Langsung ke konten utama

[TIPS] JADI ORANG TUA ASYIK BUAT ANAK ERA DIGITAL

sumber: Pixabay

Istilah era digital, rasanya sudah tidak asing lagi bagi kita. Dengan kemajuan teknologi, dunia digital seakan jadi kebutuhan pokok layaknya makanan yang kita konsumsi setiap hari. Tak terkecuali anak-anak kita, mereka juga menjadi sangat lekat terhadap dunia digital. Dari survey yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika ditemukan bahwa 98 persen anak tahu tentang internet dan 79.5 persen diantaranya adalah pengguna internet. Angka yang sangat fantastis, meski saya sebenarnya tidak terlalu kaget. Mengingat di lingkungan sekitar saya saja, pengguna gadget usia dini itu buanyaaaak banget. Dari kelekatan anak dengan gadget dan dunia digital itulah kemudian lahir istilah anak era digital. Sebenarnya apa sih anak era digital itu? Bagaimana mendidik anak era digital?

Secara garis besar, anak era digital adalah anak-anak yang lekat dan sangat familiar dengan dunia digital bahkan sejak usia yang masih sangat dini. Teknologi memang seakan meringsek ke dalam keluarga kita, ya, Moms. Kita pun sebagai orang tua, mungkin sudah mengenalkan gadget pada anak sejak masih bayi. Aktivitas ber-gadget beragam. Namun, umumnya, sebagian besar anak usia dini mengenal gadget untuk media menonton video dan videocall. Sedangkan anak yang jauh lebih besar, memanfaatkan gadget untuk bermain game, selain juga untuk menonton video. 

Dengan pesatnya perkembangan teknologi, cara kita mendidik anak pun tidak lagi bisa sama seperti cara orang tua kita terdahulu. Anak era digital atau generasi digital native ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Setidaknya ada 8 (delapan) ciri anak era digital,yaitu:

Sumber: TemanTakita.com
Dengan kedelapan ciri tersebut, kita bisa melihat kalau cara mendidik yang sama tidak bisa kita terapkan lagi pada anak-anak kita. Dahulu, kita cenderung patuh dan manut dengan nasihat orang tua yang directive, sedang sekarang, anak-anak kita tidak mungkin diperlakukan dengan cara yang sama. Komunikasi harus dua arah dan jangan kaget jika anak jauh lebih kritis dibanding Anda saat seusianya dulu. 

Namun, secara fitrah, anak tetaplah seorang anak yang masih butuh perlindungan. Ada ciri yang kontras pada anak era digital, yaitu di satu sisi mereka tampak mandiri, kritis dan merdeka dalam berpikir, tapi di sisi lain, mereka juga rapuh, mudah galau dan terbawa arus tren. Lihat saja bagaimana challange dan tren mudah merebak di media sosial. Kebanyakan pelaku challange tersebut adalah anak-anak muda. Mengikuti tren tersebut bukan sekedar ingin ikut, tapi juga demi menjaga eksistensi di lingkungannya. Dengan begitu, orang tua seharusnya bisa mengambil tempat untuk menjadi sahabat anak yang bisa menjadi tempat berbagi. Bayangkan ketika Moms sudah jadi teman yang dipercaya anak. Tentunya semua hal akan ia ceritakan dan bagi, bahkan tanpa Anda tanya. Ketika anak lebih terbuka menceritakan permasalahannya, biasanya anak pun akan lebih open minded terhadap saran dan masukan Anda. 

Dalam mendidik anak era digital,  Moms tentu tidak dapat melakukannya seorang diri. Selain bersama suami, Moms perlu menggandeng pihak lain di lingkungan anak untuk menjadi partner Anda dalam mendidik. Berikut ini adalah pihak-pihak yang bisa Moms gandeng atau gali informasi tentang ananda:

Teman Bermain Anak

Sebagai orang tua, Moms tentunya perlu tahu anak bermain dengan siapa, latar belakang teman main anak seperti apa dan bagaimana orang tuanya. Tapi mengetahui hal-hal semacam itu ternyata tidak cukup lho Moms. Kita pun perlu "berteman" dengan temannya anak-anak. Bukan berarti kita jadi sok asyik dengan teman anak-anak kita sih, tapi kita berusaha untuk merangkul mereka. Sekali-sekali menunjukan rasa ingin tahu kita terhadap apa yang jadi kesukaan anak-anak kita itu boleh banget. Namun, kita memang perlu hati-hati menggunakan kalimat saat bertanya. Karena kalau kita salah bertanya, alih-alih mereka semangat bercerita, yang ada malah jadi menjauh karena merasa diintrogasi. 

