Langsung ke konten utama

BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI

Berdamai dengan diri sendiri membantu menyembuhkan luka. (Sumber gambar: Pexel.com)

Pernahkah Anda mengalami pengalaman yang mengganggu? Maksud saya adalah saking mengganggunya, pengalaman tersebut sampai mempengaruhi kehidupan Anda jangka panjang. Anda merasa terkungkung hingga merasa perlu berdamai dengan diri sendiri.

Ketika kecil, saya adalah anak yang kompetitif. Saya suka tampil di muka kelas, dengan sukarela menjadi pengurus kelas dan sering ditunjuk sebagai wakil sekolah. Bukan nyombong juga nih... Saya pun tak pernah absen mengisi peringkat tiga teratas. Intinya, pada dasarnya saya adalah anak yang cukup pede dan merasa punya modal untuk merasa pede.

Akan tetapi, semuanya berubah saat saya di bangku SD kelas V. Saya mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari oknum guru di sekolah saya. Guru tersebut menempeleng (mendorong kening hingga saya nyaris terjerembab) dan menyebut saya g*bl*k. Parahnya hal itu dilakukan di depan kelas saat jam pelajaran berlangsung. Alasannya karena saya mendapatkan nilai jelek di salah satu mata pelajaran muatan lokal. Seumur-umur orang tua saya tidak pernah memperlakukan saya demikian, jelas pengalaman tersebut menyisakan trauma bagi saya.

Saya tidak pernah mengatakan hal ini pada kedua orang tua saya. Karena sepemahaman saya kala itu, anak yang mengadu pada orang tua adalah anak yang cengeng. Saya pun menyimpan cerita kejadian tersebut dan melanjutkan hidup.

Saya kira saya sudah memaafkan guru tersebut dan berdamai dengan diri sendiri. Saya bahkan lupa wajah dan nama guru tersebut. Tapi ternyata ada bekas luka yang ditinggalkan, yang tanpa saya sadari terbawa di kehidupan saya tahun-tahun berikutnya.


Pada masa sekolah dan kuliah saya belum merasakan banyak masalah. Hingga akhirnya saya nyemplung ke dunia profesional, saya baru sadar, ada yang salah pada diri saya!

Saya menjadi orang yang sangat pencemas. Saking pencemasnya, seringkali produktifitas saya justru terganggu. Saya juga tidak pernah bisa presentasi di depan orang banyak. Seringkali saya panik luar biasa. Bukan sekadar berdebar-debar karena mau tampil, tapi benar-benar takut. Untuk presentasi di depan kelompok kecil saja saya tak berani. Sewaktu kuliah, saya sebenarnya juga banyak mendapatkan tugas presentasi, tetapi karena nyaris semua tugas adalah tugas kelompok, saya hampir tidak pernah presentasi sendiri di depan orang.

Di beberapa kesempatan saya diminta untuk presentasi dan hasilnya hampir selalu kacau. Tangan saya tremor, suara saya bergetar dan terbata-bata. Mungkin Anda akan berpikir, "Ah, itu mah cuma deg-degkan biasa. Semua orang juga begitu". Sayangnya tidak hanya itu yang saya rasakan. Saking saya takutnya bicara di depan orang banyak, saya hampir selalu pusing dan sakit perut hingga ingin muntah ketika harus bicara di depan publik.

Disamping saya kesulitan dalam publik speaking, saya pun tak suka jadi pusat perhatian. Bahkan untuk kesempatan informal sekalipun. Misalnya saat nama saya disebut dalam forum rapat. Padahal ya... Cuma disebut saja, enggak disuruh ngapa-ngapain juga. Tapi tetap saja, selalu ada efek fisiologis yang saya rasakan setiap perhatian tertuju pada saya. Rasanya ingin sekali ditelan bumi. Saya menjadi orang yang sangat pemalu dan penakut.

Titik Balik

Saat sekolah dan kuliah, saya tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi saya. Namun, saat saya akhirnya bekerja, saya merasa masalah saya ini sangat serius. Masalah saya ini tentu akan mengganggu pekerjaan saya.

