Langsung ke konten utama

MENDAMBA CINTA AYAH: CATATAN ANAK SEORANG INTROVERT


Sebelum Dilan berjaya, generasi 90an pasti akrab dengan sosok cool  anak SMA yang tak banyak bicara. Ditambah pembawaan misterius karena kepribadiannya dan ketertarikan dengan dunia sastra. Yup! The one and only, He's Rangga. Sebagian besar perempuan pada zamannya mungkin membayangkan dirinya didekati oleh sosok seperti Rangga. Cool abis! 

Bagi saya, hidup di dunia nyata dengan sosok seperti Rangga tak seindah pengalaman Cinta di film AADC. Nope! I'm not talking about my hubby. Saya sedang membicarakan sosok ayah saya. Kepribadian beliau yang super pendiam membuat orang sulit menebak apa yang ia pikirkan. Jangan tanya orang lain, saya yang muncul karena perpaduan sel-nya dan sel ibu saya pun kurang paham. Dulu, beberapa teman saya bahkan enggan main ke rumah karena takut bertemu dengan ayah saya. Padahal ia tidak galak, hanya kurang ramah.

Saya pernah menghabiskan dua jam perjalanan di mobil bersama beliau tanpa mengobrol sedikit pun. Awkward? Bagi yang baru mengenalnya tentu ya, tapi bagi saya yang sudah seumur hidup mengenal beliau, tentu sudah biasa. Seingat saya,  juga nyaris tak ada kata-kata mesra antara ayah dan anak selama hubungan kami, apalagi peluk dan cium. Kalau pun adanya, rasanya amat jarang terjadi.

Di masa remaja, saya utarakan kalau saya merasa ada yang salah dalam hubungan kami, tidak ada afeksi, begitu kata saya. Bagaimana reaksi ayah? Tidak ada... Diam, tidak mengamini tapi marah pun tidak. Saya yang remaja mungkin belum punya rasa empati, bahwa tak semua orang dibekali dengan kemampuan mengekspresikan diri. 

Seiring dengan berjalannya waktu, saya lebih mengenal ayah saya. Saya sadar, ia juga punya emosi (ya iya lah...). Pertama kali saya melihat ayah saya menangis sesenggukan, layaknya anak kecil. Ketika tiga tahun lalu, mamah terbaring di ICU. Kami hampir kehilangan mamah. Serangan jantung, begitu cerita ayah. Ia bicara sambil terbata-bata. Saya tak pernah melihat ia begitu, seumur hidup saya. Dari situ saya belajar, menjadi introvert itu tidak dosa kan? Jadi, kita tidak bisa memaksakan orang yang kurang ekspresif untuk jadi seperti orang lain. Ia memang tidak mengungkapkannya, ia memang tak mesra, but for sure, ia menyayangi kami dengan sepenuh jiwa.

Meski saya besyukur memiliki suami yang lebih hangat dan ekspresif. Paling tidak, anak-anak saya akan lebih merasakan kehangatan dari cinta pertamanya. Cinta itu sepatutnya ditunjukan. Apalagi cinta antara anak dan orang tua. Bukan hanya dengan nafkah materi, kalau itu tentu sudah menjadi kewajiban yang hakiki. Tapi cinta yang mengisi jiwa, yang akan mengikat hati anak, yang membuatnya selalu menyimpan rindu untuk bertemu.

Bagaimana dengan saya?

Tentu saya menyayangi ayah saya. Dengan cara yang berbeda. Tidak bisa semesra orang kebanyakan, karena kami memang tidak terbiasa. Namun, jika boleh memilih, saya lebih suka ayah yang hangat dan mampu mengekspresikan rasa cinta. Dengan begitu, saya tidak akan bertanya-tanya, apakah ayah mencintai saya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENGENAL CHILD'S COMFORTER

Moms, adakah yang anaknya susah tidur kalau tidak memeluk selimut kesayangannya? Benda-benda seperti boneka, guling atau bantal, yang meski sudah kumal dan kotor tetap merajai tempat tidur buah hati. Beberapa anak bahkan sulit tidur jika tidak memegang bagian tubuh tertentu, seperti obrolan saya dengan tetangga sore ini yang menceritakan kalau anaknya tidak bisa tidur tanpa memegang leher Sang Bunda. Salah satu adik saya pun ketika kecil punya guling kesayangan, guling dengan kepala berbentuk beruang yang setiap tidur harus digesekan hidungnya ke hidung adik saya. Aneh ya? Tapi itulah kenyataannya. 
Beberapa anak menggunakan mekanisme ekternal untuk memberikan kenyamanan pada dirinya. Biasanya dengan menghisap jempol, memegang bagian tubuh tertentu atau memiliki benda kesayangan. Bahkan ada yang membawa benda kesayangannya kemanapun dia pergi.
Kenapa anak memiliki kebiasaan atau benda kesayangan yang tidak bisa lepas dari dirinya? 
Menurut Dr. Olwen Wilson, psikolog anak dari Royal Su…