Anak-anak kita adalah generasi milenial atau dikenal juga dengan generasi Y. Generasi milenial adalah anak-anak yang lahir pada awal 1980-an sampai tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Banyak yang menganggap generasi ini pemalas, narsis, dan suka sekali melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Akan tetapi, di sisi lain mereka memiliki sisi positif. Generasi milenial memiliki pikiran yang terbuka, pendukung kesetaraan hak, penuh rasa percaya diri dan mampu mengekspresikan perasaannya. Generasi ini juga dianggap lebih terbuka menerima ide-ide dan cara-cara hidup. Dengan demikian, pola komunikasi pada mereka juga harus dilakukan secara terbuka dan dua arah. Misalnya, dari pada bertanya, "Kalian main apa saja? " mending bertanya, "eh, itu gimana caranya supaya bisa unlock karakter baru di game (sebut nama gamenya)". Dengan begitu, tidak tampak Anda seperti "kepo" alias pingin tahu urusan orang saja. Anda justru tampak seperti memiliki minat yang sama dengan mereka. 

Caregiver Lainnya

Jika Moms mengasuh anak-anak langsung, Moms mungkin tidak perlu banyak khawatir. Tapi ada kalanya, kondisi membuat Moms harus menitipkan anak-anak pada orang lain, misalnya pada keluarga atau malah pengasuh. Moms pun harus kompak dengan orang tersebut. Karena tidak jarang, justru merekalah yang lebih banyak tahu tentang kegiatan anak-anak kita. Buka ruang komunikasi, sampaikan nilai-nilai kita dan jelaskan batasan apa yang boleh dan tak boleh dilakukan anak-anak kita. Beri penekanan untuk  mendidik anak dengan cinta. Hal itu dilakukan dalam rangka menyamakan frekwensi pengasuhan kita dengan orang tersebut. Salah satu tujuannya adalah agar tidak terjadi double standar, yang dapat membuat anak menjadi bingung. Dari pihak ini, Moms pun bisa memperoleh banyak informasi tentang anak ketika tidak sedang bersama Anda.

Guru

Guru adalah mitra Anda dalam mendidik anak di sekolah (sumber: Pixabay)

Saat sekolah, anak mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah dibandingkan dengan di rumah. Itu kenapa, memilih sekolah yang memiliki nilai yang sejalan dengan Anda sangatlah penting. Sekolah tidak hanya tempat menimba ilmu akademis tapi juga sebagai partner orang tua dalam pendidikan karakter anak. Hal utama yang harus dilakukan Moms adalah "menggandeng" guru, karena guru seperti wakil Anda di sekolah. Bangun kemitraan mendidik anak yang kompak dengan guru, maka Moms seperti memiliki "mata kedua" ketika anak di sekolah. 

Perangkat Sekolah

Selain guru, pihak lain yang harus Moms ajak bekerjasama adalah perangkat sekolah. Perangkat sekolah ini apa saja? Bisa satpam, penjaga sekolah bahkan tukang kantin. Bukan berarti menyuruh mereka memata-matai anak kita juga sih (which is enggak mungkin juga mereka mau), tapi kita bisa lho menggali informasi dari mereka. Misalnya tanya ke satpam, kalau pulang sekolah, anak-anak murid di sini pada langsung pulang enggak. Kalau enggak langsung pulang, mereka ngapain saja. Yakin deh... Biasanya mereka justru lebih tahu kegiatan siswa setelah jam pulang dibanding guru. Dengan bertanya ke mereka, kita jadi punya gambaran kan tentang lingkungan pergaulan anak. Setidaknya kita bisa mendapatkan gambaran besarnya. 

Kapan orang tua harus mewaspadai adanya masalah pada anak? 

Orang tua mana yang mau anaknya bermasalah. Tapi, seperti juga kita, orang dewasa, anak-anak juga kadang menghadapi masalahnya. Permasalahannya bisa beraneka ragam, mulai dari akademis sampai pergaulan. Sebagai orang tua, kita perlu untuk lebih peka terhadap kondisi anak-anak. Ketika anak mengalami masalah, biasanya mereka menunjukan beberapa tanda, seperti

Anak Menjadi Tertutup

Kalau anak Moms tiba-tiba jadi pendiam dan malas menceritakan kegiatannya, Anda mungkin perlu waspada Moms. Terkadang, banyak hal yang dialami oleh anak, tapi karena perasaan takut atau mungkin khawatir disebut cengeng, mereka memilih untuk diam. Bisa jadi, sikap seperti itu juga tumbuh dari kebiasaan kita sebagai orang tua yang reaktif ketika mendengar anak bermasalah. 

