Langsung ke konten utama

PEMULA KOK NEKAT IKUT LOMBA?

Sumber: Pixabay

Saya baru mulai ngeblog pada Bulan Januari tahun ini. Waktu itu buat blog untuk sarana curhat, hehe. Entah kenapa pas hamil Si Adik, saya merasa emosi saya kurang stabil. Akhirnya saya pun mulai nulis di blog untuk sekedar memuntahkan apa yang saya pikirkan. 

Menulis ternyata membangkitkan gairah hidup saya. Ditambah lagi, ngeblog membuka jalan saya untuk masuk ke dalam lingkaran pertemanan baru dan juga kesempatan belajar yang luar biasa. Akhirnya, tujuan ngeblog saya pun mulai bergeser, dari yang sekedar sebagai tempat curhat jadi muncul keinginan untuk serius menekuni dunia menulis dan blogging. Ternyata benar kata senior-senior saya, ngeblog itu memang mengasyikan dan bikin nagih

Sampai sekarang saya belum memonetisasi blog saya juga sih, lah wong page view juga masih segitu-gitu saja πŸ™ˆ. Saat ini saya memang lebih fokus untuk memperbaiki konten dan tampilan serta ikut lomba-lomba. Weleh!  Masih anak pitik kok nekat ikutan lomba. Sabar buibu semua... Buat saya, lomba itu bukan perkara menang, tapi saya yakin bahwa di setiap event lomba yang saya ikuti pasti ada pembelajaran yang bisa saya ambil. 

Sejak awal ngeblog, saya sudah beberapa kali mengikuti event lomba yang sampai sekarang belum ada yang saya menangkan, buahahaha! πŸ˜†πŸ˜‚.Pencapaian terbaik saya saat ini adalah menjadi salah satu nominee di lomba blog apresiasi pendidikan keluarga yang diselenggarakan Kemendikbud. Meskipun belum membawa pulang piala, tapi itu pencapaian yang lumayan banget bagi saya. Kapan lagi kan ya... Emak-emak kayak saya bisa ketemu Pak MentriπŸ˜†.

Ada beberapa alasan kenapa sebagai pemula, saya hobi ikut lomba.

Jadi ajang belajar (gratis!)

Menurut saya, asyiknya ikut lomba itu, menang enggak menang kita tetap dapat sesuatu. Misalnya nih, waktu saya ikut lomba salah satu brand makanan olahan. Seumur-umur saya belum pernah bikin video, tapi karena waktu itu ada persyaratan kalau pakai video akan lebih baik, saya pun akhirnya belajar bikin video. Walaupun baru sekadar pakai aplikasi smartphone, tapi saya jadi belajar hal baru kan. Coba dulu saya enggak ikutan, sampai sekarang saya tentu belum bisa bikin video via smartphone

Ditambah lagi, biasanya pemenang lomba dengan sukarela men-share tulisannya yang menang. Tinggal diintip-intip deh gaya penulisannya, meskipun tiap orang pasti punya gaya yang beda. Tapi seenggaknya kita punya gambaran tulisan seperti apa yang biasanya disukai juri. Pemenang pun biasanya juga enggak ragu untuk berbagi ilmu kok. Colek-colek saja di komen, biasanya sih dijawab. 😁

Menjadi penyemangat untuk konsisten menulis. 

Nulis kalau ada tujuannya pasti lebih semangat, ya kan? Saya pun begitu, meskipun saya tahu harapan menang itu mungkin kecil, tapi kan masih ada harapan (wkwkwk... Maksa banget ini!). Maksudnya ikut lomba itu seperti kita punya tujuan yang lebih terukur saja sih. Meskipun tujuan itu enggak melulu menang lomba. 

Saya tuh ngefans dengan beberapa senior saya yang sudah jadi langganan menang lomba (Duh! Sebut nama enggak yaa... Gatel pingin bilang "i adore you"😍😍). Rata-rata dari mereka sudah lama banget ngeblog, bahkan sampai sudah ada yang belasan tahun. Dari mastah-mastah itu, saya menemui satu kesamaan yaitu "they never stop". Konsistensi mereka di dunia blogging mah jangan dipertanyakan lagi. 

Nulis... Nulis dan nulis... Enggak pernah ada kata jenuh dan capai.

Semakin banyak berlatih, kita pun semakin luwes menulis (sumber gambar:Pixabay)

Saya yakin sih, kalau mau hasil yang sustainable (tsah...),  ya usahanya juga harus terus menerus. Di dunia ini, enggak ada hasil instan tanpa usaha dan doa yang keras, termasuk kalau mau menang lomba.

Menambah networking

Ini juga salah satu hal yang saya sukai dari ikut lomba, menambah teman. Seperti saat saya ikut lomba sahabat keluarga, panitia membuatkan grup khusus di whatsapp. Awalnya hanya untuk koordinasi, tapi setelah itu jadi keterusan, hehe. Saya pun mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan beberapa teman baru ketika malam apresiasinya. Hal semacam itu mungkin enggak akan saya dapatkan kalau saya enggak memberanikan diri untuk ikut lomba. Menang mah urusan kesekian deh, karena banyak hal positif yang bisa didapat dari mengikuti event lomba. 

Jadi bahan latihan untuk semakin luwes ngeblog

Dengan ikut lomba, kita akan merasa tertantang untuk terus memperbaiki tulisan kita. Percaya deh, kemampuan menulis itu ibarat latihan berenang. Semakin sering berenang, akan semakin jago kita di dalam air. Sama dengan menulis, semakin banyak kita "nyemplung", semakin baik juga kualitas tulisan kita. 

Saya pun merasa demikian, kalau baca tulisan-tulisan saya waktu awal ngeblog, kayaknya kaku banget! Tapi belakangan saya mulai merasa tulisan saya lebih mengalir dan enak dibaca (eh tapi ini apa perasaan saya saja yaa..  πŸ˜‚).

Sebagai pemula, mau ikut lomba mah sah-sah saja menurut saya. Toh caranya juga fair dan enggak ada yang melarang pemula untuk ikut lomba. Hanya memang kita perlu tahu kapasitas juga. Kalau saya, untuk lomba-lomba yang menuntut tingginya page view (biasanya yang punya tujuan promosi produk juga menurut saya), ya saya tahu diri lah... Hehe. Saya juga hanya mengikuti lomba yang sejalan dengan niche blog dan passion saya, tujuannya supaya tema blognya enggak campur aduk saja sih (walaupun sering kali ada saja godaan nulis di luar nicheπŸ™ˆ) .

Intinya, jangan takut mencoba ikut lomba. Perkara menang atau kalah enggak usah dipikirkan. Jadikan saja lomba sebagai sedikit pemantik adrenalin saat ngeblog (apaan sih?). Maksudnya supaya makin semangat ngeblognya gitu....

Selamat berburu dan mengikuti lomba ya! 

Komentar

  1. Waaah, mbak Cempaka makasiih tulisannya 😊. Jadi pengen nyoba ikut2 lomba juga aaah😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayu... Mbak Miranti. Aku merasa ikut lomba itu jadi media belajar banget loh. Kalau kata mentor nulisku, kalau mau pinter, no baper no minder. Ikut saja, menang atau kalah tetap happy :)

      Hapus
  2. Ikut lomba itu jadi motivasi juga ya kalo ga menang gitu jadi terpacu bawaannya justru ingin ikut lagi dan lagi..memperbaiki mana yg kurang pas hingga blm menang. Efeknya konten jd lbh bagus dan gaya penulisan membaik.. ini pengalaman pribadi sih hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak... Lomba jadi ajang belajar. Tapi kalau menang ya itu namanya bonus, hehe

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?