Langsung ke konten utama

BAHU-MEMBAHU MEMBANGUN BUDAYA CINTA BUKU


Pagi tadi saya iseng mengajak kakak dan adik main ke Taman Sempur, Bogor. Tadinya saya hanya ingin mengajak anak-anak main di tempat terbuka, lalu saya teringat pernah membaca tentang KoLeCer (Kotak Literasi Cerdas) yang berada di taman ini. KoLeCer adalah sebuah kotak yang berisi berbagai koleksi buku untuk dinikmati para pengguna jalan dan pengguna taman secara bebas dan gratis. KoLeCer ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, pada bulan Desember 2018 lalu.

Koleksi KoLeCer ini cukup beragam, mulai dari buku anak sampai dewasa. Saya juga sempat melihat koleksi buku impor, lho! Buku-buku di KoLeCer ini sebagian adalah koleksi perpustakaan Kota Bogor, sedangkan sisanya merupakan donasi dari masyarakat.

Saya sempat mengobrol juga dengan petugas yang menjaga KoLeCer ini. Beliau bilang, setiap hari pengunjung bebas untuk membaca di tempat buku-buku yang ada di KoLeCer. Setiap hari sabtu, petugas dari perpustakaan Kota Bogor juga menyediakan lapak khusus yang berisi mainan dan buku-buku anak. Tujuannya untuk lebih menarik minat masyarakat. Kakak dan adik juga antusias ketika saya ajak mengeksplorasi lapak ini. Terlihat pula anak-anak yang datang silih berganti untuk membaca buku atau bermain. 

KoLeCer di Taman Sempur, Bogor

Ketika ditanya, petugas (yang lupa saya tanyakan namanya ini) sempat bercerita kalau pengunjung sebenarnya cukup antusias dengan keberadaan KoLeCer. Namun sayangnya tidak dibarengi dengan semangat untuk memelihara fasilitas yang telah disediakan pemerintah ini. Beberapa koleksi buku sempat hilang. Ada juga yang rusak karena basah terkena hujan. Ini terjadi karena buku tidak dikembalikan ke tempatnya semula setelah dibaca.

Menurut saya, antusiasme warga juga sebetulnya hanya mencakup kalangan tertentu saja, misalnya warga yang rumahnya dekat Taman Sempur. Hal ini diamini oleh petugas tersebut yang mengatakan bahwa jam operasi lapak setiap hari sabtu sebetulnya sampai dengan jam 15.00. Akan tetapi, sering kali sebelum hari menjelang siang, lapak sudah mulai sepi pengunjung.

Saya juga sempat mengamati lingkungan di sekitar KoLeCer berdiri. Sebetulnya banyak target-target potensial, seperti remaja-remaja yang sedang duduk sambil bersantai. Sayangnya, mereka lebih memilih untuk bermain ponsel dibandingkan memanfaatkan fasilitas membaca di KoLeCer. Hmm... Saya jadi berpikir, apa keberadaan KoLeCer ini tidak efektif dalam meningkatkan minat baca masyarakat, ya?

Benarkah Buku Berebut Cinta dengan Teknologi?

Menurut saya, rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sebenarnya disebabkan oleh berbagai faktor. Banyak yang berkata kalau kemajuan teknologi yang telah menggerus minat baca masyarakat di Indonesia. Namun, menurut pandang saya, keberadaan teknologi yang dianggap lebih mencuri perhatian sebenarnya hanya mengambil porsi kecil sebagai penyebab rendahnya minat baca di Indonesia.

Baca juga:MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

Faktor yang menurut saya lebih dominan menjadi penyumbang rendahnya minat baca masyarakat Indonesia justru akses terhadap buku dan kemampuan membaca masyarakat kita yang masih rendah. Hal ini diperkuat dengan kajian PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) yang menunjukan rendahnya kemampuan anak Indonesia untuk memahami bahan bacaan, yaitu hanya  sebesar 30 persen saja (Wahyuni, 2009). Lebih jauh lagi, penelitian yang dilakukan di sebuah kabupaten di Ciamis juga menunjukan bahwa sulitnya akses masyarakat terhadap taman baca dan tingkat pendidikan masyarakat yang rendah menjadi penyumbang rendahnya minat baca masyarakat daerah tersebut. (Munir & Hidayatullah,2019)

Budaya membaca juga tidak dibiasakan sejak dini. Sebagian besar anak Indonesia justru sudah lekat dengan gawai sejak dini. Kebiasaan membaca harusnya dipupuk sejak awal bukan serta merta muncul. Hal ini juga sempat disinggung oleh Ataliya Praratya Kamil, istri Gubernur Jawa Barat pada Festival Literasi 2019 beberapa waktu lalu yang saya kutip dari koran Kompas edisi Minggu, 21 April 2019.

Anak-anak gemar membaca bukan karena keturunan, tetapi karena melihat kebiasaan yang dilakukan orang tuanya

Artinya, kebiasaan membaca harus mulai ditumbuhkan sejak kanak-kanak melalui contoh dan pembiasaan dari orang tuanya. Bukan sebuah perilaku yang muncul secara instan.