Anak Berbohong

Anak berbohong untuk menyembunyikan kesalahan atau masalahnya (sumber:Pixabay)

Selain tertutup, anak yang sedang mengalami masalah biasanya akan mencoba menutupi permasalahannya. Salah satunya dengan cara berbohong. Namun, dalam menangani anak berbohong, Moms pun harus hati-hati. Jangan membuat anak merasa diintrogasi apalagi membuatnya seperti pesakitan. Cobalah gali alasannya berbohong dan buat komunikasi sehalus mungkin agar tidak tampak menyalahkan dan mengintrogasi. 


Anak Menunjukan Perilaku yang Berbeda

Anak pendiam tidak selalu bermasalah juga sih Moms. Tapi ada anak yang tadinya pendiam, tiba-tiba berubah total menjadi sangat percaya diri dan periang. Kalau anak mengalami perubahan perilaku yang tiba-tiba dan drastis, Moms mungkin perlu mencari tahu penyebabnya. 

Anak Mudah Membantah

Selain berbohong, anak yang sedang mengalami masalah juga kerap membantah. Ketika mengalami masalah, anak cenderung akan mengalami stress dan mudah marah. Saat situasi seperti ini, Anda perlu melakukan pendekatan pada anak secara hati-hati dan sabar. Karena biasanya, anak yang dalam kondisi seperti ini sangat sulit untuk diberi nasihat dan masukan. Mulailah dengan mendengar dan mengobservasi, agar Moms dapat menilai situasi dan menentukan pendekatan terbaik bagi anak Anda. 

Bagaimana menjadi orang tua yang dapat menjadi sahabat dan dipercaya oleh anak? 

Kepercayaan anak tidak dibangun secara instan, tapi ditumbuhkan sedikit demi sedikit sepanjang hayat mereka. Bahkan dari usia anak yang sangat dini. Masalah pendidikan anak usia dini sering dialami orang tua yang memiliki pola pikir bahwa anak baik adalah anak yang selalu menurut. Padahal, anak adalah individu yang unik dan merdeka. Tentu saja mereka punya keinginan pribadi, yang mungkin tampak di mata kita seperti sebuah pembangkangan. Lalu, bagaimana menjadi orang tua yang bersahabat dan dapat dipercaya oleh anak? 

Membangun kepercayaan anak, agar menjadi orang tua yang bersahabat dengan anak (sumber: Pixabay)


Menjadi Orang Tua yang Positif

Pernah mendengar toxic parent? Orang tua yang senantiasa mengkritik anak dan membuat anak tidak betah berdekatan dengan orang tuanya. Orang tua pada umumnya tentu tidak mau jadi orang tua semacam ini. Tapi terkadang, tanpa kita sadari ternyata kita telah menjadi toxic parent. Penyebab utamanya bisa jadi karena espektasi orang tua pada anak tidak sesuai dengan kenyataan. Bagaimana pun juga, anak bukanlah tropi kebanggan. Anak tetap butuh dicintai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ubah komunikasi menjadi "bahasa cinta". Alih-alih mengkritik anak karena kekurangannya, lebih baik fokus membesarkan kelebihan dan potensi anak. 

Dengar! Dengar! Dengar!

Sering kali, sulitnya menjalin komunikasi orang tua dan anak karena kurangnya orang tua mendengar aspirasi dan perasaan anaknya. Saya bahkan sempat mendapat cerita dari salah satu teman yang hingga kini hubungannya dengan anak sangat tidak harmonis. Dari ceritanya, sama merasakan bahwa ada yang salah dengan pola komunikasi ibu dan anak ini. Sehingga di satu titik, sang anak pun berontak dan melepaskan kemarahan pada ibunya. Pola komunikasi seharusnya dilakukan secara dua arah. Namun, seringkali sebagai orang tua, kita merasa selalu ada di posisi yang benar dan paling tahu. Akhirnya kita justru abai dengan perasaan dan kebutuhan anak. Perbanyak mendengar, bukankah kita punya dua telinga dan satu mulut? Lalu, mengapa kita lebih sedikit mendengar dari pada berucap?

Ada di Saat Tersulit Anak

Salah satu cara untuk mengikat hati anak adalah dengan ada untuknya. Apalagi di saat kondisi yang tidak baik, misalnya saat anak sakit, menghadapi prestasi yang buruk dan sebagainya. "Ada" di sini bukan berarti selalu menjadi pihak yang menyelesaikan masalah anak, ya, Moms. Anak terkadang perlu belajar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Ada untuk anak di saat kondisi yang sulit, bisa dengan memberikan dukungan dan semangat, atau kembali lagi seperti poin sebelumnya, cukup dengarkan saja keluh kesah mereka!

