Langsung ke konten utama

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA



Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?

Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan tanya deh rasanya, guaaaateeeeeel buanget! Plus sakit kalau sudah muncul lukanya. Saat itu, saya belum tahu itu penyakit apa. Sampai saya ditreatment dua dokter pun enggak sembuh. Tapi anehnya, sekitar setahun kemudian, penyakit kulit itu sembuh dengan sendirinya.

Kondisi kulit saya ketika sedang parah-parahnya. Kulit kering banget sampai susah menggerakan tangan. Kulit juga pecah-pecah dan meninggalkan luka berdarah

Pertengahan tahun kemarin, tiba-tiba penyakit itu muncul lagi. Saya diamkan, karena nanti juga hilang sendiri. Ternyata, semakin lama justru kondisinya semakin parah. Sampai saya kesulitan untuk beraktivitas. Kan saya emak-emak... Butuh bebersih dan cuci-cuci, tapi apa daya kalau baru kena air sedikit saja tangan rasanya sudah cenat-cenut tak karuan.

Akhirnya, saya pun ke dokter dan ketahuan lah kalau saya menderita dermatitis atopik. Kabar buruknya, karena penyakit ini genetis, dermatitis atopik pada orang dewasa tidak dapat sembuh. Tapi kabar baiknya, dengan perawatan yang baik dan menghindari pemicu, reaksi alergi pun dapat dihindari.


Penyebab Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik muncul karena reaksi akan zat tertentu yang enggak bisa ditolerir oleh tubuh. Pemicunya bisa dari dalam ataupun luar. Misalnya dari makanan, stress, udara atau produk yang mengenai kulit. Pemicu dermatitis atopik juga bisa lebih dari satu. Seperti saya yang rewel banget sama urusan sabun, debu, udara dan stres, tapi lucunya, saya cukup badak meskipun banyak mengonsumsi seafood.

Penderita dermatitis atopik memang biasanya sangat sensitif dengan bahan-bahan tertentu, khususnya kimia. Misalnya sodium lauryl sulfate (SLS) yang rata-rata terkandung dalam sabun mandi, fragrance atau pewangi dan alkohol. Thats why, saya tuh susaaaah banget cari produk kecantikan.


Mengatasi Dermatitis Atopik Pada Orang Dewasa

Meskipun enggak bisa sembuh, dermatitis atopik tetap bisa dicegah dan kita bisa kok hidup normal seperti yang lainnya,hehe... Asal penderita tetap menjaga dari hal-hal yang memicu munculnya reaksi alergi dan juga mengatur pola hidup. Selain itu, penderita dermatitis atopik juga harus memastikan kulitnya selalu lembab. Karena kulit yang kering lebih rentan dan sensitif.

Kalau dokter kulit saya menyarankan untuk mandi pakai sabun bayi, sering-sering pakai lotion dan menghindari sabun-sabunan kimia. Kebetulan banget saya tuh nemu video di youtube tentang produk-produk untuk kulit dermatitis atopik. Mangga disimak berikut ini ya Moms!


Kalau produk sensatia botanical dan lucas papaw, saya sudah coba pakai dan memang cukup membantu untuk meredakan kulit saya kalau lagi kumat. Tapi harganya memang agak lumayan, makanya kalau saya lagi bokek, biasanya saya sekalian pakai sabun mandinya anak-anak saja biar hemat,hehe #emakiritmodeon.

Pengobatan Dermatitis Atopik Pada Orang Dewasa

Rata-rata dermatitis atopik cenderung didiamkan oleh penderitanya. Tapi pada kasus tertentu penyakit ini cukup mengganggu, sehingga membutuhkan penanganan dari dokter. Kalau saya, dokter meresepkan salep racikan khusus untuk meredakan kondisi kulit saya. 

Obat-obatan yang diresepkan untuk penyakit dermatitis atopik saya

Kalau yang saya baca, salep pereda kulit pada penyakit dermatitis atopik biasanya mengandung steroid. Steroid adalah senyawa organik lemak steroltidak terhidrolisis yang didapat dari hasil reaksi penurunan dari terpena atau skualena. Masih bingung itu apa? Sama dong! Hehe... Intinya steroid itu punya efek samping juga ternyata, seperti muncul kemerahan pada kulit, iritasi dan peradangan serta kulit menipis. Itu kenapa salep seperti ini tidak boleh digunakan dalam jangka panjang.

