Langsung ke konten utama

TERINTIMIDASI DENGAN TEORI PENGASUHAN ANAK, PERLUKAH?


Akuilah bahwa mengasuh anak lebih banyak menggunakan rasa dan lebih sedikit menggunakan logika. Karena itulah mengasuh anak disebut dengan seni. Mengasuh menggunakan hati bukan hanya otak, maka tak perlu terintimidasi dengan teori-teori. Karena sesungguhnya teori pengasuhan anak hanya sekadar referensi, bukan untuk ditelan mati. Perlakukan anak lebih manusiawi dengan hati, bukan menjadi tropi untuk menunjukan prestasi.

Beberapa waktu lalu di grup Whatsapp emak-emak alumni kuliah saya terjadi diskusi yang cukup seru. Beberapa ibu curhat betapa mereka merasa terintimidasi dengan program salah satu komunitas yang dirasa terlalu idealis. Beberapa dari mereka merupakan anggota dari komunitas tersebut, namun justru merasa semakin enggak kompeten karena enggak bisa mengikuti program-program komunitas tersebut dengan baik.

Saya pun termasuk anggota komunitas tersebut dan mengakui kalau program komunitas tersebut memang cukup menantang untuk diikuti. Namun, saya tidak lantas berkecil hati dan beranggapan program dalam komunitas tersebut terlalu ideal. 

Menurut saya, komunitas berfungsi sebagai pendukung dan pengungat anggotanya. Adapun komunitas yang memberikan aturan ketat (misalnya dengan mengeluarkan anggota yang enggak mampu mengikuti program yang sudah disepakati) adalah bentuk upaya komunitas tersebut untuk serius menerapkan program dan aturan yang sudah mereka buat.

Program-program yang dibuat dalam komunitas kan dibentuk oleh anggotanya sendiri. Jadi, seharusnya program tersebut sudah menjadi kesepakatan bersama. Adapun anggota baru yang bergabung kemudian, tentu sudah paham konsekuensi dari bergabung dalam komunitas tersebut. Itu kenapa penting untuk mempelajari visi dan misi komunitas. Bukan sekadar bergabung tanpa tahu aktivitas dari komunitas yang diikuti.

Teori Pengasuhan Anak Sebagai Pendukung, Bukan Perundung.


Alasan utama para ibu tersebut justru merasa terintimidasi adalah karena mereka merasa pola asuh yang mereka terapkan ternyata jauh dari harapan, tidak sesuai dengan teori pengasuhan dan salah kaprah. Bagi saya, dalam mengasuh anak sebetulnya hanya ada satu kunci, bahagia. Dalam mengasuh anak, baik Anda dan buah hati harus merasa bahagia menjalaninya. Anda bahagia menjalani peran sebagai ibu dan buah hati Anda tentu saja harus bahagia dalam pengasuhan Anda.

Lalu, apa gunanya teori pengasuhan anak? Tentu saja ada. Teori pengasuhan anak membantu Anda untuk lebih terarah dalam mengasuh buah hati. Bukan hanya menggunakan intuisi, apalagi coba-coba. Namun yang perlu diingat adalah teori pengasuhan menurut para ahli tidak selalu dapat diterapkan secara sama. Banyak faktor yang membuat Anda harus melakukan penyesuaian.

Teori pengasuhan anak dibuat bukan untuk menyeragamkan cara mengasuh anak, tapi untuk menjadi referensi untuk cara mengasuh yang lebih terarah

Anda membesarkan anak manusia, bukan membuat robot. Menerapkan teori pengasuhan anak tidak sama dengan menerapkan teori matematis. Dalam mengasuh buah hati, kita semua tahu kalau teori pengasuhan sering kali tidak sesuai kenyataan. Maka tak perlu rungsing atau berkecil hati, ketika teori pengasuhan yang Anda ketahui ternyata tidak semudah itu diterapkan untuk mengasuh anak Anda.


Fleksibel Bukan Bodo Amat


Meskipun teori pengasuhan anak tidak bisa diterapkan secara ajeg, bukan berarti Anda bisa mengasuh secara serampangan. Anda perlu tahu dan membaca cara mengasuh yang ideal, lalu menyesuaikan yang ideal tersebut dengan kondisi keluarga Anda.

Dalam masyarakat tentu juga ada norma yang mengikat, bahkan Anda sendiri tentu punya nilai yang ingin diturunkan pada buah hati. Jadi, tujuan mengasuh anak Anda tetap perlu didefinisikan dengan jelas, sesuai dengan norma yang berlaku dan nilai Anda sebagai orang tua. Karena membesarkan anak tidak bisa dilakukan seperti mengalir dengan air.

Lalu, Apa yang Harus Saya Lakukan?

Terapkan teori pengasuhan anak secara fun. Karena pada dasarnya mengasuh anak adalah kegiatan yang menyenangkan

  • Jadilah orang tua terbaik dari versi Anda. Tidak perlu terintimidasi dengan teori-teori yang ada. Terapkan yang sesuai, sedang sisanya bisa Anda endapkan sebagai pengetahuan.
  • Fokuslah pada usaha terbaik demi kebahagiaan Anda dan keluarga. Lupakan omongan dan komentar orang. Mereka tidak tahu standar yang keluarga Anda miliki. Mereka pun belum tentu lebih baik dari Anda.
  • Tetap niatkan untuk memberikan usaha yang terbaik bagi keluarga Anda. Niat yang tulus dari diri Anda akan dapat dirasakan oleh anak-anak. Percayalah! Apa yang Anda perbuat dengan tulus ikhlas akan tampak bahkan tanpa Anda mengucapkannya.
  • Kebahagiaan Anda juga penting. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Anda dan ananda adalah manusia dan manusia tidaklah sempurna. Maka berhentilah berusaha menggapai kesempurnaan yang tidak mungkin Anda capai.
  • Manusiakan anak, karena mereka bukan tropi penghargaan. Secara tidak sadar, kebanyakan dari orang tua beranggapan bahwa anak harus berperilaku semestinya agar tidak membuat malu. Kalau sudah begitu, apa yang sebetulnya penting bagi kita sebagai orang tua, Kebahagiaan keluarga atau muka diri sendiri?


Intinya adalah jangan menelan mati teori pengasuhan anak, tetapi kita tetap perlu mencari tahu sebagai referensi. Tidak perlu terintimidasi saat Anda melihat orang tua lain tampak lebih cakap mengasuh anak. Karena Anda pun tak tahu, kalau mereka mungkin juga punya PR yang sedang mereka selesaikan. 

So, make parenting fun!

Komentar

  1. kalau saya sih , teori2 itu ssebagai masukan begitu juga anasehat dari orangtua, selebihnya aku modifikasi sesuai dg kebutuhan anak2aku, jadi gak terlalu persis sama yang ada di teori

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul! Kita membesarkan anak manusia, bukan robot ya Bun😆. Kalau terlalu saklek dengan teori bisa stres sendiri.

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…