Hargai Anak Sebagai Individu yang Unik dan Pasti Memiliki Kelebihan

Banyak orang tua yang beranggapan bahwa anak adalah pencapaian dirinya. Merasa bangga pada anak tentu boleh, merasa kecewa pun wajar. Tapi... sebagai orang tua kita harus sadar kalau anak itu juga manusia lho. Mereka punya kelebihan dan kekurangan. Mereka adalah anak-anak kita yang patut dicintai secara penuh, mau dalam kondisi baik ataupun buruk. Jangan deh sekalipun berkata ke anak, "Mama tuh sudah capek-capek membesarkan kamu dari kecil", well, kalimat semacam itu mungkin akan ditangkap anak dengan pikiran kalau dirinya adalah beban atau malah mungkin dia berpikir siapa juga yang mau dilahirin sama mama, nah lho! Setiap anak itu unik, jadi manusiakan anak-anak kita, bukan menjadikannya sebagai tropi prestasi orang tua.

Menasihati Dengan Contoh

Bayangkan bagaimana rasanya ketika Anda menyuruh anak untuk disiplin, rajin sholat lima waktu, atau makan yang banyak biar sehat, sementara Anda bangun kesiangan, sholat bolong-bolong dan makan selalu bersisa dan dibuang. Respect  dibangun dari integritas, dan sebagai orang tua, salah satu bentuk integritas adalah dengan sejalannya ucapan dan tindakan. Yakin deh Moms, ketika anak melihat kita sebagai individu yang keren karena perilaku kita, dengan sendirinya mereka akan ngefans pada orang tuanya. Tahukan apa yang akan dilakukan penggemar terhadap idolanya? Yup!  Dia akan mencontoh dan mendengar semua ucapan dan tindakan idolanya. So, jadilah idola untuk anak-anak kita!

Kepercayaan anak pada orang tua harus dibangun dan senantiasa dipupuk. Apalagi dengan karakter anak-anak zaman sekarang yang sangat berbeda dengan zaman kita. Sebagai orang tua, kita pun harus senantiasa update dengan perkembangan dunia anak-anak kita. Agar obrolan antara orang tua dan anak bisa satu frekwensi.

Teman terbaik anak seharusnya adalah orang tua. Ingatkah ketika fisik Moms dan ananda hanya berjarak seujung kuku jari ketika ia masih di dalam kandungan? Jadikan hati Anda dan ananda lebih dekat dari itu!

Komentar

  1. Bisa dicoba ini.

    Terima kasih sudah berbagi mbak 😘😘

    BalasHapus
  2. Yang lumayan menantang buat saya itu adalah dengar.
    Ampuuunnnn, anak saya laki, udah usia 8 tahun. tapi sekali mulutnya merepet, gaaakkk ada remnya, kuping emaknya sampai panas dingin dengernya.
    ngoceeehhhhh ajaaaa, alhasil semua-semuanya jadi telat.

    hadeeehhh wkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Ternyata anak laki juga seneng mgoceh ya? Saya kira yang bawel anak perempuan aja... X D

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENGENAL CHILD'S COMFORTER

Moms, adakah yang anaknya susah tidur kalau tidak memeluk selimut kesayangannya? Benda-benda seperti boneka, guling atau bantal, yang meski sudah kumal dan kotor tetap merajai tempat tidur buah hati. Beberapa anak bahkan sulit tidur jika tidak memegang bagian tubuh tertentu, seperti obrolan saya dengan tetangga sore ini yang menceritakan kalau anaknya tidak bisa tidur tanpa memegang leher Sang Bunda. Salah satu adik saya pun ketika kecil punya guling kesayangan, guling dengan kepala berbentuk beruang yang setiap tidur harus digesekan hidungnya ke hidung adik saya. Aneh ya? Tapi itulah kenyataannya. 
Beberapa anak menggunakan mekanisme ekternal untuk memberikan kenyamanan pada dirinya. Biasanya dengan menghisap jempol, memegang bagian tubuh tertentu atau memiliki benda kesayangan. Bahkan ada yang membawa benda kesayangannya kemanapun dia pergi.
Kenapa anak memiliki kebiasaan atau benda kesayangan yang tidak bisa lepas dari dirinya? 
Menurut Dr. Olwen Wilson, psikolog anak dari Royal Su…