Membaca adalah kebiasaan yang harus dipupuk sejak dini

Membaca adalah sebuah kegiatan yang kompleks, bukan hanya sekadar menyuarakan teks. Memahami konteks dan isi bacaan membutuhkan upaya yang lebih dibandingkan dengan mendengarkan. Itu yang menjadi alasan mengapa membaca membutuhkan banyak latihan. Orang yang tidak terbiasa membaca akan lebih kesulitan dalam memahami isi bacaan. Ketika pemahaman bahan bacaan rendah, maka minat terhadap bacaan pun menjadi rendah.

Disamping kemampuan membaca, akses masyarakat terhadap buku juga masih kurang. Harga buku yang kurang terjangkau masyarakat dan minimnya fasilitas membaca gratis bagi masyarakat bisa jadi merupakan penyebab. Beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menjangkau akses masyarakat terhadap buku, misalnya dengan memperbaiki fasilitas dan memperbanyak koleksi perpustakaan, membuat perpustakaan digital (ipusnas), juga menyediakan fasilitas seperti KoLeCer ini. Akan tetapi, kenapa ya, dengan banyaknya upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah ini, rasanya tetap masih belum maksimal menarik minat masyarakat Indonesia untuk gemar membaca?

Peran Serta Masyarakat untuk Membangun Budaya Literasi di Indonesia

Sedih, tapi begitulah adanya. Akar permasalahan minat baca di Indonesia bukan hanya sekadar penyediaan buku dan bahan bacaan. Akan tetapi, menjadikan aktivitas membaca itu sendiri menjadi sebuah budaya. Jika dilihat keseluruhan, permasalahan rendahnya minat baca adalah hal yang kompleks. Untuk menyelesaikannya tentu saja tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak yaitu pemerintah. Untuk dapat membangun budaya membaca, setiap bagian masyarakat perlu mengambil peran.

Lalu, apa saja yang bisa dilakukan masyarakat seperti kita untuk turut serta dalam membangun budaya membaca?


Bangun budaya membaca dari rumah.

Salah satu cara termudah untuk membangun budaya membaca di rumah adalah dengan membiasakan anak dengan buku sejak dini. Misalnya dengan membacakan cerita sejak dini, mengajak anak ke perpustakaan dan toko buku serta menyediakan bahan bacaan buku menarik yang sesuai dengan usia anak.

Mengajak anak ke perpustakaan merupakan salah satu cara membangun budaya membaca dari rumah

Selain membiasakan anak dengan kegiatan membaca, membatasi penggunaan gadget dan televisi juga dapat dilakukan untuk membangun budaya membaca. Biasakan anak untuk menjadikan buku sebagai hiburan. Kalau perlu, buat jadwal khusus 1-2 jam saja untuk menonton televisi, sedangkan sisanya anak bisa memanfaatkan waktu untuk bermain dan membaca.

Hal lainnya yang perlu dilakukan untuk membangun budaya membaca di rumah adalah menjadi tauladan. Bagaimana anak bisa suka dengan buku kalau orang tua terlihat lebih asyik dan sering bergawai?

Buat perpustakaan mini di daerah rumah

Jika punya koleksi buku, jangan disimpan sendiri. Bagikan ilmu dengan membuka perpustakaan mini. Perpustakaan sederhana bisa dibuka di garasi rumah. Pengunjung di sekitar rumah bisa datang dan baca di tempat.

Ketika saya kecil, saya dan kakak saya sempat membuat perpustakaan semacam ini di garasi rumah kami. Untuk menarik pengunjung, kami membuat flyer promosi buatan tangan dan disebar ke rumah-rumah. Agar pengunjung lebih tertarik lagi untuk datang, bisa juga, lho, dibuat acara kecil-kecilan, misalnya workshop membuat gelang manik-manik, acara dongeng anak atau permainan lainnya. Cukup dibuat sederhana untuk warga di sekitar rumah. Kalau bisa berkoordinasi dengan RT dan RW setempat mungkin bisa membuat acara yang lebih meriah lagi. Namun, kalau memang belum bisa bekerjasama dengan RT dan RW, minimal dengan membuka perpustakaan mini, kita bisa membantu pemerintah untuk menyediakan akses buku untuk masyarakat sekitar rumah kita.

Menyumbang buku yang sudah lama tidak kita baca.

Seringkali kita tidak membaca buku yang sama untuk kedua kalinya. Entah karena alasan bosan atau memang ceritanya yang tidak sesuai selera. Buku-buku semacam ini akan berakhir menjadi pajangan rak buku, sayang, kan?

Daripada hanya disimpan di rak buku, lebih baik buku tersebut disumbangkan agar bisa memberi manfaat bagi orang lain. Buku-buku tersebut bisa disumbangkan ke perpustakaan daerah, perpustakaan yang dikelola mandiri atau ke taman-taman baca. Kalau mau menyumbangkan buku ke taman baca di luar daerah, kita bisa melakukan pengiriman secara gratis melalui PT. POS Indonesia, lho! Silahkan tanya ke kantor POS terdekat, ya! Setahu saya PT POS menggratiskan pengiriman sumbangan buku ke taman baca pilihan setiap tanggal 17.

