Langsung ke konten utama

TIPS BELANJA HEMAT ALA POSITIVE MOM

Sumber:Pixabay
Sudah tanggal tua nih Moms, bagaimana keuangan keluarga hari ini? Sering enggak sih merasa gaji setiap bulannya hanya numpang lewat saja. Sedih ya... Tapi mau bagaimana lagi? kebutuhan rumah tangga itu kan memang banyak sekali. 


Keluarga kami pun kadang mengalaminya, rasanya setiap bulan kok ada saja pengeluaran tambahan. Pengeluaran bukannya semakin bisa dikontrol malah jadi jebol. Padahal kalau dipikir-pikir setiap bulan kami sudah cukup berhemat, mengurangi makan di luar, mengurangi pembelian yang kurang berfaedah, pokoknya hanya membelanjakan uang untuk keperluan yang penting-penting saja. 

Tapi tahu nggak sih Moms kalau ternyata kebanyakan dari kita itu adalah pembeli yang impulsif! Rencananya cuma mau beli bahan-bahan basahan saja sama sayur-sayuran, eh... pulang-pulang malah beli segudang cemilan, sarung bantal sofa baru, sendok makan dan barang-barang lain yang nggak relevan. Yes! belanja itu memang harus pakai seni. Karena kalau kita enggak cermat, kita akan sulit untuk berhemat. 

Setiap bulan saya dan suami selalu me-review pengeluaran dan ternyata banyak sekali pengeluaran "tak kasat mata" alias pengeluaran yang sedikit-sedikit tapi kalau dikumpulin jadi bukit. Berapa kali dalam seminggu pergi ke minimarket atau warung sayur buat beli yang kurang-kurang. Ternyata kebiasaan semacam ini lumayan menggerus uang belanja setiap bulannya.

Akhirnya saya pun mencoba mengubah kebiasaan belanja keluarga. Setelah diterapkan beberapa bulan ini ternyata kelihatan hasilnya. Uang belanja bisa dialokasikan dengan baik dan yang terpenting keuangan keluarga pun enggak keteteran. Berikut ini adalah cara yang saya lakukan untuk cermat dalam berbelanja setiap bulannya

Alokasikan anggaran
Setiap saya menerima uang belanja dari suami, biasanya saya pecah lagi alokasi uang tersebut ke dalam kelompok-kelompok kebutuhan. Uang belanja bulanan tersebut saya kurangi dulu dengan pengeluaran rutin bulanan, misalnya pengeluaran untuk listrik, gas, uang keamanan dan sebagainya. Setelah dipotong semua pengeluaran rutin, baru deh ketemu berapa jumlah uang yang bisa dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Jumlah uang tersebut kemudian saya bagi empat minggu, dengan begitu saya tahu berapa banyak maksimal pengeluaran yang boleh dilakukan dalam seminggu belanja. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di tabel berikut ya Moms:
Jumlah di kotak merah adalah jumlah yang boleh dibelanjakan setiap minggunya

Disiplin dengan daftar belanja!
Nah... Bagian ini nih... Susah-susah gampang. Untuk membuat daftar belanja, saya kira semua Moms di sini pasti bisa. Tapi kalau disiplin dengan daftar belanja yang sudah dibuat, itu baru berat! 

Kalau saya biasanya benar-benar memastikan apa saja yang akan dibeli sebelum berangkat belanja. Saya sampai screening ke seluruh bagian rumah untuk memastikan apa yang sudah habis dan perlu dibeli. Hal ini untuk mengurangi risiko saya membeli secara impulsif. Pernah enggak Moms mengalami begini, 

"Eiy,  butuh beli garam, lupa belum dicatet. Sama sabun cuci piring juga, kayaknya tinggal sedikit... dan sebagainya"

Sadar-sadar, daftar belanjaan kita pun buyar semua. Gagal deh buat belanja cermat. Itu kenapa disiplin penting banget. Pokoknya cuma boleh beli apa yang ada di daftar, meskipun kelupaan sesuatu, berarti item itu harus dibeli di minggu berikutnya.

Membuat daftar belanja itu penting, tapi menaatinya lebih penting lagi (sumber gambar:Pixabay)

Beli produk dalam ukuran besar atau grosir. 
Membeli barang berukuran besar lumayan membantu loh Moms karena biasanya lebih murah, tapi... tantangannya justru saat penggunaan. Karena tahu ada banyak, biasanya kita cenderung boros dalam menggunakannya di rumah. Lalu menyiasatinya gimana? Pindahkan ke tempat-tempat berukuran lebih kecil. Misalnya Moms membeli karbol pel ukuran literan (saya lupa deh yang paling besar itu berapa liter, hehe), lalu pindahkan deh ke botol bekas yang ukurannya lebih kecil. Jadi yang Moms gunakan yang ada di botol kecil. Akan terasa bedanya ketika Moms menuang dari botol yang lebih kecil dengan yang ukurannya lebih besar, ketika menuang dari botol yang lebih kecil biasanya Moms cenderung lebih irit.

Hindari belanja ketika lapar
Sebuah riset yang dilakukan di University of Minnesota's Carlson School of Management menemukan bahwa lapar mendorong orang untuk membeli barang lebih banyak. Bukan hanya dalam membeli makanan, tapi juga barang-barang lainnya. Lapar membuat insting kita untuk mencari, mengambil alih dan mengonsumsi makanan, sehingga kita lebih impulsif dalam berbelanja. Tetapi ternyata dorongan tersebut enggak hanya dalam membeli makanan, insting mencari tersebut bisa menjalar dalam membeli barang lainnya. Jadi pastikan mengisi perut sebelum belanja ya Moms. 

Batasi waktu berbelanja
Ini cara yang cukup efektif untuk saya dan keluarga. Semakin lama kita berada di swalayan, semakin banyak yang kita beli. Saya sendiri lebih suka jika suami dan anak-anak menunggu sementara saya berkeliling belanja. Dengan begitu saya bisa gerak cepat dan segera menyelesaikan belanja saya. 

Saya juga lebih suka belanja dalam satu hari untuk keperluan seminggu. Menurut saya, cara begini lebih hemat dibanding sedikit-sedikit ke toko atau warung sayur. Karena setiap kita pergi belanja, pasti ada godaan untuk membeli hal lainnya. 

Punya uang banyak enggak menjamin cukup untul belanja setiap bulan. Itu karena semua bergantung pada seberapa cermat kita dalam menggunakannya. Syukur-syukur kalau ada sisa dan bisa ditabung, yang enggak boleh itu kalau sampai besar pasak dari pada tiang. Efeknya akan jadi seperti bola salju, setiap bulan kurang dan ditutupi di bulan berikutnya, terus begitu sampai enggak terasa outstanding-nya sudah banyak. Serem kan... Atau ada lagi yang di awal bulan bermewah-mewah, giliran sampai di akhir bulan makan pun diirit-irit. 

Kalau bisa makan enak setiap minggu, kenapa enggak kan? Memangnya bisa? Bisa... Asal tahu strateginya. Selamat mencoba ya Moms! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?