Langsung ke konten utama

ORANG TUA GENERASI Y: BENARKAH ORANG TUA YANG MANDIRI?


Disclaimer: Tulisan ini murni opini ya. Dengan berlandaskan pada pengalaman, pengamatan dan beberapa referensi yang pernah saya baca. Kalau ada perbedaan atau ketidaksesuaian, itu karena perbedaan cara pandang dan kebiasaan masing-masing individu.

Berapa banyak dari Moms yang ketika menikah mendapat petuah dan wejangan dari orang tua? Atau saat Moms pertama kali jadi orang tua, adakah saran yang diberikan oleh kakek atau neneknya si kecil?

Ketika saya pertama kali menikah dan menjadi orang tua, saya enggak pernah menerima saran. I was  totally blind, but thanks for the books and internet that save my life. Ya... Saya mempelajari semuanya dari buku dan  internet. Mulai dari bikin sambel, menangani anak demam sampai memenej keuangan. Bergabung ke komunitas-komunitas parenting, hingga baca-baca jurnal kesehatan saya lakukan. Semua saya cari dan temukan sendiri.

Secara mengejutkan, ternyata hal ini enggak hanya dialami oleh saya. Beberapa teman mengaku mengalami hal yang sama. Mereka bahkan lebih memilih untuk mengikuti panduan di internet dibandingkan dengan bertanya pada orang tua. Alasannya beragam, ada yang merasa metode jadul itu sudah enggak relevan dan ada juga yang menganggap metode yang dipraktikan orang terdahulu cenderung banyak salahnya atau ada juga ya karena memang enggak dikasih nasihat apa-apa sama orang tuanya.

KEMAJUAN TEKNOLOGI DAN GAP KOMUNIKASI

Saya enggak akan menyoroti atau membandingkan efektivitas antara metode lama dan metode anyar. Saya justru penasaran, apa ya yang menyebabkan orang tua generasi masa kini itu kesannya lebih mandiri dan enggak bergantung pada orang tuanya? Yang saya tahu, orang dulu sebelum melangkah ke kehidupan pernikahan dan menjadi orang tua biasanya mendapatkan banyak bekal informasi tentang kehidupan yang akan mereka arungi. 

"Jangan lupa pakai gurita habis melahirkan, biar peranakannya enggak turun"
"Kalau mau tebal rambutnya, kasih minyak kemiri"
"Jangan lupa, habis lahiran nanti anakmu dijemur" 
"Kamu sudah catat semua to resep dari ibu? Itu bisa buat menu makan suamimu buat seminggu"

Dan masih banyak lagi "bekal" yang diberikan orang tua pada anaknya. Namun, dengan kemajuan teknologi informasi sekarang ini, mendapatkan informasi semacam itu mungkin lebih mudah dari melakukan koprol (ya iyalah....). Cukup ketik di smartphone bahkan cukup menyebutkan info apa yang kita butuhkan dengan fitur voice. Cari resep makanan tinggal buka cookpad, cari informasi seputar anak tinggal cari-cari di forum orang tua, bahkan untuk masalah kesehatan, kita bisa mencari melalui aplikasi yang langsung tersambung ke dokter.

Kemudahan memperoleh informasi mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat orang tua zaman now jarang bertanya dan meminta saran pada orang tuanya (sumber gambar:Pexels)

Lebih jauh lagi, selain kemudahan yang diterima, beberapa orang menganggap, cara-cara yang diterapkan sebelumnya sudah terlalu usang untuk diterapkan saat ini. Mereka (dan saya juga), lebih percaya dengan apa yang dikatakan oleh internet daripada saran orang tua sendiri. So sad but true. Padahal informasi di internet itu kan sebetulnya liar banget. Ada satu informasi yang mengatakan jangan mandi saat terserang flu, tapi di situs lain justru ada yang menyebutkan sebaliknya. Lalu, kenapa internet lebih mudah dipercaya? 


Kalau saya pribadi, saya akui bahwa komunikasi saya dan orang tua enggak terlalu terjalin baik sedari kecil. Pengamatan saya di masa lalu juga mendapati bahwa seringkali intuisi mereka salah (because they are only human), sehingga saya merasa informasi yang orang tua saya berikan cenderung meragukan, kecuali jika argumen dan underlying-nya cukup kuat. 

Kurang lekatnya antara saya dan orang tua juga membuat saya merasa bisa menyelesaikan masalah sendiri. Padahal kenyataannya belum tentu juga. Terkadang saya juga menghadapi masalah yang enggak tahu harus dicari kemana solusinya. Tapi kenyataannya, gengsi saya lebih besar. Saya tetap menjadikan "minta tolong pada orang tua" sebagai opsi terakhir untuk menyelesaikan masalah saya.

JADI, MANA YANG LEBIH BAIK, ORTU GENERASI SEKARANG ATAU GENERASI SEBELUMNYA?

Bagi saya, keduanya susah untuk dibandingkan. Tentu saja karena kita hidup di zaman yang berbeda. Orang tua newbie zaman dulu, mungkin terkesan kurang mandiri dan bergantung pada orang tuanya. Tapi mau bagaimana lagi? Lah wong sumber informasinya memang terbatas kan? 


Lalu, apakah di zaman sekarang yang kaya dan mudah memperoleh informasi kondisinya lebih baik? Enggak juga. Ada banyak hal yang disampaikan oleh generasi terdahulu yang masih sangat relevan diterapkan sekarang. Misalnya dalam mengelola uang. Terus terang, saya masih konvensional banget. Nabung, nabung dan nabung, maka hidupmu akan lebih tenang di masa depan. Saya merasa, nasihat ini berguna banget (bagi saya) sekarang ini. Seenggaknya dengan pengelolaan uang jadul yang saya terapkan, saya dan keluarga bisa survive tanpa hutang (kecuali cicilan rumah ya,hehe). We spend what we have. Walaupun paksu pegang kartu kredit, kami enggak pernah mencicil dan menghabiskan uang melebihi budget kami.

KESIMPULANNYA APA YA BU?

Sebagai orang tua generasi Y, saya merasa cukup survive tanpa dukungan dari orang tua. Ini untuk perkara kehidupan rumah tangga dan anak-anak saya ya, bukan perkara saya pribadi. Untuk semua hal dalam hidup saya, orang tua tetaplah orang yang berjasa bagi kehidupan saya sampai saat ini. I give my respect, i give my love to them.

Sebisa mungkin, nenek dan kakek hanya dilibatkan untuk urusan yang menyenangkan saja. Jangan sampai mereka terbebani dan kepikiran dengan masalah yang kita hadapi (sumber gambar:Pexels)

Dari pengamatan saya, beberapa teman dan saudara pun bisa cukup luwes menjalani peran sebagai istri dan ibu bahkan di waktu-waktu awal menjalani peran mereka. Tapi... Ketika beberapa hambatan ditemui, seperti kesulitan menemukan mbak pengasuh, orang tua tetap jadi andalan untuk membantu menangani urusan anak. Jadi kesimpulannya, orang tua zaman now mungkin mandiri dalam hal mencari dan mendapatkan pengetahuan, tapi dalam praktiknya, bantuan dari orang tua tetap dibutuhkan.

Kalau saya pribadi, saya memang membatasi dan berusaha seminim mungkin untuk minta bantuan pada orang tua. Bukan karena enggak percaya sih, tapi lebih karena khawatir memberatkan mereka. Inginnya tuh, mereka santai-santai saja di kehidupan senja mereka. Jangan sampai ketenangan mereka terusik karena kepikiran sama masalah anak-anaknya. Kalau Moms termasuk tipe yang mana?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…