Selain krim steroid, saya juga diresepkan obat minum seperti cetirizine dan lameson-4. Obat-obatan ini juga enggak bisa dikonsumsi dalam jangka panjang karena banyak efek sampingnya, mulai dari perubahan bentuk muka sampai serangan darah tinggi.

Kondisi kulit saya setelah diobati. Sudah mulai ada kemajuan tapi masih kering dan kasar, meskipun sudah enggak ada luka berdarah lagi

Lalu, apa yang dirasakan setelah pengobatan? Alhamdulillah kulit saya membaik sih, walaupun belum mulus kayak kulit bayi (ya kaliiii gitu). Tapi rasa gatalnya sudah hilang, luka-lukanya pun berangsur membaik dan kulitnya sudah enggak terlalu kering lagi. Terus saya kalau bersih-bersih gimana dong? Ya pakai sarung tangan. Ribet banget sih sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi kan, daripada tangannya sakit.

Jadi begitulah cerita saya yang sedang stuggling melawan dermatitis atopik (duh... Lebay). Semoga bisa membantu dan memberikan informasi ya!


Komentar

  1. Saya pikir kondisi seperti itu penyebabnya karena nggak tahan sabun cuci. Ternyata ada istilah medisnya ya. Di keluarga saya kadang kering gatal gitu, tapi nggak terlalu parah. Tapi kalau faktor genetik, ya cuma bisa jaga diri saja sih ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, enggak bisa sembuh. Kalau lagi enggak kambuh sih nyaman-nyaman aja kulitnya. Walaupun lebih sering kambuhnya daripada sembuhnya sih.... Heuheu :(

      Hapus
  2. Dulu ibu saya mengalami, pemicunya karena alergi sabun, tapi terus menjadi semacam eksim yang menahun. Lama sih pulihnya hingga kulit ibu mulus kembali..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak... Selama masih kontak dengan pemicunya, dia akan terus kambuh. Memang jadi harus ekstra hati-hati kalau pakai sabun

      Hapus
  3. Ternyata penyakit kulit seperti itu ada istilah medisnya ya Mbak, saya baru tahu namanya dermatitis atopik. Thanks for sharingnya mbak.

    BalasHapus
  4. Berarti untuk yang genetisnya gak ada riwayat dermatitis gak bakal kena ya mba ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang saya baca sih sebetulnya bisa kena mbak, tapi peluangnya lebih kecil dibandingkan dengan yang punya riwayat alergi. Orang yang kulitnya sensitif juga biasanya lebih rentan kena penyakit ini.

      Hapus
  5. Haloo Mbak...terima kasih sharingnya yang sangat bermanfaat ini. Kapan hari saya pernah baca tulisan ini, lalu lupa komen dan akhirnya ketemu lagi.
    Saya sering mengalami ini Mbak, tp baru tau istilah medisnya. Krn 2x berobat ke dokter di klinik cuma diksh tau kl saya alergi. Sama seperti Mbak, bisa separah itu kl lg parah2nya, sampai kesenggol sabun colek dikit aja rasa perih & gatalnya kebangetan :(
    Dan sy jg ada asma Mbak, jd berhubungan ya sm masalah kulit ini? Apa krn sama2 alergi ya?
    Saya hampir tiap tahun kambuh, biasanya awal sampai pertengahan tahun. Baru2 ini sy br sadar telapak tangan udh mulai mulus, semoga udh masuk fase sembuh :)
    Lucas papaw manjur ya Mbak? Noted lah, udh pengen coba tp maju mundur krn mahal haha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau asma, menurut dokter kulit saya itu kaitannya sama faktor risiko sih mbak. Jd orang yg punya asma lebih besar kemungkinannya kena alergi lainnya. Saya sdh mulai mereda sih karena rasanya sdh ketahuan pemicunya. Saya sekarang mandi pakai sabun bayi atau sabun yang enggak mengandung SLS. Biasanya sabun begini enggak terlalu berbusa. Terus kalau cuci2 jg pakai sarung tangan karet dan selalu pakai pelembap di tangan. Semenjak disiplin nerapin tiga hal itu, alhamdulillah sdh mulai jarang kambung sih

      Hapus
    2. Alhamdulillah Mbak kalau sdh berkurang kambuhnya... Iya saya juga sejak bbrp tahun ini mandi pakai sabun bayi, Alhamdulillah gak bikin kulit tangan perih. Kl dlu saya suka pakai sarung tangan malah pas tidur Mbak, biar gak kegaruk dan tambah luka, hehehe

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…