Mengampanyekan gemar membaca melalui media sosial.

Media sosial sebagai ajang eksis bisa jadi media untuk mengampanyekan budaya membaca. Saya sering mengulas buku yang telah saya baca di laman media sosial pribadi. Selain itu, kita juga bisa merekomendasikan buku-buku yang menurut kita bagus kepada lingkaran pertemanan di media sosial kita.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menebarkan "virus" membaca melalui media sosial adalah dengan memberikan rekomendasi buku

Dari hasil data yang dirilis pada bulan Januari 2019 oleh Wearesosial Hootsuite, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta orang, itu setara dengan 56% populasi di Indonesia! Bayangkan jangkauan yang bisa diakses ketika kita aktif mengampanyekan budaya membaca melalui media sosial. Harapannya, dengan kita menyebarluaskan kesenangan kita terhadap buku dan membaca, lingkaran pertemanan di media sosial kita pun akan turut tertular "virus" membaca.

Ramaikan Perpustakaan dan Taman Baca

Mulai sekarang, kalau "nongkrong" jangan hanya di cafe saja,hehe. Jadikan perpustakaan sebagai alternatif tempat untuk menghabiskan waktu luang. Nyatanya, saat ini banyak kegiatan seru yang bisa dilakukan di perpustakaan dan taman baca. Sayang kan, fasilitas yang sudah disediakan gratis tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Yuk, kita ramai-ramai datang ke perpustakaan dan taman baca!

Membangun budaya membaca di Indonesia adalah tugas kita bersama. Banyak yang bisa kita lakukan dari hal yang sederhana sampai hal yang besar upayanya. Saya yakin, deh, dengan upaya dan kerja keras kita bersama, Indonesia tidak akan lagi dipandang sebelah mata. Kelak kita akan mencapai titik dimana buku jadi "sarapan" dan "camilan" favorit masyarakatnya. Orang Indonesia pun akan melek literasi dan teredukasi.

Yuk, kita bahu-membahu mengambil bagian untuk mengenalkan budaya cinta buku!

#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga

Referensi:

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/02/08/berapa-pengguna-media-sosial-indonesia

https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/edukasi/read/2019/03/21/14590311/pt-pos-kembali-hadirkan-program-pengiriman-buku-gratis

https://kotabogor.go.id/index.php/show_post/detail/11231 (Dongkrak Minat Baca, Kolecer dan Candil Diluncurkan di Sempur)

Hidayatullah, Asep & Munir, Sirodjul. 2019. Peran Taman Bacaan Masyarakat (TBM) 
dalam Meningkatkan Minat dan Budaya Baca di Kabupaten Ciamis. Jurnal Literasi edisi April.  Vol 3 No 1, hal 23-29

Koran Kompas, edisi Minggu, 21 April 2019.

Wahyuni, Sri. 2009. Menumbuhkembangkan Minat Baca Menuju Masyarakat Literat. Diksi edisi Juli. Vol 16 No 2, hal 179-189

Komentar

  1. Halo Mom apa kabaf? Rasanya udah lama aku nggak berkunjung ke sini. Walau begitu, setiap berkunjung ke sini aku langsung tahu konten-konten yang di tulis di sini pasti befmanfaat ��. Ngomongin soal baca memang bkin kita sedih ya Mom. Udah minat baca anak2 indonesia rendah udah gitu dibarengin dengan rasa yang kurang mencintai buku karena ada yang sudah baca tapi bukunya nggak dirawat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bun... Sedih ya... :( semoga dengan kita semua ikut berperan serta menyebarkan virus cinta buku, kecintaan dan kesadaran masyarakat kita untuk lebih banyak membaca akan lebih tergugah ya....

      Hapus
  2. Mengenalkan buku dan membacakan buku pada anak harus dimulai sejak dini, ya kak. Biar anak-anak terbiasa membaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul... Karena kebiasaan membaca tidak bisa muncul secara instan.

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DI ERA DIGITAL

"Ma, aku mau nonton baby shark", rengek Syakira 

"Loh, masih pagi kok sudah mau nonton Youtube? Sarapan dulu dong!", ucap Mama

"Pokoknya maubaby shark! Maubaby shark!", Syakira semakin merengek. 

Situasi di atas sepertinya sangat familiar untuk orang tua zaman sekarang. Gawai menjadi alat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di era digital sekarang ini, gawai tidak hanya menjadi kebutuhan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan pengguna internet pada anak usia 10-14 tahun berjumlah 768 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit dan terbilang mengejutkan, karena pada usia tersebut anak sudah aktif menggunakan gawai. Dilansir dari www.vivanews.co.id, pengguna internet pada rentang usia tersebut rata-rata mengakses aplikasi video seperti Youtube. 
Kondisi tersebut menjadi memprihatinkan dikala minat baca masyarakat indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara…