Langsung ke konten utama

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD


Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas.

Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil?

Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya:
  1. Membantu si kecil memahami lingkungannya.
  2. Mendorong kemampuan kognitif dan problem solving
  3. Mengembangkan daya kreatifitas
  4. Melatih motorik 

Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms!

Bahan-bahan:


Kardus bekas
Kertas bekas
Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek)
Plastik pembungkus bekas
Spidol warna-warni
Gunting
Lem tembak
Rumput sintetis (atau bisa diganti kain sequint atau ampelas)
Kapas atau kain halus
Kain flanel
Alat jahit

Cara membuat:

  • Langkah pertama, kita buat dari yang paling mudah dulu, yaitu cakram warna. Cakram warna ini untuk melatih indera pengelihatan si kecil  sekaligus mengajarkan nama-nama warna. Moms, perlu membuat sebuah lingkaran di atas kertas bekas dengan diameter 10 centimeter.

  • Setelah itu bagi lingkaran menjadi enam bagian, lalu warnai dengan spidol.

  • Langkah kedua, adalah membuat kain kresek (apa ya istilahnya?😅). Itu loh... Kain yang berisi plastik sehingga berbunyi kalau diremas. Caranya mudah banget. Sediakan dua buah kain dan satu plastik pembungkus bekas (kalau saya dari bungkus makanan ringan). Potong dengan ukuran 15x10 centimeter. 

  • Kemudian, Moms cukup mempertemukan dua kain bagian baik, kemudian pada salah satu kain ditambahkan plastik pembungkus bekas, lalu jahit. Saat menjahit, sisakan satu bagian untuk membalik kain.

  • Setelah dibalik, tutup bagian yang masih terbuka dengan dijahit.

  • Langkah ketiga, membuat media peraba. Moms cukup memotong rumput sintetis dan kain flanel dengan ukuran 10x5 centimeter. Setelah itu, susun di atas alas yang terbuat dari kardus bekas dan tempelkan dengan lem. 
  • Untuk rumput sintetis dan kapas, Moms bisa menggantinya dengan benda lain yang mewakili permukaan kasar dan halus.
  • Lalu susun pula cakram warna dan kain kresek di atas alas kardus. Moms bisa menggunakan lem tembak atau double tape yang tebal.

  • Sensory board pun siap dimainkan bersama si kecil😉😊.

Gampang banget kan Moms buatnya? Ditambah Moms cukup menggunakan bahan-bahan dari barang bekas untuk membuatnya. Oiy, Kenapa saya menggunakan rumput sintetis? Karena si adik masih punya PR nih untuk lebih berani megang rumput. Entah kenapa, si adik tuh jijikan sama rumput. Itu kenapa, saya sedang melatih si adik untuk pelan-pelan mau menyentuh rumput, dengan dimulai dari memegang sedikit rumput sintetis di sensory board. Kalau Moms tidak ingin menggunakan rumput sintetis, silahkan menggunakan bahan lain yang lebih mudah diperoleh ya Moms. Selamat mencoba!😉

Komentar

  1. Wah, ide main si kecil nih. Terima kasih mbak

    BalasHapus
  2. kok keren banget sih bun? Aku contek ya, belum punya anak sih, tapi ke ponakan dulu deh bikin beginian, hihi. Ibunya kreatif banget, kalo yang males mah mending beli, wkwk. Makasih sharingnya bun, ijin bookmark!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Terima kasih semoga bisa jadi inspirasi yaa.... Ini juga biar semangat dan rajin, disharing hasilnya. Biar terus pingin bikin lagi,hehe

      Hapus
  3. Ide yang bagus buat mengisi waktu bersama anak. Bahannya juga mudah kecuali rumput sintetis. TFS ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rumput sintetisnya bisa diganti apa saja yang permukaannya kasar kayak ampelas misalnya. Ini pakai rumput sintetis karena kebetulan ada dan si adik jijikan sama rumput. Jadi sekalian ngajarin deh,hehe

      Hapus
  4. asyik ada ide permainan buat si kecil.
    Makasih ya

    BalasHapus
  5. Mainan sederhana yang kaya manfaat. Anak-anaknya pasti senang ibunya kreatif membuatkan mainan untuk mereka.

