinya. Membekali anak dengan pendidikan sex pada usia dini tentu bukan perkara yang mudah. Kita sebagai orang tua harus dapat mengkomunikasikan sesuai dengan tahapan usia anak. Konten pengetahuan yang diberikan juga harus disesuaikan dengan usia anak. Intinya sebagai orang tua, membekali anak dengan pendidikan sex harus sangat hati-hati. Ditambah lagi, rasa ingin tahu anak sangat besar, itu kenapa kita perlu memilih diksi yang tepat saat menyampaikan perihal ini kepada anak-anak kita. 

Lalu, kapan orang tua bisa memberikan pendidikan sex pada anaknya? 

Menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, idealnya, anak-anak sudah dapat menerima pendidikan sex sejak usia dua tahun (kompas.com). Hal ini karena pada usia tersebut, anak sudah mampu berkomunikasi dengan baik dan keingintahuannya terhadap organ vital juga sudah muncul. Dengan begitu, Moms sudah mulai bisa membahas terkait pendidikan sex pada anak. 

Nah... Apa saja sih hal yang bisa disampaikan pada anak usia tersebut?

Tanamkan rasa malu

Ajarkan anak rasa malu yaitu dengan menutup auratnya dan menjaga pandangannya

Pada usia balita, penting bagi anak untuk ditanamkan rasa malu. Meskipun masih kecil, jangan biasakan anak keluar rumah tanpa menggunakan busana yang pantas. Kalau saya cukup disiplin terhadap anak-anak saya tentang hal ini. Bahkan di depan saudara, saya melarang anak saya untuk memakai kaus dalam dan pakaian dalam saja di depan mereka. Saya juga menanamkan pada anak-anak untuk menutup pintu (walaupun tidak rapat karena masih harus diawasi) saat menggunakan kamar mandi. Menurut saya ini penting, untuk mengajarkan anak bahwa aktivitas di kamar mandi adalaha aktivitas yang sangat pribadi dan enggak boleh dilihat orang lain. 

‎Jelaskan tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan 

Ajarkan pada anak bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda

Dulu ketika usia kakak lebih kecil, saya biasanya minta tolong abinya untuk mengantarkan kakak ke kamar mandi ketika ia ingin buang air. Sekarang, setelah usia kakak lebih besar, saya lah yang lebih sering mengantar kakak ke kamar mandi. Kenapa? Karena saat di tempat umum, abinya pasti membawa kakak ke toilet laki-laki dong (enggak mungkin abinya yang masuk toilet perempuan😅), sedangkan di toilet tersebut biasanya ada orang lain yang buang air. Anak usia 3 tahun seperti kakak sudah mulai aware dengan hal-hal semacam itu. Misalnya saat saya sedang menyusui adiknya, si kakak pernah bertanya, "nenen ummi kok besar?". Menurut saya, ini bukan pertanyaan tabu untuk diajukan anak seusia kakak. Justru ini menunjukan bahwa kakak sudah mulai bisa diberikan pemahaman tentang sex. 

Saya biasanya menjelaskan melalui cerita, bahwa Allah menciptakan manusia ada dua jenis, laki-laki dan perempuan. Abi adalah laki-laki, makanya abi punya kumis dan jenggot. Sedangkan ummi adalah perempuan, itu kenapa ummi bisa nenenin adik. Penjelasannya diberikan dengan bahasa yang sederhana, yang mudah dipahami oleh anak seusia kakak. Saya kemudian akan bertanya, kakak itu laki-laki atau perempuan? Di awal, ia masih suka tertukar, tapi belakangan kakak sudah memahami kalau dirinya perempuan. 

Memberikan pemahaman tentang gender anak itu penting, karena kelak anak akan memiliki tugas gendernya masing-masing. Anak laki-laki memiliki tugas maskulin, sedang anak perempuan memiliki tugas feminim. Meskipun ada perempuan yang menjalani peran maskulin dan begitu pula sebaliknya, tapi secara normatif laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang berbeda.

Jelaskan bagian tubuh terlarang 

Anak perlu tahu bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh dilihat dan dipegang orang lain

Anak juga perlu dibekali pengetahuan tentang bagian tubuh mana yang boleh dilihat dan mana yang tidak, bagian tubuh mana yang boleh dipegang dan mana yang tidak serta siapa yang boleh memegangnya. Ajarkan juga pada anak bahwa orang lain pun harus meminta izin dulu sebelum menyentuhnya.

‎Jadikan orang tua sebagai tempat kepercayaan anak 

Jadilah orang tua yang dipercaya oleh anak, agar anak mau terbuka menceritakan apa yang dialaminya

Dengan maraknya kasus pelecehan, orang tua tentu menjadi sedikit was-was dengan kondisi anak-anaknya. Sebagai orang tua, kita pun enggak mungkin mengungkung anak di rumah dan melarangnya untuk pergi keluar rumah. Saat anak enggak lagi dalam jarak pandang kita, tentu akan banyak kemungkinan yang terjadi pada mereka, termasuk mengalami hal-hal yang bisa saja negatif (semoga semua anak kita selalu dalam lindungan Allah ya Moms... aamiin). Itulah mengapa, menjadi orang tua yang dipercaya oleh anak menjadi sangat penting. Paling enggak, anak akan terbuka dengan orang tuanya. Memupuk kepercayaan anak harus dimulai sejak dini. Jadilah orang tua yang terbuka pula dan enggak mudah mengkritik kesalahan anak. Anak yang senantiasa dikritik akan merasa takut salah, akibatnya ia enggan untuk membicarakan perasaannya pada orang tua.

‎Senantiasa monitor aktivitas anak

Memonitor aktivitas anak merupakan tindakan preventif terhadap bahaya kejahatan seksual

Zaman sekarang, arus informasi sangat deras. Hampir enggak ada filter di dunia maya. Saya pribadi selalu memilihkan apa yang anak-anak saya tonton baik di TV maupun gadget. Hal ini tentunya untuk mencegah anak-anak saya mendapatkan pengaruh negatif dari apa yang ia tonton. Selain memonitor tontonan, memonitor aktivitas anak juga sangat penting. Misalnya ketika anak bermain dengan teman-temannya. Sebagai orang tua, kita boleh loh memilihkan teman untuknya. Carikan anak lingkungan yang baik, Insya Allah anak pun akan terbawa baik.

Memberikan pendidikan sex sejak dini bukanlah hal yang tabu. Meskipun kita tetap harus sangat hati-hati dalam menyampaikannya, pendidikan sex tetap harus disampaikan karena urgensinya. Mulailah dengan menumbuhkan rasa malu pada diri anak. Rasa malu di sini maksudnya adalah bagaimana ia senantiasa menjaga aurat dan pandangannya. Semoga dengan upaya orang tua untuk memberikan pemahaman tentang sex pada anak, akan membuat anak mampu menjaga dirinya kelak saat dewasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?