Dilalahnya, saya kemudian mendapatkan pekerjaan di sebuah divisi training salah satu bank swasta. Ya Allah... Enggak berani ngomong di depan orang kok nekad banget menerima pekerjaan itu? Masalahnya, karena kondisi di kantor sebelumnya, saya merasa tidak punya pilihan lain selain pindah. Akhirnya saya pun menerima pekerjaan tersebut.

Di awal saya menjalani pekerjaan saya, pergi ke kantor bak sebuah siksaan.
Menunggu jadwal mengelola pelatihan seperti menunggu waktu eksekusi mati. Berlebihan? Mungkin, tapi itulah kenyataan yang saya rasakan.

Memilih bahagia dengan berdamai dengan diri sendiri. (sumber gambar:Pexel.com)


Namun, saya beruntung memiliki rekan kerja dan atasan yang sangat mendukung. Entah sebetulnya mereka tahu kondisi saya atau tidak, tapi saya merasa sering mendapatkan dukungan semangat dari mereka. Misalnya ketika saya kedapatan piket sebagai petugas doa pagi (kantor kami rutin mengadakan doa pagi sebelum jam kantor mulai), rekan saya sudah menyiapkan teks yang perlu saya baca atau memberi tahu saya jauh hari kapan saya akan kedapatan jadwal.

Atasan saya pun demikian, di awal saya pertama mengelola training, beliau selalu mendampingi saya. Beberapa kali beliau membesarkan rasa percaya diri saya di antara kolega bahkan klien. Seiring berjalannya waktu, kepercayaan diri saya pun lebih baik. Saya lebih mandiri. Saya pun mulai tahu cara mengalahkan rasa takut saya. Jika sebelumnya saya selalu menghindar untuk bicara di depan publik, kini saya berani mengajukan diri. 

Bukan berarti saya sudah cakap berbicara. Tidak, saya masih terbata-bata. Saya pun masih gemetar dan keringat dingin setiap berbicara di depan orang banyak. Tetapi saya coba sadari bahwa semua ketakutan itu hanya ada di dalam otak saya. Kenyataannya audience sangat menghargai saya, lalu apa yang perlu saya takutkan?

Belajar Memaafkan

Lalu, apa kabar dengan guru yang kasar pada saya? Saya kurang tahu dan tidak pernah mencari tahu. Saya hanya berharap ia memiliki kehidupan yang lebih baik. Kalau pun kini ia masih seorang guru, semoga ia sadar jika menjadi guru yang ditakuti bukanlah hal yang perlu dan memperlakukan anak murid dengan kasar bukanlah hal yang pantas.


Memaafkan adalah salah satu cara berdamai dengan diri sendiri dan melanjutkan hidup

Memaafkan ternyata juga membantu saya untuk move on. Kekurangan yang saya miliki bukanlah salah siapa-siapa. Bukan berarti saya melupakan apa yang dilakukan guru tersebut (karena susah juga sih), tapi saya memilih untuk memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri. Bukan untuknya tapi untuk saya sendiri. Saya menolak untuk terus terikat dengan kejadian tersebut. Saya membebaskan diri saya dari kemarahan. Hidup saya pun kembali berjalan.

Saya yang Sekarang

Meski sekarang saya sudah tidak bekerja kantoran, saya tetap mencoba untuk "menyembuhkan" diri saya. Entahlah, siapa yang tahu? Mungkin suatu saat ada kesempatan dimana saya harus berbicara di depan umum. Kini saya juga menjadi orang yang lebih santai. Saya tidak lagi memusingkan apa yang orang pikirkan tentang saya. Saya juga jauh lebih bahagia. Berdamai dengan diri sendiri benar-benar membantu saya melanjutkan hidup dengan lebih bahagia. :)



Komentar

  1. Semanhat terus kak. Saya sedang berjuang untuk menyembuhkan diri dari trauma masa lalu... yg hanya aku saja yang tahu. Tapi, aku percaya aku akan melalui proses ini. Butuh waktu emang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin... Semoga kita semua bisa move on dari masa lalu ya mbak. Tetap semangat! :)

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…