    BalasHapus
  6. Whuaaa asyik dapat tambahan ide main sama si kecil... Terima kasih mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo dipraktekin mbak... Hehe... Kembali kasih Moms :)

      Hapus
  7. Saya contek yah. Zril pasti juga suka. Ia masih usia setahun dan sudah banyak tingkah polahnya. Moga makin pintar saat main ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiin...Silahkan Moms... Semoga bermanfaat yah.... :)

      Hapus
  8. Kreatif sekali Mbak dirimu
    Terima kasih untuk ide DIY sensory boardnya ya. Ini bisa recycle dari barang di sekitar kita ya. Jadi hemat pastinya. Keep noted!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak... Hehe. Iya, idenya memang sesedikit mungkin pakai batang yang dibeli dan manfaatin barang2 yang ada di rumah... :)

      Hapus
  9. Telaten banget, Mbak. AKu paling salut sama ibu-ibu yang telaten kayak gini. Emang perlu sih, sensory board ini untuk balita. Tapi karena aku males, biasanya langsung tak ajak megang aja barang2 yang adadi rumah, wkwkwk. Ibu males jangan ditiru. Have fun sama si kecil yak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk... Kadang aku juga males mbak. Tp suka kabita, pingin bebikinan kalo ngeliat orang kok bisa prakarya sama anaknya. Jadi ikutan deh....

      Hapus
  10. Kreatif banget, Mom ^_^ mending bikin sendiri ya daripada beli ada yang harganya sampai jutaan. Kalau dulu Mukhlas bayi saya nggak kepikiran bikin kayak begini tapi saya dekatin aja barang-barang yang bisa melatih sensorynya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa juga memang mbak diajak pegang barang-barang disekitarnya. Tapi kalau saya bikin begini sekalian buat ngalihin perhatian kalau harus ngerjain hal lain sih... Lumayan sementara jadi sibuk teralihkan,hehe

      Hapus
  11. Ini kreatif banget, bener deh. Idenya saya tiru ya, soalnya anakku yang bungsu memang lagi aku stimulasi terus sensosiknya. Alhamdulillah, informasinya bermanfaat banget untuk emak-emak kayak sayaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan Moms... Semoga bermanfaat yah.... :)

      Hapus
  12. wa waaa anakku yang perempuan langsung pengen praktekkin ini mbaa, secara kalo hal-hal serba printilan dan kerajinan sukaaa bangettt. makasih infonya mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... Kalau anak perempuan memang biasanya suka ya prakarya begini. Semoga bisa jadi bahan seru-seruan bareng si kecil ya Moms.... :)

      Hapus
  13. super kreatif uey ini mah. Bisa jadi referensi bermain dengan anak yang edukatif dan tak perlu mahal-mahal ya, dari barang bekas yang ada di sekeliling kita aja udah jadi. Keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... Makasih mbak... Iya, memang idenya upcycling dari barang-barang bekas di rumah :)

      Hapus
  14. Itu khususnya situjukan untuk anak usia berapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bayi sih bun... Dari 4 bulanan sampai setahun masih bisa sih menurut saya. Anak saya 10 bulan, masih seneng mainin kayak gini,hehe

      Hapus
  15. Makasih sharingnya mbak...mau coba bikin juga ah....

    BalasHapus
  16. Xizixi
    Jadi inget zaman jd guru paud
    Tiap siang bikim ginian buat besok

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

5 KONTEN ANAK YANG TIDAK BOLEH DIUNGGAH DI MEDSOS

Di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti sedang heboh membahas tentang video seorang anak kecil yang sedang menonton video dengan konten dewasa di tempat umum.  Di video berdurasi kurang lebih 1 menit itu tampak seorang anak perempuan sedang memegang smartphone sambil menonton sebuah video.

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

[TIPS] MANAJEMEN WAKTU ALA EMAK REMPONG

Cuci baju belum, mandiin anak belum, setrikaan dari kemarin masih menumpuk dan sms dari customer yang order jilbab belum sempat dibalas. Terbayang enggak sih moms berapa banyak tugas yang harus moms lakukan setiap harinya. Rasanya 24 jam sehari seperti enggak cukup untuk menyelesaikannya.  Kesibukan sebagai emak memang enggak ada habisnya. Dari sebelum matahari terbit hingga tengah malam menjelang, sering kali emak masih sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Enggak perlu dibuat jadi stress ya moms, coba disyukuri saja karena semua pasti berbuah pahala. Tapi bagaimana ya supaya waktu dan tenaga kita bisa optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada?